
Aleyna nampak sibuk mengikat rambut Elea, karena mereka akan bertemu dengan Reyna dan Fandy yang baru saja kembali dari Australia, ntah lah sudah hampir belasan tahun Aleyna tidak bertemu dengan sahabat nya itu, padahal dulu Reyna janji akan pulang setelah Fandy menyelesaikan pendidikan nya namun, ternyata nasib berkata lain.
Fandy malah di tawarkan bekerja di Melbourne hospital sebagai dokter ahli jantung, dan memaksa Reyna beserta anak nya untuk menetap selama belasan tahun, namun sekarang hari kebahagiaan bagi Aleyna maupun Susan karena sahabat nya ity akan kembali dan menetap di kota ini, dimana mereka bisa kumpul bersama seperti dulu.
" Memang nya, teman momy itu siapa?" ucap Elea ia merasa penasaran, karena ia sendiri tidak mengingat wajah Reyna.
" Pokok nya kamu nanti akan mengenal nya. Dia sahabat momy. " ucap Aleyna sambil menyisir rambut Elea, ntah ia memang sedikit manja, dan memang Elea sendiri tidak bisa mengikat rambut nya, ia selalu meminta bantuan Aleyna.
" Jadi, momy dulu punya sahabat selain Tante Susan?" Tanya Elea masih berkutik
" Iya, momy mempunyai dua sahabat yaitu Tante Susan dan Tante Reyna. Mereka begitu baik, dan pokok nya momy sudah menganggap mereka sebagai sahabat." ucap Aleyna
" Jadi penasaran sama tante Reyna. Aku sama sekali belum bertemu dengan nya." ucap Elea
" Mungkin kamu tidak ingat sayang, padahal tante Reyna sering bermain dengan mu ketika kamu masih bayi " ucap Aleyna sambil mencubit hidung Elea, tidak terasa anak kembar nya sudah besar, dan hampir mirip dengan nya.
Tak lama Adnan dan Alvin pun datang menghampiri Aleyna dan juga Elea, mereka sudah siap untuk pergi ke rumah dokter Fandy, Alvin yang hanya mengenakan kaos hitam dan juga jaket kesayangan nya berwarna merah, ntah lah dari sekian banyak jaket, ia selalu menyukai warna merah, berbeda dengan Elea, yang sama sekali tidak memperdulikan warna.
Mobil keluarga pun sudah di siapkan, mobil dengan merk Toyota Alphard, mereka sering sekali menggunakan mobil ini untuk berpergian.
" Daddy, nanti el mau mobil juga yah, kalau Masuk sekolah baru. " ucap Elea sambil mengeluarkan sisi manja nya kepada Adnan.
" Hahaha, Memang nya kamu bisa mengendarai mobil" ucap Adnan sambil mengelus rambut Elea.
Sementara Alvin, sibuk dengan game online nya, ia bahkan dingin dan tidak banyak bicara seperti Elea.
" Daddy, jangan merendahkan el dong. nanti kan Daddy bisa mengajari Elea. " pinta nya.
" Daddy tidak setuju kalau kamu mau belajar mengendarai mobil. " ucap Adnan.
" Ah! mengapa daddy menyebalkan sekali " ucap Elea sambil mendengus kesal.
Aleyna pun tersenyum, ia bahkan mengerti bagaimana keinginan Elea karena ia juga dulu seperti itu, selalu merengek kalau ingin sesuatu bahkan meminta motor gede kepada ayah nya dulu.
" Mas Adnan, tidak apa-apa. kalau elea mau belajar mengendarai mobil. " ucap Aleyna.
" Tuhkan, momy saja mengijinkan. Dasar Daddy menyebalkan " ucap Elea sambil terus memasang wajah cemberut.
Adnan pun mengehela nafas, ia bahkan belum menyetujui keinginan Elea. karena Elea masih di bawah umur untuk mengendarai mobil.
" Daddy dulu kan momy bawa mobil ke sekolah " ucap Elea dengan polos nya.
" Anak kamu tuh , sayang " ucap Adnan sambil melirik ke arah Aleyna.
" Haha, anak kamu juga Mas. kan kamu yang bikin " ucap Aleyna sambil berbisik ke telinga Adnan.
" hampir mirip kamu semua. " ucap Adnan sambil terus fokus mengemudi
" Tidak apa-apa Mas, karena dulu juga aku kesekolah bawa mobil, masa anak aku sendiri malah di antar jemput." ucap Aleyna
" Itu lebih baik sayang, aku tidak ingin Elea malah menjadi anak nakal. " ucap Adnan
" Yasudah terserah kamu deh Mas, tapi kalau Elea ngambek, aku tidak ikut campur." ucap Aleyna.
" el, lebih baik kamu fokus , apalagi kamu mau memasuki sekolah menengah Atas, daddy tidak ingin kejadian kemarin terulang lagi. " ucap Adnan dengan tegas nya.
" Iya... " ucap Elea dengan menjawab sesingkat-singkatnya, ia bahkan malas berbicara dengan ayah nya itu.
" Anak daddy pokok nya harus menjadi dokter. dan bisa membanggakan!" ucap Adnan
" Aku bahkan ingin menjadi dokter bedah seperti daddy!" ucap Alvin yang baru saja ikut nimbrung.
" Daddy yakin, kamu akan menggapai nya Nak." ucap Adnan sambil tersenyum.
" kalau Elea, mau jadi apa?" ucap Adnan sambil merayu Elea.
" Mau jadi ibu rumah tangga " ucap nya tanpa senyum yang terlintas, bahkan Elea membuang pandangannya ke arah pintu kaca sambil melipatkan kedua lengan nya di atas perut.
" Hahaha,tuhkan! anak mu ngambek Mas..." ucap Aleyna sambil tersenyum melihat tingkah Elea.
" kalau perlu, di nikahin saja Daddy. kalau gitu, jangan sekolah!" ucap Alvin sambil terus meledek kembaran nya itu.
" Kak Alvin, aku benci kak Alvin!" ucap Elea sambil terus meraih handphone di tangan Alvin.
" Kalau memang ingin menjadi ibu rumah tangga, daddy siap nikahin kamu, el. " ucap Adnan sambil tertawa.
" Apa sih Daddy, el nggak mau ngomong sama daddy!" ucap nya sambil terus memajukan bibir nya.
Tak lama mobil yang di kendarai Adnan pun telah memasuki kompleks perumahan dokter Fandy, rasa nya sudah lama sekali ia tidak bertemu dengan Fandy, dan juga Reyna.
mobil itu pun memasuki perkarangan rumah Fandy, kebetulan rumah Fandy memang masih sama seperti dulu, dengan nuansa tradisional keturunan dari bunda Ratih,hanya saja di desain agar lebih modern.
Rumah itu sudah cukup ramai karena Daniel beserta Susan telah datang lebih awal di banding Aleyna dan Adnan.
Adnan pun membujuk Elea untuk turun dari mobil, setelah ia cemberut dan marah dengan Adnan, tapi seperti biasa Adnan selalu merayu anak gadis nya itu.
" Aleyna..... " teriak Reyna ia berlari sambil memeluk Aleyna, rasa nya sudah lama sekali ia tidak bertemu, Reyna dengan eratnya memeluk Aleyna untuk melampiaskan rasa rindu nya selama belasan tahun lama nya tidak bertemu. bahkan mata nya pun berkaca-kaca.
" Lama tidak bertemu, ternyata kita sudah menua. " ucap Aleyna sambil tertawa.
Susan pun datang menghampiri mereka, dan memeluk mereka kembali.
" kamu semakin tua, kalau aku sih tambah muda." ucap Aleyna sambil tertawa.
" Hah, mana Elea dan alvin?" ucap Reyna sambil mencari keadaan Anak kembar Aleyna.
Adnan pun datang dengan membawa Alvin dan juga menggandeng Elea yang masih cemberut.
" Halo, Fan, sudah lama tidak bertemu " ucap Adnan sambil memeluk Fandy.
" Direktur utama semakin tampan." ledek Fandy sambil memuji Adnan.
" Ayo masuk!" Ajak Fandy.
" Alvin, dan Elea. Sudah lama tidak bertemu." ucap Reyna sambil memeluk anak kembar Aleyna.
" Iya tante... " ucap Alvin dan Elea sambil tersenyum.
Tak lama Reyna pun memanggil anak nya untuk keluar dari kamar, ntah Rangga memang tidak ingin pindah ke kota ini, ia masih betah di Australia, bahkan Reyna dan Fandy sangat susah sekali untuk membujuk Rangga, dan akhirnya dengan terpaksa Rangga mengikuti keinginan orang tua nya.
Akan tetapi, semenjak di perjalanan Rangga sama sekali tidak banyak bicara, dan selalu mengurung diri di kamar.
" Rangga.... " teriak Reyna, ia ingin memperkenalkan Rangga kepada kedua anak kembar Aleyna dan juga Susan.
" Hey, kapan kita mau main basket lagi " bisik Dylan di telinga Elea, kebetulan Dylan memang sudah mengenal Elea.
bahkan mereka sering sekali bermain bola basket, karena itu termasuk hobi mereka.
" Memang nya kamu sudah siap untuk kalah?" ucap Elea merendahkan Dylan.
" Aku yang kalah apa kamu yang kalah?" ucap Dylan sambil menantang Elea.
" Haha, mudah bagiku untuk mengalahkan mu Dylan !" ucap Elea sambil tertawa, mereka memang sudah akrab.
Tak lama Rangga pun turun dari tangga, dengan wajah nyaris tanpa senyum, ia bahkan dengan malas nya menuruni anak tangga.
" Kenalkan ini rangga, anak tante Reyna. " ucap Reyna kepada dylan dan juga alvin, elea.
" Halo, Rangga.... " ucap Ramah Elea sambil mengulurkan tangan nya. Tapi, Rangga malah tidak menyambut uluran tangan Elea.
" Rangga, jaga sikap kamu sayang! mereka semua adalah teman kamu." ucap Reyna.
Dasar, manusia angkuh! Aku menyesal telah mengulurkan tangan ku....
" Sudah berapa kali, Rangga tidak ingin pindah ke sini Ma! Rangga tidak ingin berpisah dengan teman-teman rangga di Australia." ucap Rangga sambil pergi meninggalkan Reyna.
" Sombong sekali!" gerutu Elea.
" mungkin rangga belum terbiasa tinggal di sini, biarkan saja Rey! tidak usah khawatir." ucap Aleyna sambil menghampiri Reyna yang sedang kesal.
" Iya Reyna, perlahan juga Rangga akan mengerti keadaan sebenarnya " ucap Susan.
" Aku benar-benar capek dengan sikap Rangga " ucap Reyna sambil duduk di samping kedua sahabat nya.
Sementara Adnan, Fandy maupun Daniel malah sibuk berbincang sambil menyantap makanan ringan, dan juga kopi yang sudah tersedia.
" Semenjak pindah, Rangga menjadi pembangkang seperti itu, ia bahkan menutup dirinya untuk bergabung dengan teman sebaya nya, entah lah! aku tidak mengerti." ucap Reyna
" Wajar saja, toh Rangga kan masih remaja. belum terbiasa dengan situasi dan suasana di sini, aku yakin Alvin maupun Elea bisa dan juga Dylan bisa berteman baik dengan Rangga" ucap Aleyna sambil menenangkan Reyna.
" Sikap nya tidak jauh beda dari ayah nya " ucap Reyna
" Aku rasa sikap Rangga seperti itu, karena ia sudah betah dengan dunia remaja nya di Austalia. " ucap Aleyna.
" Aku harus bagaimana lagi, aku sudah benar-benar lelah untuk membujuk Rangga." ucap Reyna sambil memegang kedua pelipis Nya.
Tak lama,Elea pun mengajak Alvin dan Dylan untuk keluar dari kerumunan orang tua nya yang sedang sibuk mengobrol tentang bisnis yang mereka sendiri tidak memahami nya.
" Aku rasa anak itu, benar- benar menyebalkan! berani nya dia menolak uluran tangan ku." ucap Elea sambil berdengus kesal.
" Haha, penolakan yang luar biasa!" ucap Dylan sambil tertawa meledek Elea.
" Seneng banget, kayak nya! " ucap Elea sambil memukul Dylan.
" Aku rasa, Rangga termasuk orang yang introvert, ia bahkan tidak akan bisa memulai untuk berkomunikasi dengan orang baru, ataupun berteman dengan orang baru.bisa jadi karena pengaruh lingkungan. " ucap Alvin dengan tegas nya.
" Ah, kalau Rangga mungkin cocok berteman dengan Kak Alvin. Kalau aku sih, pikir-pikir dulu deh" ucap Elea ia masih menyimpan perasaan kesal terhadap Rangga.
" Elea benar mungkin saja kamu lebih cocok Vin... " sahut Dylan.
" Kita semua cocok berteman dengan rangga. " ucap Alvin.
" Terserah kak Alvin saja." ucap Elea sambil fokus memainkan ponsel nya.
Alvin pun merasa penasaran, ia ingin sekali mengajak Rangga untuk berteman tapi mungkin ini bukan waktu yang tepat, tapi ia akan berusaha menjadi teman yang baik untuk Rangga.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Author ingin mengucapkan banyak terimakasih kepada para pembaca setia. jangan lupa dukung author dengan cara Like, Komen dan jangan lupa juga VOTE agar peringkat nya bisa naik.