My Doctor Is My Husband

My Doctor Is My Husband
Makna cinta



Kelas X 2 melangsungkan perlombaan futsal antar kelas, yaitu mereka bertanding dengan kelas sebelah, mengingat hari ini ada jam kosong, Elea dan kedua sahabatnya sengaja menonton dari pinggir lapangan, Elea ingin menonton Rangga yang sedang bermain bola futsal, Elea juga sudah menyiapkan minuman khusus untuk Rangga, bukan hanya Elea saja akan tetapi Karin diam-diam juga sudah membeli minuman untuk Dylan,


memang kelas Elea sedang tanding dengan kelas nya Dylan, Karin masih malu-malu mengakui dirinya sudah memiliki perasaan terhadap Dylan. Padahal selama ini, Karin dan Dylan sering sekali bertemu dan berkencan.


" Tumben banget, beli minum?" ucap Elea yang menatap heran ke arah Karin.


" cuaca panas el, jadi apa aku salah membeli minuman seger kayak gini?" ucap Karin yang mencari beribu alasan.


" el, memang nya kamu tidak tahu kalau Karin lagi bucin banget sama dylan?" ucap Kiara sambil cengar-cengir ke arah Elea.


" jangan-jangan kalian sudah berpacaran sedangkan aku tidak tahu sama sekali?" ucap Elea yang meloyot ke arah Karin, namun karin langsung menutup mulut Elea dengan tangan nya.


" diam, nanti semua orang denger!" ucap Karin yang merasa malu.


" Yaelah, ngapain harus malu sih, lagi pula Dylan orang baik, tulus juga!" ucap Kiara yang memang sudah mengenal Dylan semenjak kecil.


" Ya bukan begitu, tapi aku......" belum selesai Karin berbicara tiba-tiba saja bola futsal jatuh menyentuh bahu Karin, sampai ia berteriak karena terkejut.


bola futsal itu jatuh tidak seberapa hanya sedikit saja mengenai bahu nya, namun Karin merasa terkejut ternyata yang melempar nya adalah Dylan.


Elea dan Kiara saling menatap, tak lama Dylan berlari dari tengah lapangan menuju ke arah Karin.


" kamu tidak apa-apa?" ucap Dylan yang langsung khawatir, Karin cemberut sambil melirik ke arah Kiara dan juga Elea. Karin merasa malu karena memakan omongan nya sendiri, ia dulu bersumpah serapah tidak akan mencintai Dylan namun kenyataannya berbanding kebalik, Karin justru mencintai Dylan.


" ciyeeee yang baru jadian....." ledek Elea sambil menatap ke arah Karin.


" Ihh diem el...." ucap Karin yang hendak memukul Elea karena salah tingkah, banyak sekali kakak kelas yang menatap mereka.


" Aku nggak apa-apa Dylan!" ucap Karin


" Kita ke Uks saja?" ajak Dylan yang menarik lengan Karin.


Namun Karin menolak nya, ia merasa tidak apa-apa, namun Dylan dengan keras kepala ingin mengajak Karin ke ruang UKS dan mengobati sedikit memar di lengan Karin.


" aku nggak apa-apa Dylan, kamu lanjutin main nya..." ucap Karin yang membelakangi Dylan.


tanpa berpikir panjang, Dylan langsung menggendong tubuh Karin dan membawanya ke UKS, Karin menjerit dan terkejut dengan tingkah Dylan namun Karin menyembunyikan senyuman nya, ia begitu bahagia. Sementara Kiara dan Elea menyoraki, dan mentertawakan Karin maupun Dylan.


" Jadi diam-diam Dylan perhatian juga!" ucap Elea sambil tertawa melihat keromantisan pasangan yang baru saja jadian.


" Kapan yah, aku bisa merasakan hal itu!" ucap Kiara yang menyembunyikan kesedihannya, ia tertawa demi terlihat tegar, padahal banyak sekali masalah yang kini menimpa nya.


" Ra, memang kamu tidak lihat bagaimana sikap kak Alvin ke kamu?" ucap Elea sambil berbisik ke arah Kiara. Kiara terkejut, padahal ia tidak berharap bisa dekat dengan Alvin, karena yang Kiara tahu Alvin tipe cowok cuek dan pendiam.


" Aku dan alvin biasa saja, bahkan aku tidak berharap lebih lagi pula kamu tahu, Alvin itu jutek banget!" ucap Kiara


" Tapi akhir-akhir ini, aku sering melihat kak Alvin melamun kadang-kadang, dia menanyakan hal tentang dirimu!" ucap Elea sambil memakan cemilan.


" apa benar yang dikatakan oleh Elea?"


Kiara langsung memikirkan ucapan Elea, ia juga memang bahagia bisa dekat dengan Alvin semenjak Alvin menolong nya, Kiara juga merasa nyaman bisa bertukar pikiran dengan Alvin.


" Masa sih? memang nya Alvin menanyakan tentang hal apa?" ucap Kiara yang merasa penasaran.


" kamu menyukai kak Alvin?" ucap Elea yang langsung menanyakan tentang hal itu.


" Siapa sih el yang tidak menyukai Alvin, dia itu pinter, banyak kan murid lain sampai kakak kelas yang mengejarnya, Aku nggak tahu diri deh kalau sampai berharap!" ucap Kiara yang mulai merendah.


" Ra, aku tahu bagaimana sikap kak Alvin, baru kali ini dia memikirkan seseorang sampai tidak bisa membuatnya tenang!" ucap Elea


" Aku nyaman berada dekat dengan Alvin, tapi el, aku belum yakin dengan perasaan Alvin, mungkin saja dia Iba dengan semua cerita kehidupanku, bukan karena dia suka sama aku!" ucap Kiara yang tetap keras kepala. dan tetap tidak percaya diri. karena Kiara jauh dari kata sempurna untuk bisa dekat dengan Alvin, kiara sadar diri.


" Ra, aku setuju kalau sampai Kak Alvin benar-benar jatuh cinta dengan mu!" ucap Elea sambil tersenyum.


" apaan sih el, aku malu!" ucap Kiara sambil tersipu malu, namun ia selalu memikirkan ucapan Elea. Seolah tidak yakin dengan dirinya, disisi lain ada keinginan dari Kiara untuk bisa berharap lebih dengan Alvin.


***


Setelah pertandingan selesai, Elea melambaikan tangan nya ke arah Rangga, untuk menandakan dirinya sedang menunggu seorang Rangga, Elea membawa minuman dingin, Rangga tersenyum ke arah Elea.


namun di sebelah kanan, Meghan justru berusaha untuk memanggil Rangga, ia juga sudah membawa minuman untuk Rangga. Rangga menatap ke arah Meghan, dan juga ke arah Elea.


Elea kesal dengan kehadiran Meghan yang berusaha memberikan perhatian kepada Rangga, Elea berbalik arah. Ia lebih memilih mundur karena ia menahan amarahnya, padahal Elea sudah menunggu satu jam lamanya pertandingan futsal hanya untuk Rangga.


Elea membelakangi Rangga, ia yakin pasti Meghan lah yang akan dipilih oleh Rangga.


Rangga menatap Elea , ia melihat ada kesedihan di wajah Elea karena Elea membelakangi Rangga, Rangga mengabaikan Meghan yang sedari tadi memanggil nya.


Rangga berlari dari tengah lapangan dengan sangat kencang untuk menyusul Elea, sementara Meghan marah dengan ulah Rangga yang lebih memilih Elea daripada dirinya, Meghan merasa kecewa. Tak ingin melihat keromantisan antara Rangga dan Elea, Meghan memilih pergi dan membuang minuman yang ia bawa ke dalam bak sampah.


Rangga berlari dan berdiri di belakang Elea.


" Cuacanya panas, nggak baik kalau kamu kepanasan!" ucap Rangga.


Elea tersenyum dan berbalik arah, namun ia memasang wajah cemberut ketika menatap Rangga.


" minum!" ucap Elea sambil memberikan minuman ke arah Rangga.


" Kamu nggak lihat, aku keringetan kayak gini?" ucap Rangga sambil memainkan kedua alis nya.


Memang wajah dan tubuh Rangga penuh dengan keringat, apalagi ia baru selesai bermain futsal.


" terus kenapa kalau keringetan!" ucap Elea dengan sangat ketus.


" loh, biasanya juga di elapin kek, masa pacar nya keringetan di cuekin?" ucap Rangga sambil meneguk minuman dari Elea.


" ternyata Rangga lebih memilih aku, dibandingkan meghan, bagus deh! biar si bule itu tahu diri, rangga itu milik aku!"


" Jadi kamu nggak mau nih?" Rayu Rangga sambil menatap Elea dengan wajah genit nya.


Elea hanya menggelengkan kepala nya saja sambil cemberut.


" Yaudah aku cari yang mau!" ucap Rangga yang hendak beranjak pergi, namun Elea menarik baju Rangga.


Elea mengeluarkan sapu tangan dari dalam tas nya, lalu mengelap wajah Rangga yang kini sedang berkeringat.


" Nah gitu dong, kan aku seneng lihat nya!" ucap Rangga yang merayu Elea.


Elea hanya tersenyum, sambil menatap wajah Rangga.


" Bisa nggak sih, nggak usah genit!" ucap Elea yang Mencubit hidung Rangga sampai hidung Rangga berwarna merah.


" Sakit sayang......" ucap Rangga sambil merintih dan tertawa.


" aku genit sama kamu doang! suerr!" ucap Rangga sambil membalas menggelitik Elea.


Elea pun tertawa dan menghindar ketika Rangga menggelitik tubuh nya, Elea tidak akan bisa menahan.


terkadang hal Sederhana seperti ini, yang Elea rindukan, Rangga selalu bisa membuatnya tertawa, menghiasi hari-hari Elea. Dan Rangga yang mampu merubah sikap nakal Elea. Meski belum sepenuhnya berubah.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


~ Eleanor