
sudah hampir satu minggu Adnan pergi meninggalkan Aleyna, bahkan Aleyna sengaja mematikan ponsel nya agar Adnan kesusahan menghubungi Aleyna. mungkin saja hari pertama Adnan pergi Aleyna masih bisa menunggu sampai hari kedua dan hari-hari berikut nya, akan tetapi sudah hampir satu minggu Adnan tidak pulang juga mengingat Adnan sudah berjanji akan pulang minggu ini, tapi nyata nya ia sama sekali tidak menghubungi Aleyna.
sebenarnya kamu dimana sih Mas, sampai melupakan aku.
Meski dalam hati nya menyimpan rasa kesal tapi Aleyna masih memikirkan keadaan Adnan disana, sudah beberapa kali Aleyna menghubungi Rio namun Rio mengatakan Adnan tidak bisa pulang minggu ini.
Aleyna bingung, apa yang ia rasakan sebenarnya rasa rindu atau kah rasa kecewa karena semua nya menjadi satu.
mungkin saja Aleyna baru mengetahui kalau ternyata Adnan tidak seperti dulu lagi.
Adnan sekarang sudah sibuk dengan dunia nya, apalah kehadiran Aleyna kalau saja ia tidak bisa mengubah rasa ambisius Adnan terhadap pekerjaan nya.
Adnan memang tidak salah kalau ia sibuk bekerja, tapi apakah hidup nya ia habiskan hanya untuk bekerja saja?
sedangkan istri dan anak-anak nya mengharapkan kehadiran Adnan.
" Non, dari tadi Elea menangis " ucap Bi Nani yang menghampiri Aleyna yang tengah berdiri menatap langit
" Non... "
" Non ... "
Aleyna pun terkejut dengan kehadiran bi Nani yang secara tiba-tiba ada di belakang nya ntah Aleyna yang sedang melamun atau memang tidak mengetahui kedatangan nya.
" kenapa bi?" sahut Aleyna
" non elea menangis, saya sudah membujuk nya tapi dia masih menangis" ucap Bi Nani
Aleyna pun segera menghampiri Elea ke kamar , padahal kamar mereka sangat dekat tapi Aleyna malah sibuk dengan pikiran nya yang tertuju kepada Adnan.
" sayang, kamu kenapa nak ?" ucap Aleyna yang langsung menggendong Elea
" Bi, Elea badan nya panas!" sahut Aleyna sambil menggendong nya
" kalau gitu, kita bawa ke klinik terdekat saja non" sahut bi nani
dengan perasaan gugup, Aleyna langsung mengambil kunci mobil yang ada di nakas dekat tempat tidur nya, Ia menyuruh Bi Nani untuk menggendong Alvin karena ia tidak mungkin meninggalkan Alvin sendirian di rumah bahkan Alvin sendiri badan nya juga panas tapi dia tidak rewel seperti Elea.
" bi kok bisa dua-dua nya demam?" sahut Aleyna
" mungkin ada ikatan antara mereka non, biasa nya sih kalau anak kembar memang begini ." ucap Bi Nani .
sambil menggendong Elea, Aleyna pun berjalan menuju garasi mobil karena ia sangat khawatir padahal biasanya kalau Alvin dan Elea sakit, Adnan lah yang mengurus mereka tanpa perlu pergi ke klinik seperti ini.
Untung saja Aleyna memakai gendongan bayi agar ia lebih mudah menggendong Elea.
" bi, rumah sudah di kunci?" ucap Aleyna
" bibi sudah menyuruh pak yanto untuk menjaga rumah " sahut nya
Aleyna nampak kebingungan, ia tidak mungkin menggendong elea sambil mengendarai mobil namun disisi lain, Bi nani juga tidak bisa menggendong Alvin dan Elea bersamaan.
" Bi, bagaimana ini ?" ucap Aleyna merasa kebingungan
" biar bibi saja yang menggendong Elea dan Alvin " ucap nya
" yasudah bi, ayo !" ucap Aleyna
" sabar ya nak, momy jadi bingung" ucap Aleyna
ia langsung mengendarai mobil dengan sangat cepat namun hati-hati karena ia membawa kedua anak nya.
haruskah aku berjuang sendiri, mengurus anak-anak tanpa kehadiran mu.
Aleyna tak henti nya meneteskan air mata, apalagi di sepanjang jalan ia mendengarkan tangisan Elea dan Alvin pun ikut menangis juga sampai membuat Aleyna kebingungan ia sangat khawatir terhadap kedua anak nya.
" sabar sayang, sebentar lagi sampai kok" ucap Aleyna sambil fokus menyetir
" Non, sudah menghubungi Tuan Adnan?" ucap bi nani
" Tidak usah bi, dia tidak perduli dengan aku atau pun anak-anak. " ucap Aleyna sambil menyeka air mata nya
sabar sayang, kita berjuang bersama-sama .
Jalanan pun macet, sementara kedua anak Aleyna masih terus menangis karena badan nya memang panas. Bi nani sudah berusaha menghibur Elea dan Alvin tapi tetap saja mereka terus menangis sampai membuat Aleyna ikut menangis juga karena rasa cemas bercampur dengan rasa bingung, ia tidak tahu apa yang harus ia lakukan.
" sayang sabar jangan bikin momy kebingungan kayak gini" ucap Aleyna air mata nya tidak henti-henti nya menetes membasahi pipi nya
" kayak nya Alvin dan Elea membutuhkan tuan" ucap bi Nani
" bi, jangan katakan itu lagi" ucap Aleyna
****
tak lama mereka pun sampai di sebuah klinik milik keluarga Raden hanya berjarak sepuluh menit saja dari rumah kalau tidak macet sama sekali tapi kali ini mereka harus menempuh sampai setengah jam untuk sampai di klinik ini karena jalanan macet parah.
Aleyna pun memarkirkan mobil nya dan dia di sambut langsung oleh security di klinik itu, karena mereka sudah tahu kalau Aleyna adalah menantu dari Raden
" ada apa bu?" ucap perawat itu
perawat pun membawa Alvin dan Elea ke kamar ruangan khusus keluarga raden, mereka memang menyiapkan nya selain di rumah sakit atau di klinik terdekat mereka selalu menyiapkan ruangan khusus keluarga Raden.
" memang dokter Adnan kemana bu?" ucap resepsionis di klinik itu.
" ada tugas di luar kota ." jawab nya singkat
Aleyna pun segera menghampiri Elea dan Alvin ke ruangan pribadi keluarga raden karena ia ingin menemani mereka. dan di tangani langsung oleh dokter Tina selaku dokter khusus anak dan umum.
***
di sisi lain, Adnan memang sudah memesan tiket untuk pulang tapi ada kendala yang membuat Adnan tidak bisa pulang hari ini karena ada pemilihan dokter atau pun staff lain nya untuk menempati Raden kusuma hospital yang telah didirkan di Banjarmasin.
ntah, hari ini perasaan Adnan tidak enak karena ia susah sekali menghubungi Aleyna. karena nomor Aleyna sudah tidak aktif setelah Adnan memberitahu nya semalam kalau ia tidak akan pulang minggu ini.
Adnan memang sudah menduga Aleyna akan marah dengan nya, tapi disisi lain Adnan juga tidak bisa meninggalkan tanggung jawab nya.
" pak Adnan bagaimana anda sudah memilih staff dan jajaran dokter di rumah sakit ini ?" ucap Rio
" ntah lah, saya sedang tidak ingin memikirkan tentang itu. pikiran saya masih dengan istri dan anak-anak saya. " ucap Adnan sambil duduk menatap ke arah luar rumah sakit yang masih kosong
" kalau begitu, Apa anda mau saya menghubungi istri anda ?" ucap Rio
" tidak perlu, cari tahu saja keadaan mereka. " ucap Adnan karena ia sudah mencoba menghubungi Aleyna ternyata memang tidak aktif.
" Baik pak. Adnan" ucap nya
Rio pun pergi keluar untuk menelpon nomor rumah Aleyna tapi tetap saja tidak ada jawaban, lalu ia terus menghubungi namun tetap saja tidak ada jawaban atau pun yang mau mengangkat telepon di rumah Aleyna.
" maaf Pak Adnan, saya sudah berusaha menelpon ke rumah tapi tidak ada jawaban sama sekali, saya rasa istri anda tidak ada di rumah " ucap nya
sebenarnya apa yang terjadi dengan Aleyna dan anak-anak ku.
Adnan nampak gelisah, pikiran nya kacau di saat sedang merasakan situasi seperti ini kemampuan otak Adnan pun tidak dapat bekerja karena hati dan pikiran nya tertuju kepada keluarga nya dan ia tidak bisa fokus memikirkan hal lain.
" coba kau hubungi security rumah saya!" ucap Adnan
memang Adnan telah memasang telepon kabel di pos security untuk memantau keadaan rumah nya kalau saja terjadi apa-apa.
" baik pak, akan saya hubungi" ucap Rio yang kembali sibuk dengan telepon genggam nya
ia pun menelpon nomor telepon security untuk memastikan kalau keadaan keluarga Adnan baik-baik saja.
" halo, saya dengan Rio selaku asisten dari dokter Adnan" ucap Rio ketika tersambung dalam telepon nya.
" iya pak rio, ada yang bisa di bantu ?" ucap Yanto security di rumah Aleyna
" Bagaimana keadaan keluarga dokter Adnan di rumah ? karena kami sudah berusaha menelpon rumah tapi tidak ada jawaban sama sekali? apa Bu Aleyna dan kedua anak nya baik-baik saja?" ucap Rio lagi
" Bu Aleyna baru saja membawa tuan muda dan nona muda ke klinik terdekat karena mereka demam" ucap pak yanto.
" baik, terimakasih atas informasi nya" ucap Rio yang segera mematikan sambungan telepone nya.
Rio langsung bergegas menuju Adnan untuk membicarakan keadaan yang sebenarnya tentang kedua anak nya.
" Pak. Adnan, saya baru mendapatkan informasi kalau kedua anak anda sedang dibawa ke klinik terdekat oleh istri anda, karena mereka sakit" ucap Rio.
hati Adnan tersentuh ketika mendengar kalau kedua anak nya sedang sakit. dan ini sudah kedua kali nya Adnan tidak berada di samping Aleyna kalau saja kedua anak nya sedang sakit.
maafkan aku Aleyna, maafkan daddy juga Al dan El
Adnan menghela nafas sejenak, ia tidak mungkin berada jauh di saat keluarga kecil nya sedang membutuhkan kehadiran nya.
aku memang egois
Adnan langsung menyuruh Rio untuk mencarikan tiket pesawat menuju jakarta agar ia bisa pulang hari ini juga dan Adnan pun membatalkan perekrutan dokter dan staff untuk Raden kusuma Hospital hari ini karena keadaan yang tidak memungkinkan.
karena keluarga nya lebih penting dari segala nya.
" Tolong siapkan tiket pesawat untuk pulang hari ini juga " ucap Adnan dengan tegas
" tapi pak, saya rasa tidak ada jadwal penerbangan untuk siang ini ?" ucap Rio sambil melihat arloji yang melingkar di lengan nya.
" bagaimana bisa kau mengatakan tidak ada jadwal penerbangan sedangkan kau belum mencari nya !" ucap Adnan dengan penuh amarah
" baik pak, saya akan mencari nya." ucap Rio
" jangan kembali kalau kau belum mendapatkan tiket nya !" ucap Adnan lagi
Adnan ingin segera kembali berada dekat dengan keluarga kecil nya, dan ia benar-benar telah menyesal meninggalkan keluarga kecilnya. perasaan nya sangat khawatir sekali, ia mencoba menghubungi pihak klinik terdekat yang Aleyna kunjungi. untuk mengetahui keadaan anak nya karena ia memang menyimpan semua nomor rumah sakit ataupun klinik milik keluarga raden.
guys jangan lupa VOTE
LIKE DAN KOMEN
-