My Doctor Is My Husband

My Doctor Is My Husband
Mangga muda



Aleyna pun menuruni anak tangga, dan mengetuk pintu kamar tamu yang di dalam nya terdapat Rio yang sudah tertidur.


Permintaan Adnan yang sangat aneh, di tengah malam, ia menginginkan mangga mentah, dan justru Aleyna pun kebingungan, padahal dulu Aleyna minta mangga mentah kepada Adnan ketika ia hamil anak kembar nya.


" Pak Rio, bangun...... "


Aleyna masih berusaha mengetuk pintu rumah sampai penghuni rumah pun terbangun dan menghampiri Aleyna, Ada Bi Nani dan juga Mirna yang datang menghampiri Aleyna, kemudian Rio pun membukakan pintu kamar, dan terkejut ketika semua orang berkumpul di depan kamar tamu, yang ia singgahi.


" Ada apa non?" ucap Bi Nani sambil menghidupkan lampu.


" Gawat Bi, darurat pokok nya... " gerutu Aleyna sambil mengigit ibu jari nya.


" Ada apa atuh Non, cerita sama Bibi. Jangan membuat Bibi khawatir!" ucap nya


" Iya Aleyna ada apa sebenarnya?" tanya Mirna


" Maaf Bu, saya baru bangun! memang ada apa bu? apa yang darurat?" ucap Rio sembari bersiap-siap membawa sapu untuk memantau ada nya maling di dalam rumah.


" Ada maling Non? atau kenapa?" tanya Bi Nani


Sementara Aleyna masih terdiam dan kebingungan memikirkan kemauan Adnan.


" Mana maling? biar saya hajar sekalian." ucap Rio sambil memegang Sapu


" Pak Rio, aneh-aneh saja. ini ada yang lebih gawat lagi!" ucap Aleyna sambil teriak


" Katakan apa yang gawat! saya siap melawan nya. " ucap Rio


Mirna pun tersenyum melihat tingkah Rio, sementara Aleyna masih mondar mandir kebingungan.


tiba-tiba saja Adnan terbangun karena ada nya keributan, ia menuruni anak tangga satu persatu sambil memanggil nama Aleyna dengan suara serak nya.


" Aleyna.... " ucap Adnan sambil terus memanggil nama istri nya.


Adnan pun menghampiri Aleyna yang sudah di kerumuni oleh Rio beserta Mirna dan Bi Nani.


" Mas Adnan... " ucap Aleyna


" Sayang, mana pesanan ku?" ucap Adnan


Sementara yang lain malah kebingungan.


" Tuan, istri anda mengatakan ada yang gawat darurat!" ucap Rio


" Iya Tuan,memang ada kejadian apa?" tanya Bi Nani


" Berhenti berbicara, karena keadaan darurat nya yaitu Mas Adnan meminta mangga muda di larut malam seperti ini." ucap Aleyna yang membuat suasana menjadi sepi,


mereka menatap ke arah Aleyna, sambil mentertawakan Adnan.


" Haha, jadi Tuan Adnan ngidam?" ucap Bi Nani sambil tertawa, di susul oleh Rio dan Mirna yang juga ikut tertawa


" Mas, kamu benar-benar membuat heboh isi rumah..." bisik Aleyna di telinga Adnan


" Aku hanya ingin mangga mentah saja, sudah cukup!" ucap Adnan sambil merengek


" Memang Non Aleyna sedang hamil lagi? " tanya Bi Nani


" Aku belum melakukan tes kehamilan, tapi sudah hampir dua minggu aku belum datang bulan." ucap Aleyna


" Tuan memang hebat!" sahut Rio sambil menepuk bahu Adnan


" Jangan banyak bicara! lebih baik ambilkan mangga mentah nya, kalau perlu besok tanam pohon mangga di samping rumah." ucap Adnan tanpa seulas senyum namun masih merangkul Aleyna


" Memang nya tengah malam begini, ada yang jual mangga ?" tanya Rio nampak bingung dan menggaruk kepala nya yang tidak gatal.


" tidak ada yang jual kecuali metik sendiri di pohon nya...." ucap Bi Nani


Aleyna pun melirik bi Nani, ia segera menanyakan nya.


" Bibi tahu, siapa yang mempunyai pohon mangga di perumahan ini?" Tanya Aleyna


" Di komplek depan, di dekat lapangan Futsal, kan ada pohon mangga. Kebetulan baru tumbuh." ucap Bi Nani


" Nah, kalau gitu Rio ambilkan saya mangga muda langsung dari pohon nya. " perintah Adnan


" Tapi Tuan, saya tidak ingin sendiri." ucap Rio ia menatap ke arah Mirna namun Mirna hanya menundukkan kepala nya karena malu, sementara Aleyna sudah memperhatikan gerak gerik Rio dan Mirna memang sudah main mata dari tadi.


" kalau begitu, Mirna temani Rio untuk memetik mangga nya. " ucap Aleyna


kenapa harus aku?


" Iya saya akan menemani." ucap Mirna walaupun sebenarnya ia tidak ingin keluar karena sudah larut malam, asalkan ada Rio di samping nya, itu pun tidak apa-apa , toh kapan lagi Mirna bisa dekat dengan Rio


" Non, kalau sudah seperti ini, berarti Non hamil . " ucap Bi Nani


" Tapi, itu tidak mungkin. kalau aku hamil, mengapa Mas Adnan yang ngidam?" ucap Aleyna merasa heran, sementara Adnan sudah kembali ke kamar


Aleyna duduk di sofa ruang televisi, sambil menunggu kedatangan Rio dan Mirna yang baru saja berangkat untuk memetik buah mangga langsunh dari pohon nya, pikiran Aleyna ntah kemana, karena ia belum mengerti sama sekali mengapa Adnan bisa merasakan mual dan ngidam seperti orang hamil saja.


" itu nama nya sindrom kehamilan simpatik, Non" sahut Bi Nani


" Mengapa bisa begitu? dan aku baru mendengar nya" ucap Aleyna merasa heran.


" aku juga tidak yakin, kalau aku hamil lagi? bagaimana Alvin dan Elea ?" ucap Aleyna


" Non, hamil itu adalah kado terindah yang tuhan titipkan, pasti ada jalan nya masing-masing" ucap Bi Nani


Aleyna pun nampak terdiam, sebenarnya ia ingin sekali melakukan tes kehamilan dengan menggunakan test pack tapi ia merasa ragu, dan menunggu besok pagi saja untuk melakukan nya.


***


Rio dan Mirna pun keluar rumah tengah malam untuk menuruti keinginan Adnan yaitu mencari buah mangga yang masih mentah, padahal langit sudah semakin gelap , tidak ada satu orang pun yang melewati jalanan ini, hanya di temani oleh suara ayam pemilik rumah.


cuaca dingin, dan kegelapan mampu membuat Mirna dan Rio melewati jalanan sepi, namun mereka tidak merasakan kesepian akan tetapi kebahagiaan yang datang, apalagi kalau sudah bersama seolah dunia milik mereka berdua.


Angin malam mampu membuat Mirna bergidik kedinginan, ia lupa membawa jaket , kedua tangan nya masih melipat di bawah dada.


" dingin yah, Mir?" Tanya Rio


" Lumayan sih Pak." ucap Mirna dengan malu-malu


Tanpa berbicara sepatah kata pun, Rio langsung melepas jaket yang ia kenakan, lalu ia memakaikan jaket milik nya untuk menutupi tubuh Mirna yang begitu kedinginan.


bukan kah cinta itu harus berani berkorban?


Rio hanya memakai kaos pendek berwarna hitam, dan otot tangan nya pun terlihat begitu besar dan kekar.


Sementara Mirna menatap dalam wajah Rio, Mirna tidak enak hati kalau Rio memberi jaket untuk dirinya, sedangkan Rio sendiri begitu kedinginan.


" Tidak usah Pak, lebih baik Pak Rio saja yang memakai nya, karena malam ini cukup dingin Pak." ucap Mirna sambil berusaha memberikan kembali jaket milik Rio


namun, Rio memakai kan kembali ke tubuh Mirna.


" malam ini memang dingin, dan biarlah aku yang memberi mu kehangatan, walau hanya sebatas jaket. karena aku tidak akan bisa memberi mu kehangatan langsung dari diriku . " ucap Rio sambil menutupi tubuh Mirna yang kedinginan dengan jaket nya, kali ini Mirna menerima nya saja.


Apa maksud Pak Rio?


Kehangatan dalam dirinya ?


Jangan-jangan dia mau memeluk ku.


ooo.. Tidak!


" Tidak .... " ucap Mirna sambil teriak sekeras mungkin karena pikiran negatif tentang Rio mulai muncul di dalam pikiran nya, Mirna berjalan lebih cepat meninggalkan Rio sendiri yang masih mematung.


Mengapa dia mengatakan tidak?


Haha, Mirna memang wanita lugu dan polos, tapi aku menyukai nya.


" Hei kau mau kemana Mir?" ucap Rio sambil mengejar Mirna.


" Memang nya kau berani berjalan sendiri di tengah gelap nya malam ?" ucap Rio sambil berjalan di samping Mirna.


Ya tuhan, apa sebenarnya yang aku rasakan, mengapa jantung ku tidak bisa berhenti untuk terus berdetak, mengapa bila aku dekat dengan Pak Rio, aku merasa gerah.


" Gerah banget yah, padahal tadi dingin!" ucap Rio sambil mengelap keringat di dahi nya


" Aku tidak merasa gerah." ucap Mirna, dan ucapan nya mampu membuat Rio tertawa


" Kamu tidak merasa panas tapi, dahi dan hidung kamu berkeringat" ucap Rio sambil tertawa


" Pak Rio ..... " ucap Mirna


" Apa sayang?" jawab Rio ngasal , dan membuat Mirna semakin tersipu malu.


Tuan Adnan, ngidam setiap hari tidak apa-apa, asal aku bisa dekat dengan Mirna seperti ini...


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Maaf Guys, up nya dua hari sekali, tapi besok author crazy up deh soalnya libur hehehehe


Author boleh minta Vote, like, dan keluarkan semua komentar kalian!


Author seneng bacain komen dari kalian!