
Aleyna pun terkejut karena kedatangan tamu yang bahkan tidak di undang ke rumah nya, dan tamu itu tak lain adalah kedua sahabat nya dengan wajah ceria dan bahagia nya, Aleyna menyambut dengan suka hati karena ia sudah lama tidak bertemu dengan kedua sahabat nya itu.
" kenapa kalian tidak mengabariku, kalau akan datang ke sini !" ucap Aleyna sambil memeluk kedua sahabat nya, sedangkan Fandy dan Daniel duduk di sofa ruang tamu
" Aku tidak tahu, bahkan aku sudah dari kemarin ingin berkunjung ke rumah mu" ucap Reyna sambil mencari keberadaan Adnan
" lebih baik kau sembunyikan Adnan kalau tidak? pasti Reyna akan menghabisi Adnan" celoteh Fandy yang mulai sensi
" Lah emang nya kenapa ?" ucap Aleyna yang nampak heran
" Jangan mendengarkan ocehan beruang kutub, Ley !" ucap Reyna
Aleyna pun hanya tertawa melihat tingkah Reyna dan dr. Fandy sama seperti kucing dan anjing saja.
" Susan bawa apa?" tanya Aleyna
" kita berdua mau menyuruh suami kita untuk masak di dapur rumah kamu, boleh tidak?" ucap Susan
masak? di dapur ku?
Aleyna nampak tertawa geli melihat ekspresi kedua dokter yang sedang memegangi kepala nya, mereka merasa pusing dengan keinginan istri mereka.
" Ingat! permintaan ibu hamil di larang keras untuk di tolak" ucap Susan sambil tersenyum
" Benar, aku mendukung Susan!" ucap Reyna
"Haha, tentu saja boleh" ucap Aleyna sambil tersenyum
Tiba-tiba saja Adnan pun menuruni anak tangga, dengan mengenakan pakaian santai saja karena hari ini ia memilih libur untuk memulihkan kembali kesehatan nya, karena akhir-akhir ini ia sering merasa lemas dan pusing, mungkin saja ini pernah di rasakan oleh Aleyna ketika hamil anak kembar nya, tapi kehamilan kedua ini justru menyiksa Adnan, jadi ia tidak bisa beraktivitas seperti biasa nya.
" Ada tamu rupa nya!" ucap Adnan sambil menghampiri ke ruang tamu
" Baru bangun?" sahut Daniel
" Tumben tidak bekerja?" tanya Fandy
" Sedang ingin beristirahat saja, ntah semenjak istri ku hamil, aku yang merasakan pusing dan lemas nya" ucap Adnan sambil duduk di samping Aleyna
Reyna dan Susan pun terkejut mendengar perkataan Adnan, bahkan Aleyna tidak memberitahu mereka kalau ia sedang hamil.
" Jadi kamu hamil lagi?" ucap Reyna dan susan secara bersamaan
" Aku baru saja mengetahui nya setelah melakukan tes kehamilan" ucap Aleyna
" Jadi kita hamil bersamaan?" tanya Reyna
" Aku bahkan tidak menyangka" ucap Susan
Reyna pun membisikkan sesuatu di telinga Aleyna, ia membicarakan keinginan nya untuk mengelus hidung mancung Adnan, bahkan keinginan Reyna itu mampu membuat Aleyna tertawa terpingkal-pingkal, dan ngidam Reyna termasuk aneh, karena baru kali ini ia mendengar nya, mungkin saja ketampanan Adnan mampu menarik janin yang ada di kandungan Reyna.
" kau mengijinkan tidak, Ley!" ucap Reyna
" Haha, boleh tapi jangan lama-lama" ucap Aleyna sambil tertawa
" kamu tidak cemburu?" tanya Reyna
" Untuk apa cemburu? aku bahkan sudah mengetahui luar dan dalam nya suami ku" ucap Aleyna sambil tertawa
" Tapi aku tidak berani untuk mengelus nya, aku takut" ucap Reyna lagi
" Beruang kutub, boleh tidak?" tanya Reyna yang meminta ijin kepada Fandy, meski Fandy memasang wajah cemberut
" Ada apa ?" tanya Adnan karena melihat Aleyna dan Reyna tertawa
" Reyna ngidam ingin mengelus hidung dr. Adnan!" celoteh Susan sambil tertawa
" Sabar Fandy, mungkin kamu kurang menarik " ucap Daniel sambil menepuk bahu Fandy
" Sialan..." jawab nya
Aleyna pun menuntun tangan Reyna untuk menyentuh hidung Adnan, dan memang Adnan sudah menyetujui nya.
" Yaampun, semoga hidung anak ku mirip dengan hidung dr. Adnan" ucap Reyna dan membuat semua orang tertawa
" Kan itu anak ku, pasti mirip dengan aku kelinci nakal!" ceroros Fandy
" Aku tidak ingin anak kita mirip dengan mu" ucap Reyna sambil menjulurkan lidah nya
" memang kenapa ?" tanya Fandy
" Kamu dingin, yang ada nanti anak ku kayak es batu" celoteh Reyna
" tapi kan lama-lama juga meleleh !" ucap Fandy
" iya beruang kutub, jangan khawatir kau tetap ayah dari anak ku ini." ucap Reyna sambil mengelus pipi Fandy
" Jadi kita mau masak apa?" tanya Susan
" Memang nya kita yang masak? bukan nya suami kita yang masak?" tanya Reyna
" Sayang, aku ngga bisa masak!" ucap Adnan kepada Aleyna
" Iya aku cuma bisa makan saja" ucap Daniel
" kenapa ngga beli di luar saja?" tanya Fandy
" Dan masak nya harus enak!" ucap Aleyna
" pedas juga boleh!" ucap Reyna
Adnan pun melirik ke arah Daniel dan Fandy ketika istri mereka sedang memilih menu yang akan di masak, Adnan mengisyaratkan Fandy dan Daniel untuk kabur dari ruang tamu dan bersembunyi di area belakang sambil menikmati pemandangan yang indah dan minum jus bersama.
" Jangan sampai ketahuan!" bisik Daniel
" Ayo, kita pergi! aku tidak ingin memasak!" ucap Adnan
" Tunggu, jangan membangunkan macan yang sedang tidur." ucap Fandy
" Kau ini, mau ikut kabur atau tidak!" ucap Daniel sambil menarik kaos Fandy
Dan mereka pun berhasil kabur dari ruang tamu, dan berjalan mengendap menuju ruang belakang tepat nya di samping kolam renang yang sudah tersedia taman, dan tempat itu sangat lah aman, dan nyaman tidak lupa Adnan memesan Jus kepada Mirna untuk di bawakan ke area belakang.
" Aman " ucap ketiga dokter itu ketika berhasil kabur dari istri mereka.
-
Setelah mencari menu yang akan di masak, akhirnya mereka memutuskan untuk memasak ayam penyet super pedas, dan ini merupakan tantangan bagi suami mereka untuk memasak nya, karena mereka hanya menikmati nya saja.
" Loh Mas Adnan mana ?" ucap Aleyna ketika kembali ke arah ruang tamu namun Adnan tidak ada di tempat
" Beruang kutub juga hilang!"
" Benar-benar menyebalkan!"
Aleyna dan kedua sahabatnya pun mencari tahu keberadaan suami mereka, dan benar saja suami mereka sedang bersantai ria di samping kolam renang di area belakang
Aleyna pun menjewer telinga Adnan karena berani kabur dari nya.
" Bagus yah, aku menyuruh kamu masak! tapi kamu malah bersantai di sini!" ucap nya
" Ampun sayang!" ucap Adnan yang meronta kesakitan
" Beruang kutub, sudah berapa kali aku mengatakan kalau permintaaan ibu hamil di larang di tolak, dasar nakal yah!" ucap Reyna sambil menarik baju yang Fandy kenakan
" Iya maaf kelinci ku" ucap nya sambil menundukan kepala nya
Sementara Susan membulatkan mata nya,ia menatap tajam wajah Daniel dan enggan untuk berbicara sepatah kata pun
" Maaf bey, aku janji aku mau masak buat kamu!" ucap Daniel sambil memeluk Susan namun, Susan menepis nya
" Dasar suami tidak pengertian" ucap nya sambil pergi meninggalkan Daniel namun Daniel mengikuti nya dari belakang
Setelah menerima paksaan dari istri mereka, Adnan dan kedua sahabat nya sudah memakai perlengkapan untuk memasak, ala koki handal mulai dari sarung tangan, topi, baju memasak , aprons dan lain-lain.
Alvin dan Elea pun hanya tertawa memperhatikan tingkah daddy nya, Bi Nani dan juga Mirna yang hanya jadi penonton pun ikut tertawa melihat tingkah ketiga dokter itu.
" Alvin dan Elea doakan daddy semoga berhasil yah!" ucap Adnan sambil mencium kedua anak kembar nya yang tengah di gendong oleh bi Nani dan Mirna, dan beralih menuju Aleyna yang tengah berdiri di samping nya.
" ini demi adik bayi, doakan daddy berhasil memasak untuk mommy " ucap Adnan sambil mencium perut Aleyna dan Aleyna pun mengelus rambut Adnan
" semangat suami ku!" ucap Aleyna sambil tersenyum
tak lupa juga dengan Fandy yang menunduk sambil mencium perut Reyna
" semoga masakan Papah bear enak!" ucap Reyna sambil tersenyum
" meskipun mamah kamu menyebalkan tapi papah bear akan berjuang untuk kalian!" ucap Fandy
Dan tak lupa juga dengan Daniel yang sedang merayu Susan, ia mengelus perut Susan sambil mencium nya.
" Anak Ayah yang di dalam perut Bunda, bantu ayah untuk melunak kan hati bunda Susan yah!" ucap Daniel
" Kak Daniel, masak yang enak!" ucap Susan
" Siap istriku!" ucap nya
Dan ketiga dokter itu pun beraksi, mereka berjuang untuk istri mereka dan juga anak-anak mereka yang ada di dalam kandungan, kali ini bukan jarum suntik yang mereka pegang melainkan batang sayuran, dan kali ini mereka bukan memeriksa detak jantung seseorang melainkan memeriksa menu apa saja yang harus mereka siapkan, tidak mudah bagi mereka, karena mereka tidak biasa memasak, kecuali membuat roti bakar, karena memasak hal yang sangat sulit untuk ketiga dokter itu, lebih sulit ketika menjalani Koas atau praktikumnya.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Guys, jangan pelit bagi poin untuk author
kalian jahat sekali :( *hiks