My Doctor Is My Husband

My Doctor Is My Husband
Satu kamar bareng dia?



Rangga berlari menuju UKS setelah ia merasakan sakit di perut nya, ia memang tidak tahan dengan makanan pedas, keringat yang sudah bercucuran di dahi nya, ia membuka pintu uks, dan terkejut ketika ia melihat Elea yang terbaring di atas kasur dengan dahi yang di perban.


Rangga tidak melihat satupun sahabat nya yang menemani, Rangga mendekat ke arah Elea, ia melihat elea yang sedang terbaring lemah.


Bisa nggak sih, kalau ketemu aku. kamu diam seperti ini, itu sudah membuatku bahagia.


Rangga menatap wajah mungil Elea, ia melontarkan senyum manis nya ketika menatap wajah elea, ntah Rangga begitu menyukai elea kalau saja dia tidak pecicilan.


Cukup manis!


Rangga menyentuh dahi Elea, meskipun ia merasakan perih di perutnya, tapi ketika melihat Elea, Rangga pun mengurungkan niat nya untuk sekedar berbaring atau menunggu dokter umum di sekolah untuk memberikan obat pereda nyeri.


Apa yang terjadi denganmu? siapa yang berani melukai mu? atau dia ingin mencari masalah dengan ku-


Rangga menyentuh dahi elea, dahi yang baru saja di perban akibat terkena lemparan bola basket yang dilempar dengan tidak sengaja oleh Juno,selaku kapten basket.


Rangga pun meniup dahi elea, dan nafas nya mampu membangunkan elea, dengan mata yang masih sembab, elea mencoba bangun . Rangga pun menjauh dari Elea, ketika melihat elea membuka mata.


Pandangan elea masih kabur, ia menatap kearah Rangga sambil mengucek kedua bola mata nya.


" Kamu? " ucap Elea ketika sudah jelas melihat wajah Rangga yang kini ada di hadapan nya.


Rangga pun nampak bingung, ia ingin sekali pergi dari uks, tapi perut nya masih terasa perih.


" Ada perlu apa kamu kemari? jangan-jangan kamu mau berbuat macem-macem sama aku?" ucap Elea sambil menunjuk wajah Rangga dengan tatapan sinis nya, seolah Rangga adalah musuh nya.


" Hah? siapa juga yang tertarik dengan mu!" ucap Rangga sambil menahan rasa perih di perutnya.


" Amit-amit deh, Aku juga tidak tertarik dengan mu,sekali lagi tidak tertarik!" ketus Elea sambil menekan kata demi kata nya.


" Bodoamat!" jawab Rangga


" Pergi tidak, atau aku yang teriak!" ucap Elea.


" Haha, teriak saja. Aku tidak perduli. " ketus Rangga.


Elea mengembungkan kedua pipinya, ia menatap sinis ke arah Rangga.


Berharap pangeran kodok seperti Kak Juno yang datang, malah pangeran es dari kutub utara, menjengkelkan.....


Elea menghela nafas, ia mengumpulkan banyak tenaga untuk mengeluarkan teriakan ciri khas nya.


" Tolong, ada penjahat disini!" teriak elea dengan suara sampai enam oktaf.


"Cewek pecicilan. " ucap Rangga.


" Tolong, siapapun yang diluar tolong aku!" ucap Elea


Rangga pun mendekat ke arah Elea, ia membekam mulut Elea dengan telapak tangan nya.


"Mmmmmmm-"


Elea kesusahan untuk berteriak lantaran, Rangga menutup mulut nya dengan telapak tangannya.


" Jangan berani berteriak lagi, aku pastikan kamu tidak akan selamat. " ucap Rangga sambil terus membekam mulut Elea


Tak lama Alvin beserta Dylan dan juga Karin pun datang menghampiri Elea, mereka nampak terkejut ketika melihat Rangga sedang membekam mulut Elea.


" Rangga, apa yang kamu lakukan. " ucap Alvin, dan tak sengaja Elea pun menggigit telapak tangan Rangga.


Rangga begitu terkejut dan menjauh dari Elea, Alvin pun menghampiri dan memeluk saudara kembar nya itu.


" el, ada apa dengan mu?" ucap Alvin yang nampak khawatir melihat keadaan Elea.


" Kiara kemana?" tanya Karin, ia bahkan tidak melihat sosok Kiara yang menemani Elea.


" Itu semua tidak seperti yang kalian bayangkan. " ucap Rangga


" Loh, kok bisa ada Rangga di sini, Kiara kemana ?" ucap Karin nampak kebingungan.


" Tadi memang Rangga sakit perut. " ucap Dylan


Tak lama Kiara pun datang dengan membawa Roti dan juga air mineral untuk Elea, ia memang tadi pergi ke koperasi sekolah untuk membeli minum dan juga roti agar elea bisa dengan mudah minum obat pereda rasa sakit.


" Maaf yah tadi aku tinggal sebentar untuk membeli ini. " ucap Kiara sambil menenteng minuman dan Roti.


" Sebenarnya apa yang terjadi sih?" ucap Alvin yang merasa penasaran


" Elea tidak sengaja kena bola basket, pas kami sedang menonton pelatihan basket. " ucap Karin dengan mendekat ke arah Alvin.


" gembul, kalau ingin bermain bola basket kenapa tidak mengajak ku?" ucap Dylan sambil menghampiri elea.


" Ah, aku bosan bermain dengan mu, percuma kamu kalah terus!" ucap Elea


Dylan pun tersenyum dan menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


" Menurutmu, dia ingin bermain bola basket atau ingin mengintip pemain nya. " gerutu Rangga sambil tertawa dengan puas nya.


" memang nya, apa urusan mu?" ucap Elea


Alvin pun meleraikan kedua nya, ia tidak ingin terjadi keributan terus menerus seperti ini, apalagi dengan elea maupun Rangga.


" apa aku harus telepone orang rumah untuk menjemput mu?" ucap Alvin sambil mengelus pucuk rambut elea.


Meski terkesan cuek namun Alvin sangat peduli bahkan sangat menyayangi elea.


" Tidak usah kak, lagi pula aku tidak apa-apa, aku tidak merasa sakit dan aku tidak payah seperti orang yang ada di depan ku. " ucap Elea sambil melirik ke arah Rangga.


Rangga pun bergegas pergi, untuk membaringkan tubuh nya di kamar sebelah, ia nampak nya tidak ingin membuat keributan lagi, karena ia sudah tidak bisa menahan sakit di perut nya.


Rangga pun langsung bertemu dengan dokter umum yang memang bekerja di sekolah ini untuk merawat siswa atau siswa yang sakit secara tiba-tiba.


Teeeeet.....Teeeeet...Teeeettttttt.....


bunyi bel pertanda masuk, semua siswa berhamburan masuk ke dalam kelas, sementara Alvin masih menemani Elea


" Kak Alvin, masuk kelas saja. Aku beneran tidak apa-apa. " ucap Elea sambil tersenyum ke arah Alvin.


" Iya Alvin dan juga Dylan masuk kelas gih, biar aku dan karin yang menjaga elea. " ucap Kiara


" Yasudah, kalau ada apa-apa tolong, hubungi aku secepatnya. " ucap Alvin


" Iya elea, lain kali jangan suka ngintip kakak kelas terus. " ledek Dylan sambil pergi meninggalkan Uks


" Bodoamat!" jawab Elea.


Alvin dan Dylan pun masuk ke dalam kelas, kebetulan Alvin dan juga Dylan satu kelas, mereka berada di kelas IPA1 berbeda dengan elea maupun Rangga serta kedua sahabat elea yang masuk di kelas IPA2.


Kiara maupun Karin memang sengaja tidak masuk kelas, mereka lebih memilih menemani Elea di dalam Uks, karena pelajaran pertama yaitu Fisika pelajaran yang membuat lelah kinerja otak karena harus berkutik dengan rumus.


" Oh my godness. Elea betapa beruntung nya kamu hari ini, bisa di gendong sama kak juno." ucap Karin sambil tiduran di pinggir elea.


Elea membulatkan kedua bola matanya, seolah ia tidak percaya kalau Kak Juno yang membawa nya ke sini.


" Jadi tadi kak juno, yang menggendongku? Ah kalau gitu aku mau deh ketimpah bola basket terus menerus.... " ucap Elea sambil tersenyum girang.


" dasar bucin!" ucap Kiara sambil sibuk memainkan ponsel nya.


" Bucin level kecamatan deh. " ucap Karin sambil menoyor kepala Elea.


" Aduh sakit. " ucap Elea merintih ketika Karin tidak sengaja menoyor kepala nya.


" Maaf el, aku refleks. " ucap Karin sambil tertawa


" Dasar nggak ada akhlak " ucap Elea sambil menoyor kembali kepala Karin sampai kedua nya sibuk bercanda, sementara Kiara sibuk dengan ponsel nya.


Kiara baru saja mengirimkan sebuah pesan ke nomor Whatsapp kak Juno, ia bahkan menunggu balasan dari Kak Juno.


Memang, Kiara menyimpan perasaan nya sendiri, ia tidak ingin Elea mengetahui.


Tapi, Kiara juga tidak bisa lama-lama memendam perasaan nya kepada kak Juno, apalagi Kak Juno adalah kakak kelas nya ketika ia masih Smp. Kiara sudah mencintai Kak Juno semenjak masih satu sekolah di Smp Mutiara.


" Berpikir sebelum bertindak, dan bersikap terbuka sebelum semuanya berubah menjadi luka. "


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Guys, Kalian jangan lupa Komen, Like dan Vote.


Atur nuhun, buat yang masih setia membaca novel ini apalagi sudah sampai Season 2, kalian the best banget selalu mendukung cerita ini, author jadi tambah semangat.


Mohon maaf kalau author ada salah, baik dalam cerita, kadang sering lupa nama atau Typo, mohon di maafkan. Author cuma manusia biasa, yang memiliki jiwa kebaperan yang tinggi *eh.


Ada salam dari Abang Adnan, katanya.


" Miss You "