
" aku benar-benar Egois Elea, maafkan aku!"
Hanya kata maaf yang terus terbesit dalam pikiran Rangga, memang Rangga sangat bersalah, tidak mengabari Elea. Tapi disisi lain, ia hanya menolong Meghan saja karena Meghan tidak memiliki siapapun di sini.
Jelang beberapa menit, keluarga Meghan baru tiba dari Sidney, Ayah Meghan segera mencari Rangga. Bahkan ia sangat berterimakasih karena Rangga begitu tulus merawat Meghan.
" Saya sangat bersyukur, Meghan bertemu dengan lelaki yang tepat. " Ucap nya seraya memuji Rangga.
Rangga hanya tersenyum, ia tidak mempunyai banyak waktu, apalagi mengurus Meghan, karena ada hal yang lebih penting dari segalanya.
Yaitu masa depan nya, yang kini sudah sirna.
" Sama- sama om brian, kalau gitu aku pamit dulu! Masih ada urusan...." Ucap Rangga
" Iya Rangga, sekali lagi terimakasih...."
" Baik om...."
Rangga pun pergi meninggalkan kamar rawat Meghan, Meghan yang sedang tertidur tidak mengetahui kepergian Rangga. Ini kesempatan yang bagus, untuk Rangga pergi menyusul Elea.
Rangga tidak bisa berdiam diri, sementara hati Elea terluka, Rangga ingin menjelaskan semuanya kepada Elea, ia ingin Elea memberinya kesempatan kedua. Karena kata-kata putus yang Elea ucapkan hanya dalam keadaan emosi saja.
Elea tidak benar-benar mengucapkan nya, karena Rangga tidak ingin berpisah dari Elea.
Rangga sendiri bingung, bagaimana meluluhkan hati Elea yang sedang meradang, apalagi Alvin sekarang sudah tidak ingin ikut campur dalam urusan percintaan Rangga dan juga Elea.
" Arrrgh... Mengapa semua ini harus terjadi!"
Rangga mengendarai motor nya dengan sangat kencang menuju rumah Elea, ia berharap Elea berada di sana.
" Maafkan aku Elea...."
Satu jam perjalanan yang ditempuh Rangga untuk sampai di depan gerbang besar milik keluarga Elea.
Rangga berdiri tepat di depan gerbang, namun sorot cahaya nampak menyinari wajah nya dan Rangga menyipitkan kedua bola mata nya karena silau, Lampu mobil menyoroti Rangga, dan Pak Darwin menatap wajah Elea.
" Pacar kamu ?" Ucap Pak Darwin sambil melirik ke arah Rangga yang tengah berdiri di depan gerbang.
" Bukan lagi!" Ucap Elea yang turun dari mobil Pak Darwin.
Elea menutup pintu mobil Pak Darwin, ia keluar sembari mengusap air matanya. Elea kini di hadapkan dengan Rangga.
" Elea....." Ucap Rangga yang mengejar Elea.
Elea seolah acuh bahkan mengabaikan Rangga, mungkin ia tidak ingin melihat wajah Rangga lagi.
" Elea tunggu, tolong dengarkan semua penjelasan ku..." Ucap Rangga yang tetap keras kepala ingin menjelaskan semuanya.
" Tidak ada yang perlu di jelaskan Rangga, aku melihat semua nya. Aku melihat bagaimana kamu mengucapkan kata kata sayang kepada Meghan, dasar penghianat!" Ucap Elea yang mengibas lengan Rangga.
" Itu semua tidak seperti apa yang kamu lihat elea ..." Ucap Rangga.
" Tidak ada yang perlu di jelaskan Rangga, aku sudah tidak percaya dengan semua perkataan kamu!"
" Aku tidak akan pergi dari sini, sebelum kamu mendengarkan semua penjelasan aku elea...."
Elea menangis dan berlari masuk ke dalam rumah, seolah hari ini, adalah hari yang paling sial untuk Elea, ia bahkan tidak bisa membayangkan semuanya akan terjadi.
Pak Darwin menyaksikan semua nya, nampak nya memang Elea maupun Rangga sedang bertengkar , ia tersenyum dan mengingat kejadian dua tahun lalu, ketika dia dan juga tunangan nya sering bertengkar.
Bahkan rasa cinta itu muncul kembali, ketika Pak Darwin melihat wajah Elea yang mirip dengan almarhumah tunangannya, yang kini bahagia bersama tuhan.
Pak Darwin turun dari mobil dan menghampiri Rangga.
" Aku tahu, semua masalah bisa di atasi, tapi ini bukan waktunya, beri Elea waktu untuk bisa menerima nya...." Ucap Pak Darwin yang berdiri di belakang Rangga.
Rangga berbalik arah, ia menghadap Pak Darwin dengan tatapan yang sangat tajam.
" Jangan ikut campur dengan hubungan aku maupun Elea, Pak Darwin!" Ucap Rangga dengan tegas.
" Kalau gitu, saya permisi!" Ucap Pak Darwin yang langsung meninggalkan rumah Elea.
Pak Darwin memang memiliki rasa sayang ketika ia menatap wajah Elea yang mirip dengan tunangannya, tapi di sisi lain Elea hanya sekedar bayangan saja. Karena Pak Darwin begitu sangat mencintai tunangan nya, tapi sayang ia harus terpisah oleh alam.
" Terkadang mencintai seseorang itu memang sulit, tapi kenapa tuhan lebih besar mencintaimu dik, di bandingkan aku....."
Rangga berdiri di depan perkarangan besar milik keluarga dokter Adnan, ia menunggu kedatangan Elea, dan Rangga masih tetap keras kepala ingin menjelaskan semuanya.
Elea masuk dengan air mata yang membasahi kedua pipi nya. Ia bertemu dengan Alvin di depan pintu kamar. Alvin mengetahui kedatangan Rangga , karena ia menatap nya dari atas rooftop.
" Elea...." Ucap Alvin , tanpa berkata Elea langsung memeluk Alvin dengan sangat kencang, tubuh nya gemetar, ia masih mengingat kejadian beberapa jam yang lalu.
" Menangis lah...."
Alvin memeluk Elea dengan sangat kencang, ia mungkin tidak bisa merasakannya, tapi Alvin nampak geram, kalau saja melihat Elea menangis seperti ini.
" Aku kurang apa kak selama ini, aku sudah berusaha menjadi yang terbaik tapi kenapa Rangga begitu tega kak...."
" Aku tulus kak mencintai rangga , tapi kenapa dia bahkan tega menyakiti aku kak!"
Alvin tidak berkata apa-apa, ia hanya memeluk Elea dengan sangat kencang.
" Aku benci Rangga kak, aku benci ....."
" Itu alasan aku , takut untuk mencintai seseorang, karena aku takut menyakiti nya...."
Ucap Alvin.
" Lebih baik temui Rangga, dia tidak akan pergi dari sini kecuali kamu menemui nya..." Ucap Alvin
" Kak, aku nggak bisa bertemu rangga, bahkan semakin aku melihat nya , semakin jelas semua kejadian diwaktu siang itu!"
" Kamu tidak bisa terus menerus menghindar elea, selesaikan semua nya..."
" Aku tetap tidak ingin bertemu Rangga, sekalipun dia berdiri di depan rumah sampai pagi buta..."
Elea langsung menutup pintu kamar nya, ia bahkan mengunci rapat pintu kamar nya.
Alvin juga tidak ingin memaksa elea, apalagi ia tidak mengetahui jelas semua kejadiannya.
Hujan turun dengan sangat deras membasahi kota, bahkan Rangga masih tetap berdiri di depan rumah Elea. Ia tidak perduli dengan air hujan yang kini membasahi tubuh nya.
" Aku akan tetap menunggumu Elea...."
" Aku akan tetap disini menunggu kedatangan kamu...."
Tubuh Rangga basah kuyup di guyur hujan, Alvin bahkan merasa bersalah kalau harus membiarkan Rangga berdiri di depan rumah nya dalam keadaan hujan, bahkan sesekali petir menyambar, Security di rumah Alvin sudah menyuruh Rangga untuk pulang atau masuk ke dalam rumah namun Rangga menolak nya.
Untung saja kedua orangtua Alvin sedang berada di luar kota, mereka bahkan pergi untuk beberapa hari, karena ada keperluan di Surabaya bersama.
" Rangga benar - benar nekat!"
" Rangga, jangan bodoh! Lebih baik pulang, ada saat nya untuk menjelaskan semuanya...." Ucap Alvin sambil menerjang hujan
" Aku akan menunggu elea disini vin, aku tidak ingin pergi sampai Elea menemui ku!"
" Percuma rangga, jangan menyakiti diri sendiri..."
" Vin, aku akan menunggu elea disini, aku tidak perduli walau hujan, bagaimana mungkin aku bisa pulang dan tidur dengan tenang, sementara aku sudah menyakiti hati Elea ..."
" Aku tidak akan pergi vin..."
Alvin tidak mengerti mengapa Rangga begitu keras kepala.
" Kalau begitu masuk lah sampai hujan reda ....."
" Tidak vin, aku akan tetap disini..."
Alvin menggelengkan kepalanya, melihat Rangga yang begitu nekat menerjang hujan.
Elea menatap Rangga dari atas balkon kamar nya, sambil menangis Elea menatap Rangga yang sedang kehujanan.
" Untuk kali ini, aku tidak bisa memaafkan kamu ga, kamu terlanjur menyakiti perasaan aku!"
Elea menatap ke arah kaca, ia menatap wajah Rangga.
Tiba-tiba saja Alvin mengejutkan Elea, ia mengetuk pintu kamar Elea dengan sangat kencang.
" El aku memang tidak mengerti semua permasalahan kamu, tapi untuk kali ini temui Rangga, di luar hujan sangat deras, Apa kamu tidak kasihan melihat Rangga kehujanan?"
" Aku tidak ingin menemui Rangga kak!"
" Kali ini saja el, bagaimana kalau ini pertemuan terakhir kamu dengan Rangga?"
Elea tidak membalas ucapan Alvin, namun ia mencerna ucapan alvin.
" Aku tidak bisa terus menerus lemah di depan rangga, sedangkan dia seenak nya menyakiti aku..."
Elea kembali melihat Rangga yang kedinginan, bahkan seluruh tubuh nya basah kuyup, Petir pun terus menggelegar. Elea mengingat semua ucapan Alvin.
" Bagaimana kalau memang ini pertemuan terakhir ku dengan Rangga?"
Elea berpikir panjang, ia langsung membuka pintu kamar nya, dan menuruni anak tangga. Ia langsung mengambil payung.
Ingin rasanya Rangga menyerah karena tubuh nya tidak tahan lagi dengan guyuran hujan yang amat deras, namun tiba-tiba saja ada seseorang yang menadahi air hujan dengan payung di atasnya.
" elea?"
Rangga membalikkan tubuhnya, dan berharap Elea yang kini datang menghampiri nya.
" Elea, aku tahu kamu akan datang menemui ku!"
Rangga tersenyum dengan senang, bahkan ia tidak menyangka Elea masih perduli dengan dirinya.
" Aku menghampiri kamu bukan karena aku perduli, tapi aku hanya kasihan!"
Elea melempar handuk kepada Rangga, dan menyuruh nya untuk masuk, meski sikap Elea begitu jutek kepada Rangga.
Rangga menggigil kedinginan, karena baju nya begitu basah.
Bibi pun memberikan teh hangat untuk menghangatkan tubuh Rangga.
" Ini teh nya, di minum yah " ucap Bibi
" Terimakasih bi..."
Rangga duduk di teras dengan Elea yang kini cemberut dan nampak jutek kepada Rangga.
" Kalau gitu pulang, karena aku tidak menerima tamu..." Ucap Elea.
" Aku akan pulang, setelah kamu mendengarkan semua penjelasan aku elea..."
" Aku tidak butuh penjelasan, karena semua nya sudah begitu jelas!"
" Kamu cemburu?"
Elea menatap Rangga dengan tatapan yang sangat tajam.
" lebih baik pulang , karena aku tidak memiliki banyak waktu untuk berbicara dengan mu!"
" aku akan pulang, tapi aku mohon besok temui aku di taman cinta...." ucap Rangga
" terserah!" ucap Elea yang segera masuk ke dalam rumah.
" aku tahu pasti kamu akan datang elea...." ucap Rangga sambil teriak, Rangga tersenyum karena Elea masih perduli dengan nya.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Author : Duh, ribet banget ya kisah cinta mereka, tenang deh semua akan kebagian cerita kok, cuma satu- satu ya kakak pembaca.
Q : kenapa sih jarang update, lama lama lupa ceritanya.
author : Aduh kak, author lagi hamil 8 bulan, sabar ya kak, namanya ibu hamil banyak yang di keluhakan tapi author tetap usahain update kok. kalo lupa baca lagi dari awal maemunah-_-
Q : kenapa sih elea ngga sama pak darwin aja.
Author : yakin nih?
Guys, ada iklan