My Doctor Is My Husband

My Doctor Is My Husband
Selamat tinggal



Tepat hari dimana Aleyna mengalami keguguran, Reyna dan Fandy pun sudah berangkat menuju Australia. Sayang sekali Reyna tidak bisa menjenguk sahabat nya itu, ada kesedihan tersendiri dimana ia tidak bisa memberikan semangat kepada Aleyna.


Reyna nampak bersedih, ia bersandar di dada bidang Fandy, seolah ia merasa bersalah tapi, ia cukup memahami sifat Aleyna, bahkan Reyna pun langsung mengabari Aleyna untuk menanyakan keadaan nya dan sekedar memberikan semangat kepada sahabat nya itu agar tetap kuat dan tegar menerima itu semua.


Karena kehilangan sesuatu memang menyakitkan, tapi perlahan Aleyna akan mengerti dengan segala nya.


" Aku tidak bisa membayangkan, bagaimana perasaan Aleyna!" ucap nya sambil bersedih


" Aku tahu, itu sangat menyakitkan. Aku bahkan ikut bersedih " ucap Fandy sambil menenangkan Reyna.


Reyna tidak bisa menghubungi Aleyna karena ia sedang dalam pesawat, ntah ia sudah tidak nyaman dan ingin segera sampai di tempat tujuan nya.


Ada rasa bersedih, ketika Reyna pergi dan meninggalkan kota ini untuk beberapa tahun ke depan, keinginan terbesar Reyna adalah mendapat sambutan atas kepergian nya, tapi kepergian Reyna malah membawa banyak kesedihan, Ia bahkan tidak bisa menjenguk Aleyna yang telah mengalami keguguran, mungkin saja kalau Aleyna tidak mengalami nya , ia akan menyiapkan sesuatu yang istimewa untuk melepas kepergian Reyna,tapi takdir berkata lain, di samping Susan baru saja melahirkan, Reyna tidak ingin berharap banyak kepada Susan karena ia mengerti bagaimana keadaan nya.


Selamat tinggal kota ku,


aku sangat merindukan mu, dan akan selalu merindukan mu, kenangan dan memori yang indah telah aku lakukan, bersama kisah cinta dan luka, pernah aku rasakan.


Aku akan merindukan sahabat ku,


Aleyna selamat tinggal


Susan selamat tinggal


jarak kita mungkin tak sama, tapi aku selalu merindukan kalian.


Kita memang tidak akan bisa bersama lagi, tapi aku akan selalu bersamamu, meski dalam kejauhan.


Air mata Reyna tak henti nya menetes, menurut nya, hal yang paling menyakitkan adalah ketika berpisah dengan kedua sahabat nya, bahkan perpisahan ini begitu menyakitkan, ia mendapat kabar di saat ia sudah bersiap-siap untuk berangkat ke Australia, ia ingin sekali membatalkan kepergian nya, tapi semua nya sudah di persiapkan, di sisi lain Reyna tidak ingin membuat Fandy kecewa.


" Kelinci, berhenti menangis, hanya enam atau tujuh tahun saja, tidak lebih!" ucap Fandy


" Iya beruang kutub, aku hanya belum bisa berpisah dari sahabat ku."


" Maafkan aku, beruang kutub." ucap nya lagi


Setelah pesawat mendarat di Melbourne Airport, Reyna dan juga bunda Martha yang selalu ikut mendampingi Reyna beserta Fandy berjalan menuju ruang depan, di sana sudah ada yang menjemput nya.


Rencana nya, Fandy dan Reyna akan tinggal di rumah kecil yang sudah Fandy sewa untuk enam tahun ke depan, sebenarnya Fandy ingin sekali menyewa hotel, tapi untuk enam tahun kedepan mungkin biaya yang ia keluarkan akan sangat besar.


" Bunda..... " ucap Reyna ia memegangi perut nya yang membesar.


" Aw, perut aku sakit.... " ucap Reyna yang merintih kesakitan


" Kamu kenapa kelinci ku?" sahut Fandy yang khawatir


" Nak, jangan-jangan kamu mau melahirkan?" ucap Bunda Martha nampak panik.


" Aku nggak kuat! Beruang kutub tolong!" ucap Reyna.


Fandy dan Bunda Martha nampak kebingungan, bahkan rasa panik di campur gelisah melihat kondisi Reyna, apalagi ia masih di bandara.


Fandy segera merangkul Reyna, ia bahkan menahan tubuh Reyna, Fandy pun mengelap keringat yang sudah bercucuran di wajah Reyna.


" lebih baik, kita bawa Reyna ke Rumah sakit terdekat!" ucap Bunda Martha yang segera memegang tubuh Reyna.


" Bunda, Sakit...


Reyna nggak kuat!" ucap Reyna sambil menangis


" Sabar Nak, mungkin kamu mengalami kontraksi. sabar sayang, bunda akan selalu menemani kamu." ucap Bunda Martha


Fandy segera meminta supir yang menjemput nya untuk membawa Reyna ke rumah sakit, sebelum nya Fandy segera menghubungi pihak kampus, untuk menunda nya karena Reyna akan melahirkan.


Pihak Kampus pun, nampak nya sangat baik, ia bahkan memberikan waktu bagi Fandy sampai besok , untuk menyelesaikan registrasi dan mengisi data-data di kampus.


" Pak, bawa kami ke rumah sakit terdekat. " ucap Fandy sambil tergesa-gesa.


Fandy pun segera merangkul Reyna untuk masuk ke dalam mobil, ntah pikiran Fandy semakin kacau, ia tidak bisa mengendalikan dirinya sendiri setelah melihat Reyna berlumuran keringat akibat menahan sakit.


Bunda martha mendampingi Reyna di kursi belakang, sedangkan Fandy di kursi depan dengan sang supir sambil memfokus kan dirinya kepada Reyna.


" Bunda, apa yang akan terjadi dengan Reyna! Aku khawatir bunda. " ucap Fandy sambil memegangi lengan Reyna.


" Berdoa untuk keselamatan Reyna, karena perjuangan orang melahirkan itu sangat menyakitkan." ucap Martha kepada Fandy.


" Sabar Nak, sebentar lagi kita sampai ke Rumah sakit." ucap Martha sesekali ia mengelap keringat yang bercucuran di wajah Reyna.


Reyna mengabaikan perihal tersebut, karena ia tidak mengerti, dan ini baru pertama kali Reyna rasakan.


" Huffff, aku nggak kuat hufff ... " nafas Reyna mulai tidak beraturan.


" Beruang kutub! tolong" ucap Reyna yang menarik rambut Fandy sampai Fandy merintih kesakitan


" Aw... sakit kelinci ku!" ucap Fandy sambil merintih


Keadaan di mobil itu semakin ramai dengan teriakan Reyna maupun Fandy, Reyna yang kesakitan dan terus menjambak rambut Fandy sampai rontok, dan membuat supir itu begitu kebingungan dengan keramaian ini , untung saja supir nya berasal dari indonesia jadi Fandy bisa leluasa mengajak nya berkomunikasi.


" Itu rumah sakit Pak, ayo belok Pak." ucap Fandy nampak gelisah


" Kamu sabar kelinci ku!" ucap Fandy.


Padahal usia kandungan Reyna baru menginjak tujuh bulan, tapi Reyna sudah merasakan kontraksi yang amat dahsyat, sesekali hilang rasa sakit nya tapi sesekali muncul kembali, pinggang nya terasa panas bahkan semua nya begitu menyakitkan.


Setelah sekian lama, akhirnya Fandy berhasil membawa Reyna ke rumah sakit, Reyna segera ditangani oleh pihak medis dan dokter dari rumah sakit Melbourne. untung saja semua nya begitu baik, dan tak sedikit yang mengenal Fandy, karena teman semasa kuliah nya dulu, bekerja di rumah sakit ini.


Reyna pun beserta Bunda Martha memasuki ruangan bersalin, namun nampak nya Reyna baru mengalami pembukaan dua, masih sangat lama.


Sementara Fandy mengurus semua pendafataran, untung saja dia sudah membawa dokumen dan data-data dengan lengkap.


Yatuhan,semoga saja persalinan nya lancar.


Setelah hampir tiga jam menunggu, akhirnya dokter pun memutuskan untuk melakukan operasi caesar, untuk memudahkan persalinan karena Reyna melahirkan di usia kandungan yang belum cukup.


" Istri anda melahirkan dalam usia yang masih muda, ini sudah sering terjadi. Dan mungkin bayi anda akan lahir prematur, karena usia nya belum cukup untuk lahir." ucap dokter


" Lakukan yang terbaik untuk istri saya!" ucap Fandy


Setelah selesai berbincang dengan dokter kandungan, akhirnya Reyna di bawa ke ruang operasi,bunda Martha menangis sambil mendampingi Reyna, sesekali ia berdoa demi keselamatan Reyna.


Fandy juga ikut mendampingi, ia masuk ke ruang operasi dengan pakaian yang serba hijau.


" Aku tahu, kamu wanita kuat, berjuang demi anak kita sayang. Aku menyayangi mu. " bisik Fandy ketika operasi akan segera di mulai.


" Aku begitu takut. " ucap Reyna sambil menitikkan air mata.


" aku menemani kamu" ucap Fandy sambil mencium Reyna.


Setelah hampir satu jam, suara bayi menangis pun menghiasi kegembiraan pasangan Reyna dan Fandy.


" Bayi anda laki-laki Pak." ucap Suster tersebut sambil memberikan bayi tersebut ke atas dada Reyna


" Beruang kutub, kita memiliki nya. " Ucap Reyna.


" Tampan dan mempesona seperti ku. " ucap Fandy


" Aku mau memberi nya Nama Refrangga Emeraldy " ucap Fandy sambil tersenyum


" Kenapa memilih nama itu?" ucap Reyna begitu penasaran.


" Reyna dan Fandy beserta babyi rangga" ucap Fandy yang merasa bahagia.


Tak lama bayi mungil yang mirip sekali dengan Fandy pun di bawa untuk masuk ke ruang inkubator karena berat badan yang belum memenuhi.


" Untuk sementara, bayi anda akan kami bawa ke ruang inkubator Pak. " ucap Suster sambil membersihkan tubuh bayi mungil tersebut.


" Semoga berat badan kamu semakin bertambah, dan kita akan segera pulang dari rumah sakit ini. " ucap Fandy sebelum bayi mungil nya di bawa oleh suster.


" Terimakasih, kamu sudah menjadi istri yang baik dan juga selamat kamu mendapat gelar Mama Bear!" ucap Fandy sambil tersenyum


" Ada-ada saja. " ucap bunda Martha yang ikut merasakan kebahagiaan


Memang, kebahagiaan itu tidak ada duanya bahkan kini kehidupan sulit pun akan berubah menjadi lebih baik,semenjak malaikat kecil datang menghiasi hari-hari Fandy maupun Reyna.


Kebahagiaan yang tidak bisa di ungkapkan dengan kata-kata, hanya lewat senyuman yang mampu mereka layangkan di hari bahagia ini.


**catatan :


Guys maaf baru update, jangan lupa dukungan nya yaitu Vote dan Like beserta komentar nya.


Ucapkan selamat untuk Reyna dan Fandy Manaaaaa** ?