
Tak terasa perkemahan yang dilaksanakan dua hari semalam tersebut harus berakhir, semua peserta persami nampak bahagia karena mereka akan kembali ke rumah masing-masing, Elea juga sudah sangat merindukan kamar tidur nya, padahal baru dua hari ia meninggalkan rumah.
Banyak sekali penderitaan yang Elea alami, sampai kaki nya terkilir karena ulah Nadine, untung saja ada dua malaikat yang selalu menjaga elea, yaitu Alvin dan Rangga. Memang mereka selalu menjadi penolong bagi Elea.
setelah selesai berkemas, Karin masih saja cemberut ntah ia merasa gagal memiliki Alvin, meski sudah beberapa kali merayu dan mendekati, padahal ia ingin di momen perkemahan ini Alvin menjadi milik nya tapi sayang, Alvin susah sekali untuk di taklukan.
meski pesona Karin tak kalah dari Elea.
" Aku cape, sebenarnya tipe cewek Alvin itu seperti apa sih el!" dengus Karin sambil cemberut dan menopang dagu dengan kedua lengannya.
Elea menghampiri Karin dan memeluknya dari belakang.
" Rin, Kak Alvin itu memang tidak ingin berpacaran, kalaupun dia menyukai seseorang rasanya sulit, aku juga tidak tahu!" ucap Elea, yang berusaha memberi pengertian terhadap Karin.
" Iya Rin, Dylan kan masih ada? lagi pula Dylan itu baik banget sama kamu, buat apa mengejar cinta yang lain kalau cinta yang sebenarnya ada di hadapan kamu..." ucap Kiara
Karin akhirnya mulai menyadari, kalau cintanya terhadap Alvin harus bertepuk sebelah tangan, Karin akui memang mendapatkan Alvin adalah hal yang sulit, tapi disisi lain ia juga telah bersalah karena mengabaikan kebaikan Dylan, apalagi Dylan sebenarnya tulus menyukai Karin.
Tak lama seluruh anggota osis menyuruh mereka untuk berkumpul terlebih dahulu dan berdoa agar perjalanan pulang nya tidak ada masalah atau kendala.
sesudah berdoa selesai, anggota osis dan ketua pembina mengabsensi peserta persami untuk masuk ke dalam Bus, kali ini Rangga tidak satu bangku dengan Elea karena Rangga masih tidak menyangka kalau ia sendiri dibuat taruhan oleh Elea.
Sore itu, Rangga membawa Elea ke tempat unit kesehatan yang sudah disediakan di tenda sebelah, dan Alvin sendiri yang menjadi ketua gerakan sehat tersebut.
Rangga khawatir karena Elea begitu kesakitan, kakinya terkilir akibat jatuh dari perlombaan.
Elea terus merintih kesakitan, Tapi Rangga selalu memenangkan Elea, namun disaat kaki elea diobati, Elea malah mendumel soal Nadine.
Nadine yang menantang Elea demi mendapatkan Rangga, padahal Elea sama sekali tidak menyetujui, ia hanya menerima tantangan saja, dan Elea tidak mau dianggap pengecut oleh Nadine, tapi ia sama sekali tidak ingin melakukan perlombaan tersebut demi Rangga.
" ini semua gara-gara Nadine, untuk apa dia menantangku, bahkan mengatakan kalau dia menang, aku harus menjauhimu!" celoteh Elea, tanpa berpikir ulang karena terlalu kesal.
" Terus kamu menyetujui ajakan Nadine?" ucap Rangga yang merasa penasaran.
" Iya, aku tidak ingin Nadine menganggapku remeh!" ucap Elea yang masih dibalut Emosi dan amarah.
Rangga menghela nafas, ia tidak menyangka kalau Elea menerima tantangan yang menjijikan itu.
" Jadi kamu siap, menjauhi aku?" ucap Rangga yang menatap ke arah elea, dengan tatapan yang sangat tajam.
Elea tersadar, dan ia hanya menggelengkan kepala saja, Elea takut kalau Rangga sudah dingin, perkataan maupun tatapan matanya sangatlah dingin dan penuh kemarahan.
" Untuk apa kamu menerima tantangan bodoh tersebut!" ucap Rangga yang sedikit menjauh dari Elea.
" Aku tidak benar-benar menerima tantangan itu Rangga, aku mohon percayalah!" ucap Elea sambil menarik lengan Rangga, namun Rangga melepaskannya.
" kalau begitu, aku yang akan menjauh dari kamu Elea!" ucap Rangga yang begitu kecewa terhadap sikap Elea.
" Rangga!" ucap Elea yang terus memanggil Rangga, namun Rangga tidak menoleh sama sekali.
Elea merasa menyesal telah mengikuti perlombaan, kalau saja Nadine tidak menantang nya, ia tidak akan mau.
****
Elea menaiki Bus setelah namanya di panggil oleh ketua pembina, ia dengan rasa malas memasuki bus, ia duduk sendiri sambil menunggu Rangga, Elea berharap Rangga bisa memaafkan kesalahan Elea, meski Elea akui memang Elea salah.
Tak lama nama kedua sahabatnya disebut untuk masuk ke dalam bus, Kiara dan Karin baru saja ingin duduk didekat Elea tapi Elea mengatakan kalau Rangga yang akan duduk disampingnya, kedua sahabatnya sudah memaklumi, apalagi Rangga memang sedang marah terhadap Elea, karena perlombaan tersebut, Karin dan Kiara nampak paham dengan posisi Elea sekarang, karena Elea sudah memiliki pasangan dibandingkan mereka yang masih sendiri.
" Gitu kalau sudah pacaran, dunia terasa milik berdua, apa-apa harus berdua terus!" sindir Karin sambil tertawa.
" Haha, memangnya kamu sendiri terus, nggak capek emang?" sindir Elea lagi, memang kalau sudah kumpul bertiga mereka tidak mau diam.
Akhirnya Kiara dan Karin memutuskan untuk duduk berdua dibelakang kursi Elea, tiba-tiba Dylan masuk dan menatap ke arah Karin, Karin tersenyum ke arah Dylan, namun Dylan nampak nya tidak memperdulikan karin.
" Kayaknya Dylan mau duduk sama aku deh Ra " ucap Karin sambil menggeser Kiara untuk menjauh
Namun tiba-tiba saja Dylan malah duduk di bangku paling belakang bersama Eva teman dari Nadine, Karin merasa kesal, ia ingin sekali mencakar wajah Dylan bahkan Dylan sama sekali tidak menggoda nya.
Dylan begitu berubah, di saat Karin ingin memberikan luang bagi nya.
" Apa yang terjadi dengan Dylan, mengapa dia cuek, mengapa dia tidak menggoda ku! " batin Karin sambil menatap ke arah belakang, lalu kembali ke posisinya lagi.
" Heheh, kasian! lebih baik duduk sama aku saja, lebih aman! lumayan buat tempat bersandar kan Rin?" ucap Kiara sambil meledek ke arah Karin.
" Apaan sih, bodoamat Dylan mau duduk sama siapa, tidak penting! memang dia siapa aku coba!" dengus Nadine sambil mendumel.
" Sabar rin, ini ujian!" ucap Elea sambil meledek ke arah Karin dan tertawa, namun tiba-tiba saja Rangga datang.
Elea berhenti tertawa, setelah Rangga datang, Elea sengaja mengosongkan kursi sebelah kiri nya hanya untuk Rangga dan berharap Elea bisa duduk berdua bersama Rangga, tapi Rangga malah tidak peduli, ia menyusul Dylan untuk duduk di kursi paling belakang. Elea nampak kesal dengan ulah Rangga, karena Rangga mendiamkan Elea dan mengacuhkannya.
" kamu masih marah sama aku Ga? padahal aku ingin minta maaf, aku tidak bisa jauh dari kamu Ga...."
Elea merasa sedih, ia menatap ke arah belakang, dan menatap Rangga namun Rangga pura-pura tidak perduli, bahkan Rangg sangat acuh terhadap Elea.
Elea langsung mengambil ponsel, dan mengirimkan pesan Whatsapp sampai sepuluh pesan yang berisi kata " Maaf" namun Rangga tidak membalas, ia hanya membaca pesan tersebut.
" Jangan diamkan aku seperti ini Rangga! Aku tidak bisa, aku tidak bisa kalau sehari saja tanpa ada kabar darimu, bahkan sekarang kamu berani menjauhi aku.... "
Melihat Rangga yang tidak jadi duduk bareng Elea, Kiara dan Karin pun saling menatap bahkan keduanya nampak kasihan terhadap Elea.
" Kayaknya mereka lagi marahan deh!" bisik Karin di telinga Kiara
" Kalau gitu, kita duduk nya pindah saja didekat Elea, aku tidak ingin Elea bersedih!" ucap Kiara
" Iya, ayo kita pindah!" ucap Karin
Akhirnya Karin dan Kiara pun pindah posisi duduk , dan menemani Elea. Karin dan Kiara tidak ingin menyuruh Elea bercerita lebih dulu, ia mengerti akan apa yang di rasakan oleh Elea.
Karena ini bukan permasalahan yang Elea buat, melainkan kesalahpahaman semata.
Karin dan kiara memeluk Elea dengan sangat erat, seolah mereka adalah kekuatan bagi Elea, tanpa kedua sahabatnya mungkin Elea tidak akan bisa melepaskan kesedihannya, karena merekalah tempat berbagi, saling bercerita tentang kebahagiaan, kesenangan ataupun kesedihan.
" Jangan merasa sendiri, kita selalu ada buat kamu el.... "
Elea memeluk erat dan menyandarkan kepalanya, elea bahagia bisa memiliki sahabat seperti Karin dan Kiara.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Tuhkan jadi salah paham ? Gimana nih?
Guys, komen dong!
makasih loh sudah setia membaca novel yang Beratus-ratus episode kayak sinetron hehehehe