
Pulang sekolah Alvin segera pergi ke rumah Rangga untuk menjemput Elea, sebenarnya Alvin sendiri bingung harus berbicara apa mengenai Elea, akan tetapi disisi lain, Alvin tidak bisa berbuat apa-apa, kalau sudah menyangkut Rangga.
Dengan langkah yang cepat Alvin menuruni anak tangga, kebetulan sekolah sudah sepi karena alvin pulang belakangan, ia mengambil kunci mobil dari dalam tas nya, lalu dengan cepat mengemudikan ke arah kanan rumah Rangga.
" Apa yang harus aku katakan kepada Daddy! "
Alvin mengemudi sambil memegangi dahi nya yang sedikit pusing, ia bahkan tidak tahu apa yang harus ia katakan mengenai surat persetujuan Elea belajar di rumah selama beberapa minggu.
Tak lama di pertengahan jalan, Alvin melihat Kiara sedang pergi bersama seorang lelaki yang bahkan lebih tua dari nya, lelaki tersebut sekitar tiga atau empat puluh tahun, mungkin saja itu ayahnya atau memang bukan yang pasti raut wajah Kiara terlihat sangat muram, Alvin ingin sekali turun dan mengikuti kemana langkah Kiara.
Kiara bahkan masih mengenakan seragam, ia pergi bersama lelaki tua ke arah mall besar, tapi ada kejanggalan di hati Alvin, kalau lelaki tua itu bukanlah ayah dari Kiara. Karena Kiara enggan mendekati nya.
" Siapa yang pergi bersama Kiara?" Ucap Alvin yang begitu heran karena ia melihat dengan jelas.
Alvin memang tidak terlalu mengenal Kiara, ia hanya mengetahui kalau Kiara adalah sahabat Elea dan saudara Dylan.
Alvin membuang pikiran buruk nya, mana mungkin Kiara bersikap aneh, apalagi dia masih polos. Alvin segera kembali melanjutkan perjalanannya menuju rumah Rangga.
Sementara hampir tiga jam Elea tertidur dengan sangat lelap di ruang televisi rumah Rangga, ia meregangkan semua otot tubuh nya dan menggeliat, selimut menutupi tubuhnya, dan bantal yang juga menjadi alas kepalanya untuk tidur, Elea tersenyum mungkin saja Rangga menyiapkan semua ini untuk Elea, rangga begitu perhatian.
Elea beranjak dari sofa, ia menatap ke arah jendela kaca yang bening di rumah Rangga, ternyata hujan sudah reda. Elea berjalan mencari keberadaan Rangga, ia berharap Tante Reyna maupun om Fandy belum pulang , kalau memang sudah pulang ia takut. Karena ketahuan lancang bermain bahkan tidur di rumah Rangga.
Elea berjalan dengan cara mengendap, namun ada suara langkah seseorang dengan sangat kencang dan membuat jantung Elea berdetak lebih kencang, ia ingin kabur dan mengumpat namun ini bukan waktunya.
" Yatuhan....."
Elea mematung karena tiba-tiba saja ada seseorang menepuk bahu dan memanggilnya.
" Elea?" Ucap seseorang yang kini ada di belakang Elea.
Elea terkejut dan memejamkan kedua bola matanya.
" Elea kamu ada di sini?" Ucap Tante Reyna yang baru saja datang, Elea tersenyum dengan kikuk ia tidak bisa berkata apa-apa.
Karena Tante Reyna maupun om Fandy belum mengetahui apapun tentang hubungan Rangga maupun Elea yang sebenarnya, sama seperti kedua orang tua Elea yang tidak mengetahui apapun.
" Tante...." Ucap Elea sambil cengengesan, dan merasa malu.
" Tante seneng banget kamu ada disini, Alvin ikut juga?" Ucap Tante Reyna sambil menyuruh Elea untuk duduk di sofa ruang tamu.
" mmmmm, kak alvin masih di jalan!" Ucap Elea yang menjawab dengan asal-asalan.
" Sepertinya, aku kenal dengan baju yang di kenakan oleh Elea?"
Reyna terus memperhatikan baju yang di kenakan oleh Elea, baju berwarna hitam yang sama persis dengan punya Rangga.
" Kok Elea bisa ada disini? " Ucap Tante Reyna sambil menyuruh bi Ratmi untuk membuatkan minuman.
" Jadi gini tante , aku tadi mau jenguk rangga tapi malah kehujanan...." Ucap elea sambil duduk dengan rasa malu.
" Yampun, tante lupa untuk memberimu kabar, kalau Rangga sakit, sudah semalaman dia mengurung diri di kamar bahkan enggan minum obat. Sampai Tante kebingungan...." Ucap Tante Reyna
" Tapi, tadi Rangga sudah makan dan minum obat kok!" Ucap Elea keceplosan.
" Tante seneng kalau kamu dan Rangga sudah berhubungan baik, lagi pula tante nggak mau melihat kalian bertengkar terus...." Ucap Tante Reyna.
Bi Ratmi datang dengan mengantarkan dua buah jus jeruk, lalu menaruhnya di meja. Bi Ratmi sendiri tidak mau banyak bicara, ia bahkan menghargai privasi Rangga.
" Minum dulu el..." Tawar Tante reyna sambil tersenyum
Elea pun meneguk satu gelas jus jeruk.
" Tante bingung, sebenarnya sama Rangga!" Ucap Tante Reyna
Elea menghentikan minum nya, ia bahkan langsung mendengarkan ucapan tante Reyna.
" Bingung kenapa tante?" Ucap Elea.
" Kira-kira rangga punya pacar atau dia sedang dekat dengan perempuan di sekolah apa tidak?" Ucap Reyna
Elea begitu terkejut, jantung nya berdetak dengan sangat kencang, tante Reyna bahkan tidak mengetahui kedekatan antara Elea dan juga Rangga.
" Hmmmm.... El.... " Ucap Elea terbata-bata
" Memang kenapa tante?" Ucap Elea yang langsung memutar omongannya sendiri
" Jadi minggu depan rencananya, tante sama om dan juga Rangga mau pergi ke Sidney, tapi bukan cuma pergi , tante dan semuanya akan menetap di sana" ujar tanta Reyna.
Elea begitu terkejut mendengar ucapan Tante Reyna, bahkan Rangga belum mengatakan apapun mengenai kepergian nya.
Apa benar Rangga mau pergi?"
Apa dia mau meninggalkan aku?
Elea terdiam, ia mencerna semua ucapan tante Reyna, elea sendiri merasa patah hati yang amat dalam setelah mendengar ucapan tersebut dari mulut Tante Reyna.
" Jadi tante sama om dan juga Rangga mau pindah ke Sidney lagi?" Ucap Elea yang begitu terkejut.
" Rencananya begitu, tapi seolah Rangga menolak nya! Padahal sebelumnya Rangga lebih menyukai Sidney, Tante juga bingung, kenapa Rangga bisa berubah pikiran, dia seperti tidak mau meninggalkan tempat ini!" Ucap Tante Reyna
" Tante akan menetap di sana berapa tahun?" Ucap elea, ia menahan air matanya untuk tidak menetes sedikitpun karena ada tante Reyna di sisi nya.
Tiba-tiba saja Rangga turun dari kamar dengan rambut yang basah, kemungkinan Rangga baru saja selesai mandi, ia tersenyum ke arah elea, dan juga mama nya.
" Rangga...." Ucap Mama Reyna yang menyambut kedatangan Rangga.
Elea bahkan memalingkan wajah nya, ia memilih untuk pamit pulang karena hati nya begitu terluka setelah mendengar kepindahan Rangga ke Sidney, hati Elea begitu teriris, karena kebahagiaan yang Rangga berikan hanyalah sementara saja, ia memberikan kebahagiaan dan janji palsu untuk selalu bersama tapi nyata nya, Rangga ingin pergi meninggalkan elea, ingin sekali Elea menangis saat ini juga tapi, apa yang di lakukannya sangatlah tidak mungkin karena ada tante Reyna di samping nya.
" Tante, kalau gitu el pulang duluan deh, takut nya momy nyariin el...." Ucap Elea yang mencium punggung tangan Reyna.
Rangga amat heran, mengapa Elea bersikap sangat aneh kepada Rangga, tidak seperti biasanya.
" Apa yang mama katakan kepada elea? Mengapa dia berubah begitu cepat?"
" Kok cepet banget sih, baru juga main el...." Ucap Tante Reyna
" Kapan-kapan el main lagi, kalau gitu el pamit .... " Ucap Elea yang pergi keluar, di susul oleh Rangga.
" Hati-hati nak...." Ucap tante Reyna.
Rangga pergi menyusul Elea ke arah luar, Rangga yakin terjadi sesuatu dengan Elea karena ia begitu dingin.
" Elea tunggu...." Ucap Rangga yang meraih lengan Elea, tapi Elea terus menepis nya.
Rangga berusaha memanggil Elea, dan menarik lengannya untuk tidak pergi dulu, tapi ia tidak bisa.
" Kamu jahat rangga! Semua yang kamu katakan bohong?" Ucap Elea sambil meneteskan air mata
" Apa yang aku katakan elea, aku tidak pernah membohongi kamu!" Ucap Rangga
Mereka saling berhadapan, di depan pekarangan rumah.
" kamu bilang, kita akan selalu bersama, kamu bahkan janji tidak akan pernah pergi meninggalkan aku, tapi nyatanya kamu mau pergi dari aku, kamu mau pindahkan ke sidney, itu nyat nya kita tidak akan pernah bisa bersatu lagi, kenapa kamu begitu jahat, setelah rasa yang aku berikan teramat dalam Rangga....." Ucap Elea sambil menangis tersedu, sementara Rangga terkejut karena Elea mengetahui sebelum Rangga menjelaskannya.
Rangga sudah yakin, kalau Mama nya yang memberitahukan tentang kepindahan nya ke Sidney.
" Kamu sudah mengetahuinya?" Ucap Rangga , ia ingin memeluk elea namun elea menolak dan mendorong tubuh Rangga.
" Semua yang aku katakan itu bukan sekedar kata-kata saja elea, aku menyayangimu tulus, aku memberikan janjiku tulus untuk tidak meninggalkan kamu!" Ucap Rangga dengan menatap wajah Elea dan menghapus air mata elea dengan jari jemari nya.
Elea menepis lengan Rangga yang menyentuh wajah nya.
" Aku tidak akan percaya dengan semua perkataan kamu Ga! Semua itu bohong! aku benci sama kamu...." Elea terus berlari sambil terisak, Rangga terus mengejarnya ia tidak ingin membuat kesalahpahaman terjadi diantara keduanya.
Bahkan Rangga sendiri belum menyetujui kepergiannya, ia bahkan belum mengatakan apapun. Rangga tidak ingin Elea pergi dalam keadaan salah paham seperti ini.
Tiba-tiba saja mobil alvin melintas ke arah perkarangan rumah Rangga, Elea dengan cepat masuk ke dalam mobil tersebut, dan menyuruh Alvin untuk segera berangkat meninggalkan rumah Rangga.
" Elea dengerin aku dulu...." Ucap Rangga yang terus memukul pintu kaca mobil Alvin.
" Elea......" Teriak Rangga sambil menendang batu yang ada di hadapan nya.
Rangga bingung apa yang harus ia katakan, sedangkan Elea sudah terlanjur salah paham dengan dirinya.
Rangga memegangi kedua pelipis nya yang di rasa pusing, ia menatap kepergian Elea. Pikiran nya kacau, ia bahkan tidak ingin memberitahu Elea karena ia tidak akan pergi meninggalkan elea. Sekeras apapun orang tuanya menyuruh Rangga untuk pindah.
" Aku harus bertemu Rangga dulu...." Ucap Alvin yang menghentikan mobil nya.
" Tidak usah kak, aku benci Rangga! Aku tidak mau bertemu lagi dengan nya...." Ucap Elea sambil terisak
" Aneh!" Ucap Alvin sambil memberikan secarik kertas yang di lapisi amplop coklat
" apa ini kak?" ucap Elea sambil terus terisak
" surat dari pak darwin, untuk besok dan dua pekan kamu belajar di rumah, dan Pak Darwin yang akan membimbing kamu!" ucap Alvin
elea hanya terdiam, ia bahkan senang mendengar nya, dengan cara itu Elea bisa menghindar dari Rangga, ia tidak mau bertemu Rangga.
" jatuh cinta memang begitu, ada kalanya harus bahagia dan ada kala nya harus merasakan sakit hati, karena kamu sudah terjatuh di dalam nya, kamu harus bisa menerima itu semua el...."
" tapi kak, el begitu tulus! kenapa di saat elea begitu menyanyangi Rangga di saat itu pula Rangga mau meninggalkan el, rangga mau pindah ke Sidney, bagaimana elea bisa menghabiskan waktu disaat rangga berada jauh dengan elea...."
Alvin menghentikan mobil nya, ia memeluk elea dengan sangat erat, memang Alvin juga belum mengetahui apapun tentang kepindahan Rangga tapi, disisi lain Alvin juga tidak mau melihat elea menangis, apalagi menangisi rangga.
" menangis lah el, kalau itu membuatmu tenang!"
elea menangis sejadinya, namun Alvin selalu memeluk nya dengan penuh kasih sayang, kasih sayang sebagai kakak yang selalu melindungi dan menjaga adik nya.
.
.
.
.
.
.
.
.
wah sakit hati author ngetik nya :(