
" Sakit yah?" ucap Rangga sambil menggandeng tubuh elea menuju gudang kosong.
Gudang kosong yang dulu di pakai untuk ruangan kantor guru, namun sekarang sudah tidak layak di pakai karena kantor guru dan staff sudah di pindahkan ke area depan.
Hampir lima tahun gudang ini kosong bahkan tempat nya sangat tidak layak karena kotor dan berbau amis.
Namun, tidak ada tempat lagi untuk berteduh selain di gudang kosong ini karena hanya tempat ini yang akan melindungi Rangga dan Elea dari terpaan air hujan.
Rangga terus menggenggam telapak tangan elea, sementara elea tidak bisa berhenti menggigil dan bersin terus menerus, Rangga mencari tempat yang agak bersih untuk mereka singgahi.
" Kamu nggak apa-apa kan el?" ucap Rangga ketika menatap wajah elea yang kini membiru karena kedinginan.
Elea tidak menjawab pertanyaan dari Rangga, karena bibir nya terasa berat untuk berucap, rambut nya basah dan membentuk manik manik salju di atas nya, begitu juga dengan Rangga yang sudah basah kuyup karena hujan datang secara tiba-tiba.
" El, jawab pertanyaan aku!" ucap Rangga lagi yang mulai khawatir dengan keadaan Elea, ia bahkan bingung harus melakukan apa.
"Mhhhp... dingin.... "
Elea tak mampu mengucapkan kata demi kata, karena bibir nya terus bergetar.
Rangga menjauh dari Elea, ia tidak bisa melakukan hal yang tidak ingin dia lakukan kepada elea.
" Aku tidak ingin melakukannya!"
Batin Rangga terus bergejolak, di ajak nya elea untuk duduk di kursi yang sudah lumayan tua umurnya, namun masih layak di pakai.
" Kamu duduk di sini yah, el!" ucap Rangga sambil menggandeng tubuh elea.
Rangga mengusap kedua tangan nya, untuk menghangatkan tubuh elea meski tubuh nya sendiri terasa dingin namun, setidaknya Rangga tahan akan cuaca dingin di bandingkan dengan elea.
Wajah elea semakin pucat dan bibir nya membiru, tidak ada lagi kata yang terucap, sorot matanya kosong. Rangga Semakin bingung harus dengan cara apalagi untuk mencari kehangatan bagi elea.
Bukankah satu pelukan mampu menghangatkan tubuh elea, tapi Rangga bel berani melakukan nya.
tapi, elea begitu kedinginan, dan di ruangan ini hanya ada Rangga.
Yah, Rangga yang harus memberikan kehangatan untuk elea.
" kamu mau kemana ga?" ucap Elea yang menarik lengan Rangga ketika Rangga ingin pergi menerjang hujan untuk meminta bantuan, karena handphone mereka mati total akibat terkena air.
" Aku harus keluar dan mencari pertolongan aku tidak ingin terjadi apa-apa dengan mu." ucap Rangga
" Jangan tinggalkan aku ga, aku takut... " ucap Elea yang kini menyandarkan kepala nya dipunggung belakang Rangga.
Panas yang menjulur dari punggung rangga, dapat ia rasakan ketika kepala elea menyentuh punggungnya. ini pertama kali, Rangga merasakan kehangatan, meski hanya sebatas kepala saja.
Rangga semakin bingung, apa yang harus ia lakukan ?
apakah harus bertindak sebagai jantan atau memilih menghindar?
" Ga, jangan tinggalkan aku sendiri disini! aku benar-benar takut.... " ucap lirih elea sambil memeluk rangga dari belakang.
Rangga mulai merasakan sensasi yang berbeda, ketika pertama kali elea memeluk nya. ia bahkan, belum pernah melakukan ini dengan wanita lain.
Rangga membalikan tubuh nya, sontak elea melepas pelukannya, di tatapnya wajah elea yang begitu pucat serta tubuh nya menggigil dan basah.
" Aku tidak pernah sepeduli ini sama orang lain, tapi kenapa aku begitu bingung ketika melihat mu kedinginan seperti ini elea!" ucap Rangga sambil memegang kedua pipi elea dengan lengan nya.
Nafas rangga tidak bisa beraturan, ketika kedua bola mata indah milik elea bertemu dengannya, saling menatap dan Rangga ingin sekali masuk ke dalam nya, memasuki ruang hati elea yang kini sudah terisi oleh nama lelaki sialan yang bahkan Rangga tidak ingin menyebut namanya.
Namun, di tengah rintik nya hujan dan ditempat ini, gelap dan kotor hanya berdua tidak ada orang lain yang dapat menganggu kebersamaan mereka.
muncul sebuah pertanyaan ketika rangga terus memandangi bola mata indah milik elea, " Akankah, ada nama ku didalamnya?"
Apakah, rangga mempunyai ruang di hati elea, semua itu hanya mimpi, karena sampai sekarang elea masih di butakan oleh cintanya tapi tidak untuk nanti, karena Rangga lah yang akan menguasai ruang di hati elea. Karena, Rangga lebih mengenal elea.
" Aku dingin ga, sangat dingin... " ucap lirih elea yang masih nyaman menerima belaian tangan Rangga yang menyentuh pipi nya.
Rangga sudah cukup menahan keinginannya, ini semua darurat, kalau dia tidak segera bertindak.
" suatu saat kau akan menjadi milikku elea, tunggu waktu yang tepat!"
Perlahan tangan rangga mulai turun ke area pinggang elea, karena tubuh elea memang mungil hanya sepundak rangga saja.
Tangan rangga begitu gemetar ketika menyentuh pinggang elea, ia tidak pernah melakukan nya.
" Kamu kenapa ga?" ucap elea ketika melihat wajah Rangga yang begitu pucat, namun Rangga tidak merespon ucapan elea, dengan mata yang terpejam Rangga menarik tubuh elea untuk sampai ketubuh nya. Rangga memeluk erat elea untuk memberikan kehangatan bagi elea.
" maaf aku begitu pengecut untuk melakukannya.... " ucap Rangga sambil terus memeluk erat tubuh Elea sampai kedua tubuh mereka begitu terkunci.
Elea tidak bisa berkata apa-apa, toh ia memang merasakan kehangatan di tubuh Rangga.
" Kamu begitu hangat, sedangkan aku begitu kedinginan, aku bahkan tidak bisa melihatmu menderita, biar aku yang merasakannya. " ucap lirih rangga di telinga elea.
" Mungkin kalau bukan kamu, aku tidak akan bisa merasakannya... " ucap Elea begitu lirih dan kembali melingkarkan tangannya di pinggang rangga.
" Kamu tidak akan bisa membedakan orang yang begitu tulus menyayangimu, bahkan orang itu rela menyakiti dirinya sendiri hanya untuk kamu, mungkin suatu saat kamu akan menyadari itu semua el..."
***
Tak lama, hujan pun mereda hari sudah semakin sore karena sekolah juga sepi. semua murid sudah pulang kerumah masing-masing, dan menikmati momen santai di rumah.Tapi, tidak untuk Rangga dan Elea karena mereka begitu nyaman berada di gedung kosong yang terletak dibelakang sekolah.
Karena terlalu larut dalam cuaca dingin, akhirnya Rangga dan Elea pun tertidur tanpa mereka sadari hari sudah semakin sore. Matahari sudah tidak menampakan sinarnya, hanya ada suara burung yang berkicau.
Elea menggeliat kan tubuhnya, ntah tubuhnya terasa berat, ia membuka kedua bola matanya dan elea begitu terkejut ketika rangga tengah tidur di sampingnya dan memeluk erat dirinya.
Sontak, kedua bola mata elea terbelakak melihat pemandangan seperti ini.
" Aaaaaaa..... Rangga! Apa yang kamu lakukan! "
Suara teriakan elea mampu membangunkan Rangga yang kini sedang tertidur di samping elea bahkan mereka tidur hanya mengenakan tikar yang terbuat dari dedaunan pisang.
" Apa yang kamu lakukan rangga!" ucap Elea sambil memukul tubuh rangga
" Aku tidak melakukan apa-apa!" ucap Rangga yang merasa kebingungan karena ia tidak menyadari.
" Aku benci sama kamu ga! " ucap Elea yang terus memukul rangga, dan Rangga pun menahan elea.
" Aku nggak sehina itu elea!"
Mendengar adanya keributan dibelakang sekolah, seorang penjaga sekolah yaitu Pak Darmawan pun langsung mengintai ke area belakang, kebetulan Pak Darma sapanya, sedang membersihkan area belakang sekolah, ia mendengar adanya keributan dan suara teriakan dari arah gedung kosong. Pak Darma segera pergi untuk memastikannya. ia takut ada kejadian seperti dua tahun belakangan kemarin.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Nahloh, penasaran kan sama kelanjutannya?
Ayo guys semangatain author dengan cara Like, Vote dan komentar positif nya.
terimakasih sudah selalu setia.