
Sesuai amanat yang Elisa berikan untuk nya, Widya pun memenuhi keinginan nya yaitu merawat anak bayi perempuan nan lucu, bayi yang hadir tanpa kasih sayang orang tua nya, namun Widya janji akan memberikan kasih sayang untuk bayi yang di beri nama Nayarra Ayudia.
Memang sudah lama Widya sangat menginginkan anak perempuan hadir di hidup nya.
kebetulan hari ini, sidang pertama kasus perceraian antara Widya dan Raden, Widya akan memenuhi panggilan dari pengadilan untuk datang ke sana, ia juga sudah mengajak Adnan.
Sudah berulang kali Adnan membujuk Widya untuk tetap bertahan, tapi Widya masih tetap keras kepala dengan keputusan nya.
" Bunda, kali ini aku menyerahkan semua nya kepada bunda, kalau memang itu yang terbaik tapi dalam lubuk hati, Adnan begitu sedih bunda..... " ucap Adnan sambil memeluk ibunda nya.
" Adnan, untuk kali ini saja mengerti keadaan bunda. mungkin saja semua nya terasa berat, tapi perlahan kamu juga akan menerima nya Adnan..." ucap Widya
" Nak, bunda nitip bayi mungil ini, nanti setelah selesai urusan nya, bunda akan segera kembali... " ucap Widya sambil memberikan bayi mungil itu ke arah Aleyna yang sedang berbaring.
" Iya bunda, Aku akan menjaga baby Nayyara" ucap Aleyna yang sudah mulai bangkit kembali setelah kehilangan calon anak perempuan nya.
" Bunda berangkat Nak.... " ucap Widya sambil bergegas pergi.
Adnan pun menghampiri Aleyna, ia mengecup kening Aleyna.
" Sayang, ini semua keputusan yang berat. doakan agar semua nya baik-baik saja. " ucap Adnan sambil memasang raut wajah sedih nya
" Mas, apapun keputusan nya nanti aku akan selalu mendoakan, karena aku tahu semua itu berat bagi kamu, aku yakin semua nya akan baik-baik saja. " ucap Aleyna tersenyum.
" Aku berangkat yah, jangan kemana-mana tanpa aku!" perintah Adnan sambil memperingati Aleyna.
" Hati-Hati Mas Adnan.. " sahut Aleyna
Adnan pun mengelus pucuk rambut Aleyna.
" Ingat pesan ku tadi! jangan kemana mana, apalagi keluar rumah!" ulang nya lagi, seolah takut Aleyna pergi.
" Tidak usah khawatir Mas Adnan. kalau perlu pasang cctv di kening aku, biar kamu tahu deh kemana aku pergi, hehehe " ucap Aleyna sambil tertawa.
" Adnan ayo!" sahut bunda dari arah luar.
" Bunda sudah memanggil, kalau gitu aku berangkat sayang. " ucap Adnan sambil bergegas pergi meninggalkan Aleyna.
-
Tak lama mobil Lamborghini Aventador itu pun berjalan meninggalkan perkarangan besar rumah milik Adnan.
Dengan di dampingi Rio dan juga kuasa hukum bunda Widya, mereka pergi ke pengadilan untuk melangsungkan sidang perceraian antara Widya dan Raden.
Sebenarnya Adnan sudah bekerja sama dengan kuasa hukum bunda Widya untuk membatalkan perceraian antara kedua orang tua nya.
Adnan sama sekali membenci perceraian, ia akan selalu berusaha untuk menyatukan kembali tali cinta antara kedua orang tua nya.
Adnan yakin kejadian kemarin hanya salah paham satu sama lain, karena setelah Adnan mendengarkan kisah masalalu antara Ayah dan Elisa ternyata, bunda hanya salah paham saja. Akan tetapi, Adnan sudah memperingati Ayah nya untuk tetap setia dan harus terbuka mengenai apapun, karena Adnan mengetahui kalau rasa cinta antara kedua nya masih sangat besar, apalagi setelah kehadiran baby Nayyara yang kini sudah diangkat menjadi anak dari bunda Widya.
Adnan selalu berharap kalau kehadiran baby Nayyara merupakan suatu keajaiban bagi rumah tangga kedua orang tua nya, karena itu jalan satu-satu nya untuk kedua orang tua nya bersama kembali.
" Apa semua berkas perceraian sudah di persiapkan?" tanya Widya kepada kuasa hukum nya
" Sudah Bu, beres. " ucap kuasa hukum nya.
Tak menunggu waktu lama, Widya pun sampai di pengadilan agama, ia turun dari mobil sementara Adnan masih berbincang dengan kuasa hukum nya.
Adnan sudah merencanakan, sebuah ide yang berlian. Adnan memberikan berkas video untuk di pertunjukan nanti, yaitu video pernikahan antara Raden dan Widya yang sudah di rekam sejak dua puluh enam tahun yang lalu, tepat nya di saat kedua nya sedang melangsungkan pernikahan di Bali.
Adnan berharap setelah kedua orang tua nya melihat cuplikan video pernikahan mereka dulu, Adnan yakin momen ini akan membuat luluh hati seorang bunda, dan kalaupun Bunda masih tetap keras kepala dengan keputusan nya, Adnan sudah tidak bisa berkutik kembali.
" Bagaimana, kau sudah mengcopy video nya?" ucap Adnan kepada kuasa hukum Widya.
" Tenang saja, saya sudah menyimpan video pernikahan antara Bu Widya dan Pak Raden." ucap Kuasa hukum tersebut.
" Saya akan membayar kamu tiga kali lipat kalau kasus perceraian ini di batalkan oleh pihak pengadilan." ucap Adnan sambil menepuk bahu kuasa hukum bunda nya tersebut.
Adnan dan Rio pun langsung turun dari mobil, dan ia melihat Ayah Raden yang baru saja datang bersama kuasa hukum nya.
Ayah Raden nampak bersedih, kantung mata yang menghitam serta kerutan di wajah nya membuat Adnan begitu sedih melihat nya. Ayah nya sudah tidak muda lagi.
Adnan pun menghampiri Raden.
" Ayah.... " ucap Adnan sambil memeluk ayah nya.
" Nak, kamu masih mau memanggil ku ayah?" ucap Raden seolah meragukan perkataan Adnan.
" Mengapa begitu Ayah? kau tetap Ayah ku. sampai kapan pun. " ucap Adnan
" Ayah sudah banyak bersalah nak, dan seperti nya ayah tidak pantas... " ucap Raden lalu terpotong begitu saja karena Adnan menyela omongan dari Ayah nya.
" Jangan pernah mengatakan seperti itu Ayah. Kau tetap ayah yang aku bangga kan. " ucap Adnan
" Nak, bantu ayah memperbaiki ini semua. Ayah sama sekali tidak ingin berpisah. Bukan kah ayah selalu mengajarkan kamu, betapa buruk nya perpisahan?" ucap Raden
" Apapun keputusan nya nanti, Adnan akan selalu membantu Ayah dan Bunda. " ucap Adnan begitu bersedih.
Kemudian Rio pun memanggil Adnan, untuk menyuruh Ayah Raden memasuki ruangan persidangan.
Raden pun duduk berdampingan dengan Widya, ada perasaan bersalah yang begitu besar yang Raden rasakan, karena selama ini ia selalu sibuk dengan urusan pekerjaan nya bahkan tidak memiliki waktu untuk sekedar berbagi masalah atau pun bercerita tentang hal apapun kepada Widya, tapi Raden berjanji kalau saja masih di beri kesempatan, Raden ingin memperbaiki itu semua.
" Baik, semua nya sudah berkumpul dan sidang akan segera di mulai. " ucap hakim tersebut.
" Bapak Raden yang terhormat, apa yang bapak lakukan, sehingga Ibu Widya menggugat cerai anda?" ucap hakim tersebut.
" Ini semua hanya salah paham saja , dan saya tidak pernah mengucapkan kata perpisahan kepada istri saya. " ucap Raden
" Mengapa bisa begitu Pak?" ucap nya.
" Saya masih sangat mencintai istri saya, dan saya ingin mengajukan mediasi pak, untuk menyelesaikan semua masalah ini. " ucap Raden
" Bu Widya, apa anda siap untuk mediasi?" ucap nya.
Widya hanya terdiam, ia bahkan tidak menyangka kalau Raden menolak nya untuk berpisah, ada rasa bimbang di hati Widya, ia menatap wajah Adnan yang penuh dengan harapan. lalu, ia kembali memikirkankan nya.
" Bu Widya apa anda mendengar ucapan saya?" ucap Hakim tersebut.
" Apa tidak ada jalan lain? selain mediasi?" ucap Widya
" Berdasarkan keterangan berkas data-data yang saya terima, pihak dari Pak Raden menolak untuk melakukan perceraian, dan pihak ibu Widya juga menerima bila ada nya mediasi." ucap Hakim tersebut.
" Baik, kalau begitu. " ucap Widya merasa pasrah. namun ada kebahagiaan terpancar di wajah Raden
" Bu Widya, saya harap anda bisa merubah keputusan anda setelah melakukan mediasi." ucap Hakim tersebut.
Tak lama Raden dan Widya pun melakukan Mediasi di ruangan tertutup dengan di dampingi oleh pihak ketiga.
Apapun keputusan nya, aku berharap kalian bisa kembali seperti dulu. menyayangi satu sama lain, dan selalu bersama hingga akhir hayat.
Mereka pun memutar cuplikan video pernikahan dua puluh enam tahun silam, dimana kedua nya saling berdansa dan berbahagia, Widya yang begitu mencintai Raden dan sebalik nya, suasana penuh cinta membuat kedua nya begitu terpukul, bahkan Widya tak henti nya menangis, setelah melihat video tersebut, ketika mereka masih muda. Rasanya begitu menyakitkan kalau sampai perpisahan ini terjadi.
" Wi, untuk kali ini saja. Aku mohon beri aku kesempatan yang kedua kali nya. Aku janji akan memperbaiki ini semua Wi. " ucap Raden begitu lirih
Widya menangis mendengar semua perkataan Raden, memang ia masih menyimpan rasa sayang yang begitu besar untuk Raden, disisi lain ia harus membuang semua keegoisan nya dan menganggap nya tidak terjadi apa-apa.
" Pernikahan itu bukan lah permainan, tidak mudah bagi kalian untuk mempertahan kan nya selama dua puluh enam tahun ini, saya harap kalian bisa kembali bersatu dan melupakan semua masalah yang kalian hadapi, karena sekuat apapun masalah yang menerpa, hadapi itu semua dengan rasa kasih sayang yang begitu besar yang mampu mengalahkan semua nya.... "
Raden memegang tangan Widya, sementara Widya masih terpukul dan masih menangis.
" Wi, maukah kamu menerima aku kembali, sebagai suami kamu?" ucap Raden
Widya hanya terdiam, ia masih memikirkan kembali
" Wi, jawab pertanyaan aku?" ucap Raden lagi
" Yah, aku menerima kamu kembali, dengan syarat kamu tidak akan mengulangi nya lagi? dan tidak akan menyimpan suatu masalah dari ku. " ucap Widya
" Wi, terimakasih sudah menerima aku kembali wi, aku janji akan selalu bersikap terbuka kepada kamu Wi. " ucap Raden yang begitu terharu sampai air mata nya menetes ia langsung memeluk Widya.
Setelah mediasi selesai, mereka pun kembali dengan perasaan tenang, karena semua nya sudah kembali seperti dulu. Sudah banyak senyum yang terlihat di sudut bibir Raden maupun Widya.
Senyum kebahagiaan karena mereka telah bersatu kembali, menggapai semua keinginan mereka.
" Ayah... Bunda.... "ucap Adnan yang menatap heran kebersamaan mereka.
" Anak ku... " ucap Raden dan Widya yang memeluk Adnan secara bersamaan.
" Bunda, ayah kalian bersatu kembali, Adnan sudah lama menantikan hal seperti ini. Adnan begitu merindukan kalian.... " ucap Adnan begitu terharu.
" Maafkan kami, Nak karena kami telah membuat mu begitu bersedih, kami berjanji akan selalu bersama. " ucap Raden
" Maafkan Bunda nak, bunda sangat menyayangi kamu, bunda tidak bisa membayangkan kalau kamu sampai menjauhi bunda " ucap Widya sambil memeluk Adnan
" Sampai kapan pun Adnan tidak akan bisa menjauhi bunda. Adnan sayang sekali kepada ayah dan bunda. " ucap Adnan
" Nak, kalau begitu mari kita sama-sama pulang." ucap Widya.
Akhirnya mereka pun pulang dengan menbawa kebahagiaan, kebahagiaan yang sangat di nantikan oleh Adnan. Dan kini, ia bisa tersenyum dengan lebar, karena semua beban di pikiran nya sudah teratasi.
Setiap perpisahan pasti akan menghasilkan luka dan bekas nya, tapi jadikan lah masalah ini sebuah pelajaran, untuk tidak mengulangi nya di masa yang akan datang.
.
.
.
.
.
.
.
mohon dukungan nya :) makasih