
Aleyna dan Adnan pun sudah sampai di kediaman Reyna, bahkan Reyna beserta Fandy menyambut kedatangan Adnan maupun Aleyna.
Rumah Reyna sekarang menjadi ramai dengan kedatangan keluarga Adnan yang begitu ramai.
" Silahkan masuk!" Ajak nya.
Reyna tak henti nya merangkul Aleyna dengan sangat erat bahkan sesekali ia mengecup pipi Aleyna. Rasa nya berat sekali berpisah dengan Aleyna, meskipun sementara.
" Jangan pernah melupakan aku" ucap Reyna sambil terisak.
" Rey aku baru datang loh? " ucap Aleyna sambil menghibur Reyna.
" Aley...." ucap Reyna sambil menyuruh Aleyna dan kedua anak nya duduk beserta Asisten nya, kecuali Adnan yang memang sudah di ajak Fandy untuk mengobrol masalah perkuliahan.
" Dokter Daniel sama Susan belum sampai ke sini?" tanya Aleyna
" Tidak tahu, kemarin sore Susan bilang ia dan Daniel akan datang, mungkin saja lagi di jalan" ucap Reyna
" Kita tunggu mereka saja. " ucap Aleyna sambil meneguk jus jeruk yang sudah di siapkan.
" Berat banget rasa nya Ley..." ucap Reyna begitu sedih
" Tidak apa-apa, demi suami kamu. lagian kamu tidak selamanya kan menetap di Australia?" ucap Aleyna
" Tapi, tetap saja aku tidak akan bisa kumpul seperti ini lagi" ucap nya.
" Tenang saja, mertua ku mempunyai jet pribadi jadi aku kapan saja bisa terbang ke Australia untuk menemui mu" ucap Aleyna sambil tertawa.
" Aleyna, jangan bercanda! " ucap Reyna yang tadi nya berkaca-kaca sekarang malah tersenyum karena omongan Aleyna.
" Yasudah lebih baik, kita tunggu kedatangan Susan." ucap Reyna.
sementara Daniel nampak sibuk, ia bahkan tidak bisa berpikir dengan jernih, karena melihat Susan yang dari tadi kontraksi, ia sudah menghubungi pihak rumah sakit untuk membawa mobil ambulance ke rumah nya, karena Susan akan melahirkan.
Sebelum nya, Daniel menghubungi Fandy karena tidak bisa datang untuk menghadiri pesta perpisahan yang di laksanakan di rumah Fandy dan Reyna karena sudah dari semalam Susan mengalami kontraksi.
Daniel pun sibuk menghubungi pihak rumah sakit untuk membawa Susan, apalagi dr. Edwin yang terus menghubungi Daniel. Memang ini pengalaman pertama Daniel, meskipun ia seorang Dokter tapi ada rasa cemas dan khawatir ketika melihat Susan yang sudah tidak tahan dengan kontraksi di perut nya.
Tak lama ibunda Daniel beserta kakak nya pun datang ke rumah Daniel.
" Bey, kamu harus kuat. " ucap Daniel sambil mengajak Susan beranjak.
" Susan yang kuat nak, jangan sampai terjadi apa-apa dengan cucu Mama. " ucap Mama mertua nya.
" Aku nggak kuat Kak Daniel, perut aku sakit banget. " ucap Susan sambil mencakar otot bisep Daniel dan menangis di pelukan Daniel.
Daniel sudah menghubungi orang tua Susan, namun mereka sedang berada di luar kota , karena sudah dua bulan ini orang tua Susan sibuk membangun bisnis kulinernya.
" Aku yakin kamu kuat, tunggu sebentar sayang." ucap Daniel sambil terus mengelus Susan dan mencium nya.
" Cepetan, aku sudah tidak tahan kak Daniel!" teriak Susan lagi.
" Kak, tolong siapkan mobil. kita bawa Susan ke rumah sakit sekarang juga. " ucap Daniel yang menyuruh Kakak nya.
" Mama tidak ingin terjadi apa-apa dengan Cucu Mama. " ucap Mama mertua nya.
" Kamu jangan manja gitu dong Susan. Baru kontraksi di awal saja, sudah merepotkan. " cerocos Mama mertua nya.
Daniel pun angkat bicara, ia bahkan tidak habis pikir dengan mulut Mama nya yang tidak bisa di jaga.
" Ma, jangan berbicara seperti itu. Susan mau melahirkan Ma" ucap Daniel sambil terus mengelus pucuk rambut Susan yang sudah basah akibat keringat.
" Kak Daniel, aku ngga kuat " ucap nya sambil terisak.
" Anak jaman sekarang, baru merasakan melahirkan saja sudah manja seperti itu." gerutu Mama Daniel.
Tak lama, Kak Tiara dan suami nya sudah datang menyiapkan mobil untuk berangkat ke rumah sakit.
" Daniel, ayo kita bawa Susan ke rumah sakit. " ucap Kak Tiara.
Daniel pun menggandeng Susan menuju mobil, dan sesekali ia terus membisikan doa untuk Susan dan anak yang ada di dalam kandungan nya.
" Aku tahu kamu wanita yang kuat, sabar istri ku." ucap Daniel sambil terus mencium dan mendampingi Susan.
" Jaga rumah ya Pak. " ucap Tiara sambil bergegas pergi masuk ke dalam mobil.
Tiara pun ikut merasakan bagaimana sakit nya ketika hendak melahirkan, untung saja ia tidak mengajak Kiara, karena Kiara sudah di jaga oleh asisten rumah tangga nya.
" Daniel kamu sudah menghubungi dokter Edwin?" tanya Tiara.
" Sudah kak, aku takut terjadi apa-apa dengan Susan. " ucap nya ketika melihat Susan sudah berlumuran air mata dan keringat.
Jalanan rupa nya sangat ramai sekali karena hari libur, banyak sekali yang keluar untuk sekedar menghabiskan waktu sampai jalanan begitu macet, sementara Susan masih tetap sama menahan rasa sakit dan mules di perutnya.
" Kak Daniel aku mau keluar. " ucap Susan karena sudah tidak tahan berada di dalam mobil sementara jalanan sangat macet.
" Susan, kamu tenang sebentar lagi kita sampai ke rumah sakit. " ucap Tiara mencoba menenangkan Susan
" Bey, sabar. sebentar lagi kita datang. " ucap Daniel.
" Kak Daniel , aku sudah tidak tahan. mengapa lama sekali, aaaaah...... " ucap Susan sambil merasakan sakit.
Yatuhan, sakit hati yang paling dalam adalah ketika melihat orang yang di sayangi, merasakan sakit.
" Sakit banget, Kak Daniel. " ucap nya sambil terisak.
" Kak, aku harus bagaimana?" tanya Daniel nampak bingung.
" Bersikap tenang, aku mohon. jangan membuat aku panik. " ucap Tiara sementara, Mama Daniel hanya diam mematung seolah tidak perduli dengan keadaan Susan.
" Ma, jangan diam saja. " ucap Daniel
" Terus Mama harus ngapain? nama nya melahirkan pasti akan seperti itu. " ucap nya.
Tak lama, mobil itupun melaju dengan kecepatan yang amat tinggi untuk sampai ke rumah sakit, karena Daniel tidak tega melihat Susan terbaring lemah dengan rasa sakit yang ia alami.
Tak menunggu waktu lama, Susan pun di bawa ke ruangan gawat darurat untuk segera di tangani, bersama dokter Edwin dan juga dokter Astri yang siap menangani Susan.
" Kak Daniel, jangan pergi. Temani aku di sini" ucap Susan
" Iya, aku akan menemani kamu." ucap Daniel sambil menghela nafas.
Berbagai alat pun sudah terpasang di tubuh Susan, setelah dokter Edwin memeriksa jalan keluar nya tubuh bayi yang ada di dalam kandungan tersebut.
" Tarik nafas, lalu hentakan" ucap dr. Edwin sambil terus menyuruh Susan
" Aaaaaah, aku nggak kuat. Kak Daniel ." Teriak Susan sambil menjambak rambut Daniel
" Sebentar lagi sayang, ayo " ucap Daniel sambil terus menyemangati Susan meski kini wajah dan otot lengan nya penuh dengan cakaran bekas tangan Susan.
" Sekali lagi ." ucap dr. Edwin menyuruh Susan untuk menarik nafas.
" Ahhhhhh.........."
Tak lama terdengar suara tangisan bayi laki-laki nan mungil, yang akan membuat Suasana hidup Daniel dan Susan menjadi lebih berwarna.
Susan pun terbaring lemah sementara Daniel mencium nya.
" Terimakasih istriku, kamu wanita kuat. Aku begitu sayang kepada mu. " ucap Daniel.
Tak lama Suster Indah pun datang, dengan membawa bayi mungil, yaitu putra pertama dari Daniel dan Susan.
" Bayi anda laki-laki dokter Daniel, sangat menggemaskan" ucap nya sambil memberikan bayi laki-laki tersebut ke pelukan Daniel.
" Sayang, anak kita manis. sama seperti aku" ucap Daniel.
" Dia manis, aku bahkan sangat menyayangi nya " ucap Susan sambil memberikan Asi pertama kali untuk Bayi nya.
" kamu sudah memberikan nama untuk bayi mungil ini?" ucap Susan
" Dylan Arvarendra " ucap Daniel sambil mencium anak laki-laki nya itu.
" Nama yang indah." ucap nya.
" Selamat datang ke dunia, Dylan Arvarendra. bayi mungil ku. " ucap Daniel.
Sementara Fandy pun segera bergegas memberitahu kabar baik tersebut setelah Daniel menghubungi nya, kalau Susan hendak melahirkan.
" Daniel mengabariku, kalau Susan telah melahirkan. " ucap Fandy yang membuat Aleyna dan Reyna begitu terkejut.
" Apa? beruang kutub. kamu tidak membohongi ku?" ucap nya.
" Tidak, karena aku mendapatkan kabar dari Daniel." ucap nya.
" Kalau begitu, kita pergi ke rumah sakit sekarang juga " ucap Aleyna yang mengajak Adnan.
" Aku ikut!" ucap Reyna.
Akhirnya mereka pun membawa satu mobil untuk pergi ke Rumah Sakit, sementara Mirna menjaga kedua anak kembar dari Adnan dan Aleyna yang sedang tertidur di rumah Reyna.
Mereka sudah tidak sabar melihat bayi mungil dari pasangan Daniel dan Susan.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Guys, author sudah up :)
jangan lupa like, komen, vote juga