
Bel pulang sekolah telah berbunyi, Alvin beserta Dylan menunggu Elea di depan gerbang sekolah, kebetulan Pak Anwar belum juga sampai untuk menjemput mereka, terkecuali Rangga karena Rangga membawa mobil sendiri.
Namun, sudah hampir dua puluh menit Elea belum juga keluar, terakhir ia mengatakan kalau ia pergi ke toilet, Alvin pun memutuskan untuk menunggu di depan gerbang sekolah.
Mobil rangga pun berhenti tepat di samping Alvin dan juga Dylan, mobil dengan jenis sport Ferrari 60 buatan Amerika berwarna biru dan dengan pintu terbuka.
Rangga menekan klakson, dan mengajak Alvin dan juga Dylan untuk ikut pulang, karena Rangga ingin mengantarkan Alvin dan Juga Dylan untuk pulang.
" Kalian sedang menunggu siapa?" tanya Rangga
" Menunggu elea..." ucap Dylan
" masuk lah, biar aku yang mengantarkan kalian. " ucap Rangga
" Tapi kita harus menunggu Elea, aku tidak ingin dia pulang sendiri. " ucap Alvin sambil terus menelpon Elea, namun Elea tidak mengangkat nya sama sekali.
Rangga pun memarkirkan kembali mobil nya, dan ia menghampiri Alvin dan juga Dylan. Kebetulan cuaca tidak terlalu panas.
" untuk apa menunggu wanita pecicilan itu. " ucap Rangga sambil tertawa, bahkan Rangga sempat mendengar kalau Juno akan mengantarkan Elea.
" Rangga, bagaimana pun Elea adalah saudara kembar ku, aku tidak ingin melihat dia menderita... " ucap Alvin.
" Dia tidak akan menderita karena tidak aku antarkan pulang, percuma juga vin kamu menunggu sampai larut malam juga, dia tidak akan pulang. " ucap Rangga.
Alvin nampak kesal dengan ucapan Rangga, bahkan ia sama sekali tidak merespon ucapan Rangga.
" Memang nya kamu tahu, dimana elea berada?" ucap Dylan begitu penasaran, seolah Rangga mengetahui semua nya.
" Bagaimana mungkin, kamu tidak tahu sama sekali, kamu sahabatnya kan?" ucap Rangga
" Katakan saja, jangan membuat ku kesal. " ucap Dylan yang mulai kesal dengan ucapan Rangga.
" Elea diantar pulang oleh kakak kelas bernama Juno. " ucap Rangga
Alvin pun membuka lebar kedua bola mata nya, bahkan ia sangat terkejut dengan ucapan Rangga, bagaimana mungkin Elea tidak mengabari Alvin mengenai hal ini.
Alvin tidak akan tinggal diam, apalagi Juno si kapten basket yang terkenal playboy dan sering gonta ganti pasangan, Alvin tidak akan membiarkan Elea jatuh cinta dengan lelaki yang tidak tepat, lelaki yang hanya akan menyakiti hati elea yang begitu polos.
" Di mana Elea sekarang?" ucap Alvin dengan wajah dingin nya, ntah Alvin berubah menjadi pemarah, apalagi mengenai adik nya.
" Aku tidak tahu, aku hanya mendengar itu. " ucap Rangga.
"Aku tidak akan membiarkan kamu, mendekati kakak kelas playboy itu, elea. "
Rangga bergumam, ia sebenarnya tidak tahu apa yang dia rasakan, akan tetapi Rangga ikut marah kalau Elea sedang bersama lelaki lain, padahal selama ini Rangga sangat tidak menyukai Elea sama sekali. Mungkin saja, hany perasaan khawatir dan takut Elea tersakiti?
Apa sepeduli itu Rangga terhadap Elea?
"Ah, wanita itu!
wanita yang selalu memenuhi otak dan pikiran ku. "
Alvin meraih kunci mobil Rangga, dengan amarah yang ia simpan, bahkan Rangga sempat khawatir, Rangga tidak mengetahui kalau Alvin bisa mengendarai mobil.
Padahal, Rangga tidak pernah melihat Alvin mengendarai mobil, begitu juga dengan Dylan bahkan ia sangat terkejut dengan kepintaran Alvin.
Dylan dan juga Rangga langsung naik ke dalam mobil, dengan perasaan was-was, Rangga dan juga Dylan sempat ketakutan apalagi Alvin dalam keadaan marah.
" Alvin, kamu tidak mengendarai mobil! biar aku saja yang bawa. " ucap Rangga yang duduk di depan bersama Alvin.
Alvin tidak merespon, bahkan ia hanya menahan amarah nya, sesekali ia menarik nafas untuk bisa mengendarai mobil sport ini.
" Vin, aku masih ingin hidup!" ucap Dylan yang duduk di bangku belakang
" Vin, jangan rampas masa depan ku" ucap Dylan sambil teriak.
Alvin menancap gas dengan sangat kencang, bahkan ini di luar dugaan Rangga maupun Dylan, untung saja mereka sudah memakai sabuk pengaman.
" Vin, aku mau turun saja. " ucap Dylan
" Berhenti Vin... "
Alvin mengendarai mobil sport milik rangga dengan kecepatan tinggi, bahkan seperti pembalap saja. Ia ingin mengejar Elea , ia takut Juno bersikap buruk terhadap saudara kembarnya itu.
" Darimana kamu bisa mengendarai mobil vin?" ucap Rangga begitu heran.
" Elea dalam bahaya.... " ucap Alvin sambil teriak ke arah Rangga.
" dari mana kau tahu, sedangkan kau tidak melihat nya sama sekali. " ucap Rangga begitu heran dengan sikap Alvin.
" Vin, awas mobil. " ucap Rangga sambil teriak dan menunjuk ke arah depan.
Ahhhhhh.....
ooooooo.... tidak......
Aaaaaaa........
Brukkkk......
Citt....cit....
Alvin langsung menekan rem dengan sangat cepat, bahkan mobil sport itu berputar akibat tancapan gas dan juga tekanan rem dengan sangat cepat.
Rangga dan juga Dylan tidak berani untuk membuka mata, ia bahkan berpikir kalau nyawa nya tidak akan tertolong lagi, setelah kejadian ini.
Mobil itu berhenti, dan Alvin masih terdiam sambil menarik nafas, ia melihat Rangga yang masih menutupi wajah ny dengan lengan nya dan juga Dylan yang menutupi wajah nya dengan mata yang terpejam.
" Tidak apa-apa.... " ucap Alvin dengan nafas yang tidak beraturan.
Rangga membuka mata dan juga Dylan yang sedikit demi sedikit membuka mata nya, mereka melirik ke arah Alvin dan juga ke arah depan.
"Aku masih hidup, aku masih hidup... " ucap Dylan yang begitu terkejut.
Rangga menarik kerah baju Alvin.
" Apa kamu bodoh melakukan hal ini, tanpa berpikir dua kali... " ucap Rangga sambil memaki maki Alvin.
Alvin hanya terdiam, ia mulai meredakan kembali emosi nya, padahal Alvin di kenal sebagai orang yang paling tenang dan juga pendiam bahkan jauh dari kata pemarah, tapi di saat ada orang lain yang ingin melukai Elea, atau pun menyakiti hati Elea, ia tidak akan tinggal diam bahkan ia bisa saja melakukan hal-hal bodoh di luar pikiran nya.
" Semua itu terjadi begitu saja, aku tidak tahu." ucap Alvin sambil memegang stir mobil. ia menundukkan kepala nya.
" Apa yang terjadi dengan mu Vin" Sahut Rangga yang begitu heran.
" Alvin memang seperti itu, kalau saja terjadi sesuatu kepada Elea, mungkin itu karena ada ikatan batin antara anak kembar. Aku tidak tahu" ucap Dylan yang begitu mengenal Alvin, karena sudah dari kecil mereka berteman.
" Aku tidak tahu, aku bisa melakukan hal yang aku sendiri belum pernah melakukan nya di saat aku sedang marah. " ucap Alvin yang nampak heran dengan dirinya sendiri.
" Kalau begitu kamu orang yang jenius vin!" ucap Rangga yang begitu heran.
" Bahkan Alvin bisa mengerjakan soal hitungan matematika hanya dalam sekejap." ucap Dylan
" Apa itu benar?" Ucap Rangga begitu heran
" Aku minta maaf karena telah membuat kalian panik dan juga ketakutan, kalau gitu siapkan diri kalian aku ingin segera sampai ke rumah untuk memastikan Elea baik-baik saja." ucap Alvin yang menenangkan kedua sahabat nya itu.
" Aku bahkan sekarang lebih takut dari sebelumnya. " sahut Rangga sambil menarik nafas ketika Alvin mulai menancap gas .
" Yatuhan, apa yang akan kamu lakukan Vin.." ucap Dylan yang begitu ketakutan.
Mobil sport berjenis ferarri 60 itu melaju dengan kecepatan tinggi menyusul mobil-mobil lain, apalagi Alvin sudah banyak mendengar kalau Juno bukan pria yang baik, apalagi juno pria nakal yang hobi nya pergi ke club malam, dan juga sering mabuk.
Alvin khawatir Elea akan menjadi korban nya, karena bagaimanapun Elea adalah adik nya yang harus ia lindungi, meskipun nyawa yang menjadi taruhannya.
Elea sangat berharga bagi Alvin, karena mereka sudah bersama ketika dalam perut maupun sampai sekarang.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Ciee abang Alvin memang mempunyai kepribadian yang berbeda, karena terlalu jenius.
Guys, jangan lupa Vote, like, dan komen. kalau kalian vote nya banyak author update nya banyak juga kan seimbang kan yah :)