My Doctor Is My Husband

My Doctor Is My Husband
Kehilangan



Adnan kehilangan calon anak kedua nya bersama Aleyna, ia menghampiri Aleyna setelah dokter Edwin menyuruh nya untuk masuk karena permintaan Aleyna lah. Ia ingin bertemu dengan Adnan.


Adnan segera mengusap wajah nya, agar tidak terlihat bersedih, ia tidak ingin menambah beban untuk Aleyna, cukup kali ini saja, ia ingin membahagiakan Aleyna.


" Istriku..... "


Adnan menghampiri Aleyna yang sedang berbaring, dengan selang infus yang masih menempel di lengan nya.


Ia langsung mencium kening Aleyna, dan memeluk nya.


" Mas, aku tidak bisa menyelamatkan calon anak kedua kita..... " isak tangis Aleyna ketika Adnan memeluk nya.


Adnan begitu terharu ketika mendengar ucapan Aleyna, tapi ia mencoba untuk tetap tegar karena ia tidak ingin membuat Aleyna nampak bersedih.


" Sayang, aku juga minta maaf karena akhir-akhir ini kamu terbebani dengan semua permasalahan keluarga ku. " ucap Adnan sambil mencium punggung tangan Aleyna dan menggenggam nya.


Aleyna masih terus menangis, ia belum bisa menerima ini semua.


" Aku tidak mau kehilangan calon anak kita Mas..... "


" Sabar sayang, ini semua musibah. tuhan mungkin lebih menyayangi calon anak kita." ucap Adnan sambil menenangkan Aleyna.


Tak lama Widya pun menghampiri Aleyna dan ia memeluk nya dengan sangat erat serta mencium nya, juga Venna dan Yudha yang datang ke rumah sakit untuk menjenguk anak perempuan nya.


" Nak, maafkan Bunda, kalau saja Bunda merahasiakan masalah ini sendiri, mungkin saja kamu tidak akan mengalami ini semua." ucap Widya sambil menangis


" Ini bukan karena bunda, tapi ini semua musibah." ucap Aleyna


Ia tidak ingin melihat Widya bersedih, apalagi Adnan yang merasa bersalah dengan ini semua, memang kejadian ini membuat Aleyna begitu shock, ia masih belum percaya bahkan di usia kandungan yang masih lima bulan, ia harus kehilangan calon anak kedua nya, sungguh menyakitkan bagi Aleyna. Ia memang belum bisa menerima ini semua tapi perlahan seiring berjalan nya waktu, Aleyna akan mencoba untuk menerima nya.


" Sayang, Mama dan Papa turut berduka, Maaf Mama baru datang menemui mu.... " ucap Venna langsung mencium Aleyna.


" Pah, Mah apa kejadian ini akan mampu membuat semua nya kembali? berkumpul bersama? tapi kenapa harus anak yang ada di dalam kandungan ku, yang jadi taruhan nya. dia masih sangat kecil, siapa yang akan mengurus nya nanti .... " ucap Aleyna ia menangis lagi.


" Siapa yang akan menemani dia di sana Ma...."


" Bagaimana kalau dia kedinginan Ma.... "


" Aku tidak bisa membayangkan itu semua Ma... "


" Sayang, kamu yang tabah Aleyna!"


" Mama Yakin, tuhan yang akan menjaga anak kamu, kita serahkan semua nya kepada nya"


" Tapi, Ma lebih baik Aleyna saja yang menemani dia.... "


Adnan tidak kuat melihat Aleyna menangis seperti ini, Ia semakin merasa bersalah. Ia langsung memeluk Aleyna dengan sangat erat, dan memberikan bahu nya untuk Aleyna bersandar. Adnan masih terus menenangkan Aleyna.


" Sayang tolong jangan berbicara seperti itu, bukan cuma kamu yang kehilangan tapi aku juga kehilangan.... " ucap Adnan sambil mengelus pucuk rambut Aleyna.


" Tapi Mas, kamu tidak akan pernah bisa merasakan nya seperti aku, bagaimana aku mengandung nya selama beberapa bulan ini lalu, dia hilang di saat aku begitu mengharapkan kehadiran nya.... "


" Kita tidak boleh menyalahkan takdir tuhan, ini semua sudah rencana tuhan, kita masih ada Alvin dan Elea yang harus kita jaga. " ucap Adnan


" Mas, aku..... " belum sempat berucap Aleyna pingsan, ia memang masih sangat lemah kondisi nya. ia pingsan di pelukan Adnan sampai semua orang begitu panik.


" Aleyna..... "


" Bangun sayang, jangan membuat aku khawatir.... "


" Nak, bangun Nak.... "


Adnan langsung membaringkan tubuh Aleyna, ia nampak begitu khawatir. Dan menyuruh keluarga untuk menunggu di luar, Adnan bahkan dengan telaten mengurus Aleyna, ia sudah menghubungi perawat untuk memanggil dokter Edwin.


" Bertahan demi aku sayang! Aku tidak ingin kehilangan kamu..... "


Tak lama dokter Edwin datang dan mengurus Aleyna.


" Istri anda begitu terpukul mendengar ini semua dokter Adnan, pastikan ia tidak memikirkan hal-hal yang mampu membuat kondisi nya lemah. " ucap dokter Edwin


" Aku bahkan sedang melewati masalah sulit, dan aku sendiri belum bisa menangani nya." ucap Adnan begitu sedih.


" Aku yakin semua nya akan segera selesai dokter Adnan. " ucap Dokter Edwin.


dengan di ajak oleh dokter Edwin, Adnan pun menguburkan calon bayi nya tersebut dengan diantar oleh Papah Mertua nya.


" Semoga tenang di alam sana Anak ku, Daddy akan selalu mendoakan kamu. "


Hari ini aku begitu kehilangan, kehilangan keceriaan di hidup Aleyna


Kehilangan Kamu, anak ku...


dan aku kehilangan keharmonisan antara ayah dan bunda ku.


mengapa semua nya begitu berubah, di saat aku telah menggapai semua nya. hari-hari yang begitu sulit ketika aku harus menjalani nya, dengan berpura-pura kuat demi memberikan semangat kepada orang-orang terdekatku.


Aku begitu lemah. tidak seperti orang lain yang melihatku begitu kuat.


-


Widya sangat merasa bersalah, ia bahkan keluar dari kamar rawat Aleyna dengan mata yang sembab karena ia tidak henti nya menangis, kemudian tiba-tiba saja Raden menghampiri Widya.


" Aku tahu, ini semua salah ku." ucap Raden sambil menghampiri Widya.


" Untuk apa kamu menemui ku lagi!" ucap Widya sambil menghapus air mata nya.


" Wi, kali ini saja tolong dengarkan penjelasan aku." ucap Raden


" Tidak ada yang perlu di jelaskan semua nya sudah jelas!" ucap Widya yang hendak kabur dari Raden, namun ia mencegah nya.


Raden menarik tangan Widya, ia tidak akan membiarkan masalah ini terus menerus berlanjut, ia ingin semua nya segera selesai agar tidak ada beban lagi di hidup nya.


" Ikut aku, Wi !" ucap Raden menarik tangan Widya


" Semua nya sudah selesai Raden!" ucap Widya sambil meronta


Raden pun membawa Widya ke kamar persalinan, di sana sudah ada Elisa yang tengah berbaring sambil menunggu Widya karena ini permintaan Elisa, ia ingin sekali bertemu dengan Widya.


Sebelum nya Raden sudah menjelaskan semua nya kepada Widya, ia menjelaskan bagaimana awal kejadian nya sampai ia bisa berpura- pura menikahi Widya.


Awal nya memang Widya tidak percaya dengan ini semua, tapi Raden akan mencoba untuk meyakinkan Widya.


" Bu Widya, tolong aku!" ucap Elisa dengan Nafas yang tidak beraturan.


Widya enggan menghampiri Elisa, namun Raden terus mendorong tubuh Widya sampai ia berdiri dekat dengan Elisa yang tengah berbaring.


" Bu, Aku minta maaf karena kehadiran ku, rumah tangga antara ibu dengan Pak dokter jadi berantakan, aku minta maaf bu Widya... " isak tangis Lisa sambil menahan sakit


Widya nampak terdiam, ia mengingat kembali cerita Raden tadi, ada perasaan ragu di hati Widya, tapi ia tidak tega melihat kondisi Lisa seperti ini. Bagaimana pun Widya perempuan, ia pernah mengalami sakit ketika melahirkan, meskipun nyata nya ia tidak bisa hamil lagi.


Elisa meraih tangan Raden, dan ia juga meraih tangan Widya, ia menyatukan tangan kedua nya, sambil menangis.


" Aku tahu, kalian masih saling mencintai. Mungkin kehadiran ku selama ini hanya lah boomerang bagi kehidupan kalian. "


" Aku bukan lah istri kedua Pak Raden, tapi dia hanya menolong ku, membiayai semua kehidupan ku. Kalau saja tidak ada Pak Raden mungkin aku akan mati kelaparan karena aku tidak memiliki siapa-siapa di dunia ini. "


" Lisa, jangan berkata seperti itu. " ucap Raden


" Ayah ku memang meminta Pak Raden untuk menikahi aku, karena aku tidak memiliki siapa-siapa, ia hanya ingin aku hidup bahagia di saat dia akan pergi jauh meninggalkan aku, nyata nya dia pergi untuk selama nya."


" Elisa.... " sahut Raden lagi


Widya nampak tersentuh, karena selama ini ia hanya salah paham dengan semua nya, tapi di sisi lain, Raden tidak pernah menjelaskan masalah ini semua kepada Widya dari awal sampai kejadian ini Raden simpan selama tiga tahun.


" Untuk apa kamu menyimpan rahasia ini selama tiga tahun Raden!" ucap Widya


" Karena aku tidak pernah menyangka akan sebesar ini masalah nya, aku memang salah Wi, aku harap kamu akan berubah pikiran setelah selesai mendengar ini semua, aku tidak ingin kehilangan kamu Wi... " ucap Raden


Elisa pun sesak nafas, ia memang mau melahirkan sebentar lagi.


Dokter kandungan pun sudah siap membawa Elisa ke ruang operasi, untuk melakukan persalinan.


" Berjanjilah pada ku, agar kalian bersatu kembali, Aku mohon.... " ucap Elisa sambil terus menahan sakit.


" Aku mohon Bu Widya..... "


" Maaf, kami harus membawa nya... "


Raden nampak khawatir dengan keadaan Elisa tapi di sisi lain, Ia juga harus menyelesaikan semua masalah nya dengan Widya.


" Kenapa kau tidak mengatakan itu semua dari awal ." ucap Widya sambil menangis


" Wi, maafkan aku..... " sahut Raden


" Karena masalah ini, aku kehilangan rasa percaya ku ke kamu, dan aku kehilangan cucu yang ada di kandungan Aleyna." ketus Widya.


" Wi, aku tahu aku salah, dan aku siap menerima resiko nya, yang terpenting aku sudah menjelaskan itu semua kepada mu Wi... " ucap Raden


" Semua itu sudah terlambat !" ucap Widya.


Namun, Tak lama dokter Astri menyuruh Widya untuk masuk ke ruangan persalinan.


" Bu Widya, pasien ingin bertemu dengan mu!" ucap perawat yang menyuruh Widya masuk ke kamar Elisa


Namun, bukan bertemu dengan Elisa melainkan Widya bertemu dengan dokter Astri.


" Bu, saya hanya menyampaikan pesan saja bu... " ucap dokter Astri.


" Pesan apa Dok?" ucap Widya merasa heran.


" Kami tidak bisa menyelamatkan Elisa, sementara Bayi nya selamat. " ucap nya


Hati Widya begitu tersentuh ketika dokter Astri mengatakan kalau Elisa tidak terselamatkan.


Baru sekitar satu jam yang lalu ia dan Elisa berbicara satu sama lain, tapi ia mendapatkan kabar kalau Elisa telah meninggal.


Tak lama Raden datang dengan membawa bayi perempuan, dan ia menangis.


" Aku bahkan iba melihat bayi mungil yang lahir tanpa seorang ibu atau pun seorang ayah." ucap Raden sambil menangis


Widya menghampiri Raden, ia beralih menggendong bayi mungil itu.


" Bu Elisa berpesan agar Pak Raden dan Bu Widya mau menjaga nya... " ucap Dokter Astri.


" Saya mau menjaga bayi mungil ini!" ucap Widya yang membuat Raden terkejut


" Kamu sungguh ingin menjaga bayi mungil ini?" ucap Raden


" Bagaimana pun Bayi ini tidak bersalah, dan aku akan memenuhi pesan Elisa." ucap Widya


" Kita akan bersatu kembali?" tanya Raden


" Aku masih belum bisa memikirkan nya. " ucap Widya yang langsung menghampiri jenazah Elisa.


Widya pun berbisik kepada Elisa. kalau ia akan menjaga bayi mungil nya.


" Maafkan aku Elisa, karena aku tidak bisa menjaga mu.... " ucap Raden sambil berbisik


Jenazah Lisa pun telah di makamkan dengan di hadiri oleh Raden dan Widya.


Memang kejadian ini mampu membuat semua nya berantakan, kejujuran dan saling terbuka lah yang akan menjadi kunci utama keutuhan rumah tangga, dan saling komunikasi lah antara suami maupun istri, luangkan waktu sejenak, agar semua nya bisa saling memahami.


Jangan lari dari masalah, karena semua nya akan sia-sia. Kesibukan masing-masing pun akan menjadi penyebab runtuh nya rumah tangga.


**Catatan :


Maaf baru update, maaf juga kalau cerita nya semakin rumit karena mau menuju akhir.


Jangan lupa Vote nya dong biar semangat author nya**.