
Adnan dan Fandy beserta Daniel pergi menelusuri area pantai untuk mencari istri mereka yang pergi tanpa memberitahu mereka sama sekali, bahkan membuat ketiga dokter muda ini nampak kebingungan, mereka sudah menelusuri bibir pantai sampai tempat perbelanjaan tapi tidak di pertemukan juga.
Andai saja mereka mempunyai alat pendeteksi keberadaan seseorang mungkin saja mereka tidak akan repot untuk mencari nya.
" kemana sih mereka pergi nya?" ujar Adnan yang sudah kebingungan.
" Awas saja kalau sampai ketemu, aku tidak akan membiarkan mereka berkeliaran seperti ini lagi" sahut Fandy yang nampak geram juga
" Ini semua akibat kelalaian kita, kalau saja kita tidak tertidur mungkin mereka tidak akan pergi begitu saja" ucap Daniel
" sudah jangan saling menyalahkan, yang ada nanti kita tidak akan menemukan mereka" sahut Adnan
" lebih baik kita melanjutkan misi kita, mencari istri yang hilang ntah kemana" cerocos Fandy
" kau bisa menikah lagi, Fan " ujar Daniel sambil tertawa
" kau saja yang menikah lagi, aku menyusul nanti " celoteh Fandy lagi sambil tertawa
" kamu bagaimana Nan, apa mau mencari istri lagi?" ucap Daniel kepada Adnan
" satu saja sudah cukup membuatu gila bagaimana kalau dua!" ujar Adnan sambil menggelengkan kepala nya.
" Lebih baik tiga sih" sahut Fandy sambil tertawa
" kalian itu yah, istri hilang tapi malah kesenengan" ucap Adnan nampak heran
" Ini semua gara-gara Fandy " ucap Daniel sambil menunjuk Fandy
" jangan macam-macam, kalau masih ingin hidup" celoteh Fandy sambil tertawa.
canda dan tawa pun mengiringi kepergian mereka untuk mencari istri masing-masing, yang sampai detik ini belum ketemu juga.
mereka masih menelusuri pantai selong belanak dan pergi ke sudut paling ujung pantai selong belanak, dengan berharap mereka bisa menemukan istri mereka.
Kau tahu, satu tulang rusuk ku telah hilang ..
***
Aleyna dan kedua sahabat nya di dampingi Bima untuk menjelajahi pantai selong belanak menggunakan Kawasaki KLX 250 yang di desain ramping sesuai keinginan Aleyna karena kecintaan nya terhadap motor trail sudah sejak lama, ketika Ayah nya mulai membelikan dia motor seperti ini, tapi sayang nya motor itu sekarang hanya di jadikan barang bekas di garasi rumah nya karena Adnan melarang Aleyna untuk mengendarai motor trail nya itu.
Setelah melakukan uji coba untuk mengendarai motor trail, akhirnya Aleyna dan kedua sahabat nya pun siap untuk menjelajah pantai selong belanak tapi, kali ini bukan balap liar seperti dulu, hanya berkeliling saja karena tidak mungkin melakukan balap motor di pantai berpasir putih ini, karena akan menganggu wisatawan yang lain, kali ini cukup menjelajah saja sudah membuat mereka senang dan bahagia.
" biar aku bantu" ucap Bima ketika Aleyna mulai mengendarai motor
" tidak perlu, aku sudah biasa mengendarai nya" jawab Aleyna dengan singkat
" Aku akan mendampingi mu, dan mengikuti mu dari belakang" ucap Bima sambil tersenyum.
" Aleyna.. " ucap Reyna yang memboncengi susan, karena memang hanya tersedia dua motor saja.
" Kau siap melawan ku?" ucap Aleyna seolah ia berada di arena balap
" siapa takut!" jawab Reyna dengan susan.
mereka pun menancap gas dan melepas tuas kopling dengan sangat lincah, menelusuri ujung pantai selong belanak, meski di pantai paling ujung ini di khususkan untuk pengendara trail Adventure tapi tetap saja menurut Aleyna tidak menantang adrenalin, karena jalanan yang datar membuat nya lebih leluasa di bandingkan arena balap yang memang berkelok.
Tak lupa Susan membawa kamera untuk merekam semua kegiatan mereka, bahkan tak jarang Bima begitu terpesona dengan kegigihan Aleyna, ia tidak menyangka kalau Aleyna jago mengendarai trail, ntah perasaan Bima bukan menghilang kepada Aleyna malah semakin bertambah dan semakin sulit ia melupakan Aleyna.
Namun di balik kesenangan dan kegembiraan mereka, tiba-tiba saja senyum dan tawa yang terlintas di bibir mereka seolah sirna, karena ketiga dokter muda itu berdiri tepat di hadapan mereka dengan tatapan tajam yang mengartikan ada nya kemarahan yang terlintas di sudut mata mereka.
Aleyna pun menekan pedal rem dengan sangat kencang sampai berbunyi, dan ia berhenti tepat di depan ketiga dokter muda yang siap menghadang.
di susul oleh Reyna yang juga berhenti tepat di samping Aleyna, mereka saling bertatap bahka ada rasa takut karena mereka ketahuan mengendarai motor trail bersama komunitas Trail Adventure yang di dominasi oleh para lelaki.
mas Adnan ..
Aleyna nampak terkejut, ia menatap ke arah Reyna dan Susan namun mereka juga tidak berani turun dari motor nya karena mereka takut dengan tatapn dan wajah dingin ketiga dokter muda tersebut, bahkan tidak ada senyum yang terlintas di bibir mereka.
bagaimana ini?
apa dia akan marah lagi denganku?
apa aku harus bertengkar lagi?
ah, aku memang bodoh, mengapa aku harus terjebak dalam situasi seperti ini...
Aleyna pun menatap ke arah Reyna dan Susan lagi.
" Reyna, susan bagaimana ini?" bisik Aleyna sambil mengalihkan pandangan nya
" Aku tidak tahu, lihat saja Fandy seperti nya ingin menerkam ku" ucap Reyna
" kau lihat, kak Daniel seperti ingin memakan ku ?" sahut susan lagi
" apalagi Mas Adnan, seperti nya dia ingin membunuh ku" ucap Aleyna
namun, tiba-tiba saja satu anggota Tim Komunitas Trail menyuruh mereka untuk melanjutkan perjalanan mereka, bahkan bersorak untuk menyuruh Aleyna dan kedua sahabat nya untuk melanjuti perjalanan menelusuri pantai selong belanak. tapi, Bima menyuruh mereka untuk diam karena Bima mengetahui kehadiran Adnan dan tak lain adalah suami dari Aleyna.
Akhirnya Bima sebagai ketua dari Komunitas Trail Adventure pun turun tangan untuk mengatasi ini semua,karena itu sudah menjadi tanggung jawab Bima, ia tidak ingin ada kesalahan atau keributan yang dapat mencemarkan nama baik komunitas nya yang sudah didirkan selama satu tahun belakangan ini.
Bima menatap ke arah Aleyna namun, Aleyna menundukan pandangan nya.
akhinya Bima pun mengerti bagaimana perasaan Aleyna karena suami nya datang secara tiba-tiba di tengah kesenangan yang terlintas di raut wajah Aleyna namun kini berubah menjadi raut wajah yang ketakutan .
" Maaf, tadi Aleyna dan kedua sahabatnya meminta kami untuk menjelajahi pantai ini menggunakan motor trail kami " ucap Bima namun, ucapan nya tidak di respon sama sekali oleh ketiga dokter muda itu.
Aleyna, kau benar-benar membuat ku gila kali ini...
" Saya tahu, bagaimana posisi anda tapi, saya tidak ingin membuat anda salah paham dengan komunitas kami" ucap Bima
lalu, Bima menyuruh Aleyna dan kedua sahabat Aleyna untuk menghampiri suami mereka yang sedang menatap ke arah mereka dengan tatapan dingin.
" Aleyna, lebih baik kau jelaskan semua nya sebelum suami kamu salah paham dan menuduhku begitu saja" sahut Bima
Aleyna hanya menganggukan omongan dari Bima, dan ia beserta Reyna dan Susan pun turun dari motor dan melepas helm lalu menaruh nya di motor trail tersebut, mereka menghampiri ketiga dokter muda itu dengan wajah yang murung dan menundukan kepala mereka dengan perasaan bersalah.
Sementara Bima hanya menatap dan menyuruh tim nya untuk kembali meninggalkan Aleyna dan kedua sahabat nya, karena bagaimana pun Bima tidak bisa melihat Aleyna dan suami nya karena ia masih menyimpan perasaan cinta nya untuk Aleyna, tapi disisi lain ia tidak bisa memiliki Aleyna...
Bima pun pergi dengan segenap perasaan sedih atau hancur tapi apa daya, ia memang harus menerima ini semua, karena konsekuensi yang memang harus ia terima ketika mencintai wanita yang sudah memiliki pendamping hidup, bagaimana pun Bima harus belajar untuk melupakan Aleyna karena, ia tidak berhak terus menerus mengharapkan Aleyna karena ia bukan milik nya.
~
Aleyna dan kedua sahabatnya pun menghampiri ketiga dokter yang sedang berdiri berdampingan namun kali ini berbeda karena tidak ada senyum yang terlintas di bibir mereka, tapi ada nya jiwa kemarahan yang menggebu.
" Maafkan aku, karena aku pergi tanpa meminta ijin terlebih dahulu" ucap Aleyna sambil menundukan pandangan nya.
" maafkan aku karena aku melakukan ini untuk mewujudkan semua impian aku bersama kedua sahabat ku" sahut Reyna lagi kepada Fandy
" Maafkan aku, dan jangan salah paham dengan semua ini" sahut Susan kepada Daniel.
Daniel pun menarik tangan Susan, ia memang marah dengan sikap Susan yang seperti ini, namun ia tidak ingin memarahi Susan di depan semua orang bahkan di depan kedua sahabat nya.
" ayo ikut aku" ucap Daniel yang menarik tangan susan dan bergegas pergi
" Kak Daniel jangan salah paham" ucap Susan yang ketakutan
" Jelaskan itu nanti, sekarang ayo kita pergi!" ujar Daniel tanpa senyuman
Akhirnya susan pun mengikuti kemana arah Daniel dan dia siap menerima amarah Daniel karena Susan mengaku kalau ia memang salah.
Sementara Fandy dengan kesal ia menjewer telinga sebelah kiri Reyna, karena ia memang nakal bahkan hampir saja membuat Fandy gila karena ia hilang begitu saja.
" Jadi kamu sekarang mau main-main dengan ku kelinci?" ucap Fandy sambil menjewer telinga Reyna
" Ma-ma-maaf beruang kutub,jangan hukum aku" ucap Reyna sambil merintih
" Maksud kamu apa, seperti itu! kamu sengaja memancing semua amarahku!" ucap Fandy lagi sambil melepaskan telinga Reyna
" Aku hanya mewujudkan keinginan ku saja" ucap Reyna sambil merintih
" Lebih baik kita pulang saja dari Lombok!" Ucap Fandy sambil pergi meninggalkan Reyna, namun Reyna segera mengejar Fandy dan merangkul Fandy.
***
Sementara Aleyna masih terdiam dan ia sampai sekarang tidak berani menatap mata Adnan, yang sedang berdiri dihadapan Aleyna. ia takut kejadian kemarin terulang kembali dan ia benar-benar tidak ingin membuat Adnan marah atau membuat hubungan diantara mereka renggang seperti kemarin, baru saja ia dan Adnan bersatu kembali tapi, kali ini seperti nya Adnan benar-benar marah dengan Aleyna karena ia dari tadi hanya diam seribu bahasa.
kau nampak bahagia melakukan hobi mu, lantas mengapa aku melarang kebahagiaan mu...
" Mas, maafin aku!" ucap Aleyna dengan menundukan pandangan nya.
Adnan pun mengangkat dagu Aleyna, ia bahkan melihat kesedihan di mata Aleyna.
" Mas, jangan diam seperti itu" ucap Aleyna yang tiba-tiba saja menangis
" Ada kala nya aku harus memahami hobi mu, karena disitu lah aku melihat kebahagiaan yang terpancar dari wajah mu" ucap Adnan
" Mas, aku janji tidak akan melakukan hobi itu lagi, aku mohon maafkan aku" ucap Aleyna sambil memohon.
Adnan pun mengecup bibir Aleyna, untuk menahan rasa amarah nya. karena satu kecupan mampu meredam amarah Adnan.
" Mas " ucap Aleyna lagi, bahkan ia langsung memeluk Adnan
" Mas, jangan marah " ucap Aleyna lagi
" kamu tahu, level tertinggi ketika aku mencintai mu?" ucap Adnan sambil menatap Aleyna.
" Apa itu Mas?" ucap Aleyna lagi
" level tertinggi ketika aku mencintai kamu adalah,saat aku melihat senyuman yang terlintas di bibir mu, di saat itu pula aku bahagia melihat mu bahagia" ucap Adnan sambil memeluk Aleyna
" Mas... " ucap Aleyna ia tidak bisa berkata apa-apa, bahkan ia kagum dengan sikap dewasa Adnan.
" kamu bahagia kan melakukan nya, karena aku melihat jelas bagaimana senyum yang terlintas di bibir kamu. Dan aku tidak ingin merusak kebahagiaan itu" ucap Adnan
" Mas, nggak marah sama aku ?" tanya Aleyna begitu heran, padahal ia tahu kalau Adnan sedang memendam amarah nya
" Mas boleh hukum aku, mas Adnan boleh kok marah sama aku, tapi jangan pernah Mas Adnan berubah sikap nya gara-gara aku seperti ini!" ucap Aleyna
" Tidak sayang, untuk apa marah dengan mu, kalau titik tertinggi aku berada di dekat mu seperti ini?" ucap Adnan sambil tersenyum dan memeluk erat Aleyna.
bukan kah cinta itu harus berani mengalah, dan mengerti satu sama lain?
Karena bukan cinta nama nya kalau dua-dua saling menjadi api yang berkobar
bukan kah harus ada air untuk mematikan api yang sedang berkobar, maka dari itu aku sedang berusaha menjadi air ...
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Guys sudah Vote belum ?
vote dong
komen dan Like dong !!!