My Doctor Is My Husband

My Doctor Is My Husband
gadis yang malang



Mendengar pengakuan Rangga, dokter Fandy maupun Reyna begitu terkejut, salah satu alasan terbesar Rangga tidak ingin kembali ke Sidney adalah Elea.


Dokter Fandy bahkan tidak bisa memaksa Rangga lagi, kalau memang Elea adalah alasan utama nya.


Dokter Fandy menghubungi dokter Adnan, ia ingin membicarakan sesuatu tentang kedua anak nya. Dokter Fandy juga mengatakan akan datang bertamu ke rumah dokter Adnan dan ia melarang Elea untuk pergi, karena Dokter Fandy dan juga Reyna beserta Rangga akan datang menemui Elea.


Dokter Adnan merasa heran, untung saja hari ini jadwal nya untuk libur jadi dia memang sedang menikmati hari libur nya di rumah, Dokter Fandy tidak mengatakan apa-apa hanya hal penting yang ingin mereka bicarakan mengenai Rangga.


" Pa, aku tidak menyangka. rangga akan mencintai Elea?" Ucap Reyna sambil bersandar di bahu dokter Fandy.


" Rangga sudah besar, dan aku bangga karena Elea wanita yang dia sukai!" Ucap Dokter Fandy.


" nanti bagaimana reaksi Aleyna, aku tidak bisa membayangkan nya!" Ucap Reyna sambil tertawa cekikikan.


" Aku yakin mereka terkejut!" Ucap Fandy


" Hari ini jangan biarkan Rangga pergi!" Ucap Dokter Fandy


" Aku pastikan Rangga tidak akan pergi Papa beruang...." Sahut Reyna.


Dokter Fandy mengurungkan niatnya untuk berkunjung langsung ke rumah dokter Adnan, namun ia sudah memesan Restoran bintang lima di salah satu kota, Restoran favorite mereka dari dulu hingga elit seperti sekarang.


Rencana perjodohan memang sudah di atur oleh dokter Fandy, dulu dokter Fandy bahkan bercanda untuk menjodohkan Elea dan juga Rangga, namun pada akhirnya mereka bersatu dengan sendirinya.


Rasanya memang aneh, apalagi mereka tidak pernah akur ketika pertama kali bertemu.


***


Rencananya hari ini Rangga akan mengajak Elea untuk bertemu di tepi danau kota, ada yang ingin Rangga sampaikan dan ia sudah menjanjikan tempat untuk Elea, ia sudah rapih dengan balutan celane panjang berwarna abu abu dan baju nya, Rangga terlihat tampan lebih dari sebelum nya. wajah nya begitu berbinar, ia tersenyum menatap cermin.


Kali pertama ia bertemu lagi dengan Elea setelah beberapa hari saling terdiam, rasa rindu yang begitu kuat sampai membuat Rangga lelah terus menerus memikirkan Elea.


" Aku datang menemuimu elea, aku sudah tidak sabar!"


Rangga merapihkan rambut nya, ia langsung mengambil kunci mobil nya. Dan dengan buru-buru menuruni anak tangga satu persatu, Rangga begitu terkejut ketika kedua orang tua nya menatap dengan heran.


" Mau kemana kamu?" Ucap dokter Fandy yang sudah menunggu Rangga


" Aku mau keluar sebentar, ada urusan!" Ucap Rangga yang terus berjalan namun kedua orang tuanya terus menghalangi.


" Hari ini kamu tidak boleh pergi kemana mana, Papa dan Mama akan mengajakmu ke suatu tempat!"


" sebentar saja Pa, nanti Rangga menyusul!"


" Tidak boleh! Untuk kali ini kamu harus berdiam diri di rumah!" Sahut reyna, meski memaksa keluar, Dokter Fandy dan Reyna mendorong tubuh Rangga untuk masuk ke kamar nya lagi.


" Pa, Rangga ada janji dengan Elea, lepasin Pa, Ma...."


Kedua orangtua Rangga saling menatap lalu melanjutkan misi nya untuk mengurung dan mengunci Rangga di kamar.


Rangga kesal dengan sikap kedua orang tuanya, ia tidak habis pikir orangtua nya begitu kejam setelah Rangga mengakui kejujuran nya.


Rangga mencoba menghubungi Elea namun tidak ada jawanan, berbagai pikiran negatif muncul begitu saja, ia takut Elea akan pergi untuk selama-lamanya. Rangga nekat mencari jalan keluar melalui balkon tapi rasanya ia tidak ingin mati perlahan karena lompat dari lantai dua.


" ahh shit! Bagaimana caranya aku bisa bertemu dengan Elea!"


Sementara Elea sudah siap dengan riasan yang amat tipis, tak lupa ia menyemprotkan parfum rasa permen karet yang begitu menyegarkan. Sampai Rangga begitu hafal dengan wangi Elea.


Elea juga tidak sabar ingin bertemu Rangga, ia juga memiliki janji untuk mencari Kiara bersama Karin. Karena beberapa hari ini tidak ada kabar.


" Rangga, bisa nggak sih hilang dari pikiranku sejenak!"


Elea menampar wajah nya sendiri di depan cermin karena ia tidak fokus, melainkan memikirkan Rangga terus menerus, apa benar Rasa rindu itu sering menghantui?


Karena bayang-bayang wajah Rangga selalu ada didepan wajah Elea.


Elea menuruni anak tangga, namun ia terkejut dengan kehadiran Daddy dan juga Momy yang menyambut nya. tidak seperti biasanya, Momy dan juga Daddy begitu kompak.


" Selamat pagi Eleanor, putri kesayangan Daddy!" Ucap Daddy sambil tersenyum.


" Mau kemana pagi-pagi sudah cantik!" Rayu Momy sambil merangkul Elea.


" Ela ijin keluar sebentar ya mom, dad. lagi pula el sudah hari ini libur!" Ucap Elea sambil memohon.


" tidak boleh! Hari ini kamu tidak bisa pergi kemana mana, karena Daddy ingin mengajak mu kesuatu tempat!" Ucap Daddy


" Hari ini kamu di rumah saja sayang, nanti sore mom dan dad akan mengajakmu keluar, kita makan bareng!"


" Lagi pula acaranya siang, ini masih pagi. El pergi sebentar tidak apa-apa kan!"


" Sekali daddy bilang tidak! Ya tidak!"


" Please momy and dad!"


" El masuk kamar, apa mau daddy paksa!"


" Daddy sama Momy nyebelin banget sih, nggak pernah muda kayaknya!" Celoteh Elea sambil kembali dan berlari menaiki anak tangga, ia menutup pintu kamarnya dengan sangat kencang sampai terdengar oleh Alvin.


Aleyna menatap ke arah dokter Adnan, ntah ia sendiri bingung dengan apa yang di lakukan oleh Adnan.


" Dokter Fandy dan juga Reyna mengundang kita ke restoran bintang lima, ada hal yang ingin mereka bicarakan tentang Rangga maupun Elea!"


" Memang apa hubungannya Rangga sama elea, jangan-jangan Mas Adnan sengaja menjodohkan mereka?"


" Mas Adnan sudah berapa kali aku bilang, biarkan Elea mencari pasangannya sendiri, Mas tau kan, Elea sama Rangga tidak pernah akur, aku tidak mau nanti kalau sampai mas memaksa Elea, aku takut elea akan nekat!"


Dokter Adnan hanya tersenyum mendengar ocehan dari Aleyna sudah lama ia tidak mendengar suara celotehan dari istrinya tersebut.


" Sudah marah-marah nya sayang?" Ucap dokter Adnan.


" Tidak tahu!" Ucap Aleyna dengan cemberut


Dokter Adnan merangkul Aleyna untuk masuk ke dalam kamar, lagi pula hari ini ia libur jadi ia memiliki banyak waktu untuk menikmati kebersamaan dengan keluarga kecil nya, tak terasa pernikahan mereka sudah berjalan tujuh belas tahun lama nya.


Alvin terkejut ketika mendengar suara pintu kamar Elea, ia keluar dan mengetuk pintu kamar elea.


" Ada apa el?" Ucap Alvin begitu


" Aku sebel sama daddy sama momy!"


Alvin mengurungkan niatnya untuk membujuk Elea, ia tidak ingin menganggu elea kalau sedang marah, bisa-bisa Alvin yang ikut kena marah juga.


Alvin berencana pergi ke rumah Dylan, ia bosan selama hari libur, lagi pula ia akan bermain basket seperti biasa, untuk menikmati hari libur nya.


Alvin sengaja tidak membawa mobil, ia lebih memilih sepeda cuaca pagi dengan sorotan matahari membuat Alvin berkeringat, ia malas menggunakan mobil karena jarak nya lumayan dekat.


Alvin mengayuh sepeda sambil menempelkan headset di telinga nya untuk mengisi kebisingan kota, ia memutar lagu lagu RnB untuk menghibur dirinya sendiri. Namun pandangannya tidak fokus ketika ia melihat wanita yang amat ia kenal, di persimpangan jalan, wanita itu memanggil nama Alvin.


" Kiara?"


Alvin menatap ke arah mobil yang membawa Kiara dengan sangat kencang, ini yang kedua kali nya Alvin menemukan Kiara.


Namun kali ini Kiara amat berbeda, ia berteriak di dalam mobil dengan memanggil nama Alvin.


Alvin segera mengikuti arah mobil tersebut, dengan mengayuh sepeda amat kencang.


Mobil itu terus berlaju dengan sangat kencang membawa Kiara.


Sebenarnya apa yang terjadi dengan Kiara? Pertanyaan itu terus muncul di dalam diri Alvin namun ia terus mengejar kiara.


Hingga akhir nya mobil tersebut berhenti di salah satu hotel besar, Alvin ikut berhenti ia mencari sosok kiara. tiba-tiba saja Kiara keluar dan berlari menuju Alvin.


" Alvin...."


" Vin...."


" Aku mohon bawa aku pergi vin!"


Kiara dengan nafas yang tidak beraturan memohon untuk mengajak dirinya pergi dari hotel ini, bahkan Alvin sampai kebingungan, di belakang sana ada dua orang pengawal yang mengejar Kiara.


" Bawa aku pergi vin, aku mohon!"


Alvin langsung menyuruh Kiara untuk naik ke sepeda, ia membonceng Kiara dan melajukan sepeda nya dengan sangat kencang.


" Hei mau kemana kalian!"


Para pengawal itu berlari mengejar kiara yang sudah dibawa oleh Alvin, tanpa bertanya Alvin dengan cepat mengayuh sepeda sampai kedua pengawal tersebut tidak bisa menemukan keberadaan Kiara maupun Alvin.


Kiara masih mengenakan seragam sekolah, ntah apa yang terjadi dengan dirinya sendiri.


Alvin mengajak kiara ke tepi taman, taman yang lumayan sepi tidak terlalu ramai.


" Minum lah!" Tawar Alvin sambil menyodorkan sebotol air mineral.


Kiara mengambil nya, namun nafas nya tetap tida beraturan.


" Apa yang terjadi dengan mu!" Ucap Alvin, namun tanpa berbicara sedikitpun Kiara menangis di bahu Alvin, ia memeluk Alvin dengan tubuh yang masih gemetaran. kiara menangis sejadi nya.


" Kalau kamu mau cerita, aku siap untuk mendengarkan!" Sahut Alvin sambil menenangkan Kiara.


" Aku takut vin, aku takut!"


" Kamu tenang, tarik nafas!".


" Aku takut vin...."


" Tidak usah takut, ada aku di sini!"


Kiara melepaskan pelukan nya, ia menarik nafas sambil menenangkan diri, di bantu oleh Alvin.


" Apa yang terjadi?" Ucap Alvin begitu hangat


" Kalau tidak ada kamu, mungkin saja aku akan kehilangan masa depanku!" Ucap Kiara sambil meneteskan air mata.


" Kenapa?" Tanya Alvin yang tidak mengerti.


"Hidupku begitu berantakan, aku tidak tahu siapa orang tua kandungku, dimana mereka, aku tidak tahu! Setelah kepergian Mama tiara, aku begitu terpuruk!" Ucap Kiara sambil sesegukan. Alvin merasa iba dengan ucapan Kiara.