My Doctor Is My Husband

My Doctor Is My Husband
Pergi Camping



Pagi sekali, semua murid Emily's internasional High school berkumpul di lapangan depan sekolah, terkecuali kelas dua belas karena mereka di sibukkan dengan kegiatan belajar demi menggapai nilai bagus di ujian nasional nanti.


Murid kelas sepuluh dan kelas sebelas berbaris dengan urutan kelas nya masing-masing, mereka sudah siap dengan acara perkemahan yang akan di laksanakan di Eagle Hills, Bogor.


Mereka sudah membawa tas besar dan baju serta jaket dan beberapa cemilan, meski hanya tiga hari namun mereka begitu antusias menyambutnya. Apalagi, untuk kelas sepuluh karena ini pengalaman pertama bagi mereka untuk melakukan kegiatan mencintai alam sekitar.


Ketua osis beserta guru pembina yaitu Pak Krisna memberikan beberapa pengetahuan mengenai tempat perkemahan yang akan mereka datangi, ada beberapa syarat dan juga ketentuan bagi mereka yang harus diikuti. Dan setelah selesai memberikan peraturan, Kak Dio dan kak Linda sebagai ketua dan wakil ketua osis memberika absensi untuk mobil bus besar yang mereka gunakan, karena satu bus berisi dua kelas.


Kelas sepuluh IPA 2 satu kelas dengan Sepuluh IPA 1. yaitu, kelas nya Dylan dan kelas nya Elea. Semua nampak bersorak karena sebentar lagi mereka akan segera berangkat.


" Aku nggak sabar banget....." ucap Karin sambil memeluk kiara.


Sementara Elea masih terus sibuk diingatkan oleh Alvin, karena Alvin tidak satu mobil dengan Elea, Alvin ada di mobil satu lagi bersama kelas sebelas lainnya.


" Pokok nya kamu harus ingat el, jangan ceroboh apalagi pergi sendirian di malam hari, kamu tuh kebiasaan suka bangun tengah malam, kalau ada apa-apa bilang kak alvin saja..." celoteh Alvin, namun Elea tidak terlalu mendengarkan ucapan Alvin, ia malah sibuk mencari Rangga karena dari tadi Elea tidak bertemu Rangga bahkan ia tidak mengirimkan pesan Whatsapp atau menelpon, Elea curiga kalau Rangga tidak jadi ikut, seketika Elea tidak bersemangat ketika Rangga tidak ada di sisi nya.


Alvin menarik dagu Elea karena dari tadi kedua bola mata Elea tidak fokus kepadanya, melainkan fokus pada area lain.


" Kalau kakak lagi ngomong itu di dengerin el, kamu itu tanggung jawab kak Alvin..." ucap Alvin sambil memperhatikan wajah Elea.


" Ah... mmm.. Iya kak!" ucap Elea yang kembali mendengarkan Alvin.


" Memangnya kamu sedang mencari siapa sih? " ucap Alvin nampak penasaran.


" Bukan siapa-siapa kak!" ucap Elea yang segera menepis omongan Alvin.


" Yasudah sebentar lagi kita berangkat, Jaga diri adik gembul..." ucap Alvin sambil mengelus rambut Elea dan pergi menuju barisan kelas nya.


" Kok kamu nggak bilang sih el, kalau tadi ada kak alvin!" celoteh Karin yang mulai protes dengan elea, karena dari tadi Karin dan Kiara fokus memperhatikan para pembina perkemahan.


" Jadi aku harus mengumumkan keberadaan kak Alvin, pake toa masjid sekalian, biar semua denger!" ucap Elea yang nampak sensi.


" Yampun pagi-pagi udah sensi, nanti darah nya naik el, hati-hati loh!" ucap Karin


Tak lama, para pembina dan kakak OSIS memanggil mereka untuk segera masuk ke dalam mobil, apalagi hari sudah semakin siang, matahari mulai memancarkan sinarnya akan tetapi, Rangga tidak kunjung datang.


Apa yang terjadi dengan Rangga? Di saat Elea sudah menunggu nya dan mengharapkan kehadirannya, kalau saja Elea mengetahui Rangga tidak ikut, pasti Elea tidak akan repot-repot mengikuti kegiatan perkemahan ini.


Elea dan kedua sahabatnya mulai masuk ke dalam bus, ada rasa yang tidak pernah Elea alami, yaitu rasa kehilangan. Elea kehilangan Rangga, karena ia berharap dengan mengikuti acara perkemahan ini, ia dan Rangga bisa menghabiskan waktu berdua tapi nyatanya, sampai sekarang Rangga belum datang juga.


Elea menatap ke arah kaca mobil yang bening, ia menatap ke arah luar tetap saja ia tidak bertemu dengan Rangga. Tiba-tiba saja Dylan menghampiri Elea, dan duduk di samping Elea karena kursi di sebelah elea kosong, sementara di belakang ada Kiara dan juga Karin, Elea sengaja mengosongkan satu kursi, ia ingin rangga yang duduk di sebelahnya.


" Hai bro!" ucap Dylan sambil menepuk bahu Elea.


" Apaan sih dylan, kaget tau!" celoteh Elea


" Makanya jangan melamun saja, pagi-pagi sudah melamun!" ucap Dylan sambil tertawa.


Elea hanya terdiam, ia ingin sekali menanyakan keberadaan Rangga kepada Dylan, tapi tetap saja hatinya ragu


" Apa aku harus menanyakan Rangga kepada Dylan? apa dylan tahu, dimana rangga sekarang?"


Dylan sedang merayu Karin yang kini ada di belakangnya, entahlah pesona Karin yang nampak cantik dan sedikit tomboy serta cerewet mampu menarik hati Dylan, meski beberapa kali Karin menolak dan mencacinya tapi Dylan tetap pada pendiriannya.


" Pantas saja di luar panas, ternyata penyejuknya ada di dalam..." Rayu Dylan sambil menatap Karin.


" Dasar tukang gombal, emang kamu kira aku kulkas!" ucap Karin sambil melotot ke arah Dylan, Kiara yang memperhatikan malah ketawa terus menerus melihat tingkah keduanya.


" Dylan...." sahut Elea yang memanggilnya.


Dylan pun menengok ke arah Elea.


" Kenapa el, ganggu saja!" ucap Dylan sambil tersenyum


" Kamu tahu nggak, mmm... anu, itu ..." ucap Elea nampak terbata bata


" kamu ngomong apa sih el, kamu mau nanyain Rangga?" ucap Dylan dan tebakan Dylan sangat pas sekali, karena Elea memang menanyakan Rangga, namun Elea segera menepisnya.


" Bukan kok, aku cuma mau tanya kita mau pergi kemana!" ucap Elea yang mencari alasan


" Hahaha, memangnya kamu tidak mendengarkan apa kata pak Krisna, dasar telinga Patkai!" ucap Dylan sambil menjewer telinga Elea.


" Sakit tau!"


Mobil pun akan segera berangkat, anggota osis dan satu pembina mulai mengabsen, hati Elea nampak tidak tenang, ingin sekali ia memohon kepada ketua osis untuk menunggu kedatangan Rangga, tapi Elea terlalu gengsi untuk mengatakan itu.


" Kak, boleh ijin ke toilet sebentar?" ucap Elea


" el, kamu kenapa?" bisik Karin dan Kiara


" Kebelet, aku ke toilet sebentar!" ucap Elea.


Kakak OSIS pun mengijinkan elea untuk pergi ke toilet sebentar, dan bus pun berhenti untuk menunggu Elea sementara bus yang lain sudah berangkat lebih dulu, hanya ada bus yang ditumpangi kelas Elea saja yang belum berangkat.


Elea turun dari Bus, dan langsung menuju toilet ia membuka handphone dan menekan nomor Rangga terus menerus, namun Rangga tidak mengangkat telepone dari Elea, dan elea berulang kali menelpon Rangga tetap saja Rangga tidak mengangkatnya. Elea nampak kebingungan, ia takut akan hal buruk terjadi kepada Rangga, tapi tadi Elea juga tidak melihat kak Juno.


Pikiran buruk itu terus menghantui Elea, ia takut Kak Juno melukai Rangga karena tadi Kak juno dan gerombolannya tidak kelihatan.


" Ya tuhan, apa yang terjadi dengan Rangga! Semoga dia baik-baik saja, aku mohon!"


Elea bahkan sibuk memikirkan Rangga, sementara yang lain sudah menunggunya di Bus. Akhirnya elea kembali ke dalam Bus, ia pasrah karena Elea sudah terlanjur mengikuti acara perkemahan, meski tanpa Rangga. Sementara murid lain nampak gusar dengan kedatangan Elea karena hampir setengah jam mereka menunggu Elea sampai Bus yang mereka tumpangi tertunda.


" el kamu dari mana saja sih!" ucap Kiara yang nampak aneh dengan sikap Elea


" Ke toilet, namanya juga kebelet memangnya mereka mau melihat ku buang air besar di sini?" ucap Elea


" Kamu tuh kenapa sih, dari tadi aneh kayak lagi mencari seseorang..." ucap Karin yang memperhatikan


" Menurut kalian saja, aku biasa saja kok!" ucap Elea yang memaksakan diri untuk tersenyum, ia tidak ingin membuat kedua sahabatnya merasa khawatir.


Tak lama, muncul seseorang dari balik gerbang sambil berlari, ketika bus hendak berangkat, Rangga berlari dengan sangat kencang sambil menghentikan bus. Untung saja supir Bus melihat kedatangan Rangga, ia menghentikan setirnya, dan berbicara kepada ketua pembina kalau ada murid yang ketinggalan.


Elea nampak tidak sadar kalau murid yang ketinggalan adalah Rangga.


" Rangga?" ucap Elea yang melihat Rangga ada di hadapannya, senyum Elea kembali terpancar ketika Rangga datang.


" Lan, kamu kalau mau pendekatan sama Karin mending duduk sama karin deh, biar nanti enak pas karin tidur kan bisa deket sama kamu!" bisik Elea, Dylan pun menuruti keinginan Elea karena ada benarnya juga, akhirnya Dylan pindah duduknya ke belakang tepatnya ia menggeser Kiara untuk pindah dan duduk bersama teman lainnya, meski Karin menolak tapi Dylan tetap keras kepala duduk di dekat Karin.


Elea tersenyum ke arah Rangga, dan Rangga juga tersenyum ke arah Elea meski wajahnya sedikit berkeringat namun ketampanan Rangga tidak ada duanya.


Rangga memang sibuk, karena pagi sekali ia pergi mencari bucket lolipop kesukaan Elea, kebetulan Rangga sudah memesan nya dari sore dan diambilnya di pagi hari, jarak antara toko permen lolipop itu sangat jauh dari area sekolah, dan jalanan begitu macet.


Rangga tidak ingin membuat Elea begitu gelisah, karena ia tahu di saat cuaca dingin, permen lollipop lah yang akan menemani Elea. Begitupun kata Alvin, kalau saja Elea berada di tempat dingin, ia tidak akan bisa tidur kalau tidak mengemut lolipop , terpaksa Rangga mencari permen lollipop kesukaan Elea dan hanya ada di satu toko, kebetulan toko pink candy merupakan toko permen favorit elea semenjak kecil.


Sayang sekali, Rangga tidak bisa melihat Elea sewaktu kecil karena ia tinggal di Sydney waktu itu.


Setelah membeli permen akhirnya, Rangga berangkat menuju sekolah namun, ia melihat bantal boneka yang begitu bagus, bantal bergambar lolipop nampak anggun terpampang di kaca, ia segera membeli nya untuk menemani Elea.


Rangga tidak ingin Elea kedinginan, apalagi ia tidak bisa berada di satu tenda dengan Elea mungkin permen lollipop dan bantal bisa menghangatkan Elea.


Rangga duduk di samping Elea sambil ngos-ngosan.


" Hampir saja aku telat!" bisik Rangga Sambil tersenyum.


" Kalau sampai kamu tidak ikut, aku menyesal telah mengikuti kegiatan ini!" ucap Elea sambil cemberut.


" Buat kamu!" ucap Rangga sambil memberikan bucket permen lollipop dan bantal bergambar lolipop


Elea membukanya dan bahkan terkejut, ia hendak menjerit namun Rangga menutup mulutnya dengan telapak tangannya.


" Diam saja, nanti banyak yang memperhatikan kita!" ucap Rangga sambil membekam mulut Elea.


Elea pun menelan kembali jeritannya, ia nampak terpukau dengan pemberian Rangga, bahkan mata nya berkaca-kaca, karena Elea tidak pernah tahu, kalau Rangga begitu memperhatikan keinginannya.


" Aku telat karena mencari ini buat kamu!" ucap Rangga sambil menunjuk permen ditangan Elea.


" Aaaaaaa... mau nangis!" ucap Elea karena matanya sudah berkaca-kaca.


" Lah bukannya senang kok malah mau nangis? kamu nggak suka yah?" ucap Rangga


" Aku suka banget, kamu kenapa sih bikin jantung aku dag-dig-dug terus, kenapa sih Ga.! kalau kamu kayak gini terus, gimana aku nggak makin sayang.... " ucap Elea dengan tanpa malu-malu, mengungkapkan rasa sayangnya.


" Dasar cewek pecicilan!" ucap Rangga sambil mengelus rambut Elea.


" Dasar anak beruang kutub!" ucap Elea sambil menyandarkan kepalanya di pundak Rangga.


" Tukang ngambek!" ucap Rangga lagi


" Cowok dingin... " balas Elea lagi.


Keduanya saling meledek satu sama lain, akan tetapi Rangga dan Elea begitu nyaman. Elea bahkan telah menggila oleh ulah Rangga yang begitu romantis. Elea salah menilai, ia bahkan menduga Rangga bukan cowok romantis melainkan cowok dingin yang sibuk mencintai dirinya sendiri akan tetapi setelah mengenalnya lebih dekat ternyata Rangga cowok idaman yang selama ini Elea cari.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Takut ada yang kepo, nih author kasih gambarnya hehehe



Bucket Lolipop





Bantal lolipop





Rangga





Elea




Guys, Komen dong kira-kira kalian setuju nggak kalau aku update seminggu sekali ? atau dua hari sekali yah?


kalau seminggu paling 3-4 episode guys


Jangan lupa Vote, komen, like dan share.


Team Baper mana suaranya?