My Doctor Is My Husband

My Doctor Is My Husband
Aku minta maaf :(



Setelah sampai di sekolah, Elea langsung menghampiri Rangga, ia tidak bisa terlalu lama diacuhkan oleh Rangga, bahkan Rangga sama sekali tidak perduli dengan Elea. Walaupun Elea sudah mencoba untuk memberikan kode terhadap Rangga.


" Rangga....." Sahut Elea sambil menghampiri Rangga yang berjalan dari arah gerbang sekolah, ia juga sedang menunggu supir dari rumah untuk menjemputnya.


" Rangga, aku minta maaf! Jangan diamkan aku seperti ini...." Ucap Elea sambil memegang kedua lengan Rangga.


Rangga menghela nafas sejenak, sebenarnya ia tidak ingin mengacuhkan Elea, tapi sikap Elea yang seperti ini, malah semakin membuat Rangga tidak bisa terlalu lama mendiamkan Elea.


" hmm iya..." Jawab singkat Rangga tanpa melihat wajah Elea sama sekali.


" Kamu nggak marah lagi kan sama aku?" tanya Elea lagi, sambil merengek


" Iya..." Jawab Rangga lagi dengan singkat nya.


" Ah Rangga, kalau nggak marah tapi kenapa malah diam kayak gtu, aku kan udah minta maaf...." Ucap Elea lagi, sambil terus merengek dan menarik sweater yang Rangga kenakan.


" Udah ya, aku mau pulang!" Ucap Rangga, kebetulan supir pribadi dari rumahnya sudah datang untuk menjemput Rangga.


" Jangan pulang dulu, sebelum maafin aku..." Ucap Elea sambil terus menarik sweater Rangga, sampai tubuh Rangga tertarik.


" lebih baik kamu pulang juga, kasihan Alvin sudah menunggu kamu dari tadi..." Jawab Rangga.


Elea cemberut, sambil perlahan melepaskan cengkraman di sweater Rangga, ia berusaha menerima kesalahan nya, Elea terdiam sejenak, ia menghapus air matanya yang tadi sempat keluar begitu saja, secepat itu Rangga berubah, hanya karena kesalahan yang Elea perbuat, lantas untuk apa dia memberikan sebuah cincin, ketika pertama kali menyatakan cinta?


Bukankah Rangga yang menyuruh Elea untuk menjaga cincin ini? Tapi, kenapa disaat ada masalah yang bermunculan, Rangga memilih untuk pergi begitu saja.


Apa kesalahan Elea terlalu fatal, sampai tidak ada kata maaf dari Rangga.


akankah kejadian kemarin hilang dari ingatan Elea begitu saja.


Elea sudah terhanyut dalam buaian Rangga, bagaimana Rangga mampu meluluhkan hati yang sekeras baja, tapi disaat Elea mulai luluh, bahkan ia memberikan seluruh hati nya untuk Rangga, tapi apa yang di lakukan Rangga?


Dia pergi,


Disaat masalah mulai berdatangan.


" Baik, kalau kamu tidak mau memaafkan aku, untuk apa aku bertahan hanya demi sebuah cincin?" Ucap Elea lalu menjauh dari Rangga.


Elea menangis, dan membuang muka, ia beralih membalikan tubuhnya, ia tidak mau menatap Rangga meski tubuhnya memaku hanya terdiam di satu sisi.


Rangga yang membuka pintu mobil, ia tidak tega melihat Elea seperti itu, apalagi Elea baru pertama kali menangis, di hadapan Rangga, rasanya perasaan Rangga hancur seketika.


Rangga menutup kembali pintu mobil nya, ia menyuruh supir untuk menunggu nya sebentar, kebetulan sekolah sudah sepi, karena siswa yang lain sudah pulang hanya ada alvin yang sedang menunggu Elea di seberang jalan , jauh dari posisi Elea dan Rangga.


Rangga berjalan menghampiri Elea, karena Elea masih diam memaku,


Rangga memeluk Elea dari belakang, dan mendekapnya dengan sangat erat. Elea nampak terkejut, dengan perlakuan Rangga.


" Dasar cengeng, aku maafkan kamu ratu lolipop!" Ucap Rangga lalu melepas dekapan nya.


Elea berbalik arah, ia menatap Rangga.


" Kamu jahat banget sih!" Ucap Elea sambil mencubit perut Rangga dengan sangat kencang, sampai Rangga merintih kesakitan.


Rangga menghapus air mata yang jatuh di pipi Elea dengan jari jemarinya.


" Katanya mau menjauhi aku?" Ucap Rangga sambil meledek ke arah elea.


" Aku nggak bisa jauh dari kamu...." Ucap Elea dengan tegas nya.


" Yaudah pulang gih, kasihan Alvin sudah menunggumu.." ucap Rangga yang menyuruh Elea untuk pulang ke rumah bersama alvin.


" Cowok nyebelin, aku benci sama kamu!" Ucap Elea yang mendorong tubuh Rangga dan memukul nya.


" Tapi sayang kan?" Ucap Rangga sambil menggoda Elea.


" Nggak .." ucap Elea sambil berlari dan ketawa ke arah Rangga, Rangga sampai menggelengkan kepala nya melihat Elea yang tadi sedang menangis, tapi sekarang malah tertawa.


itulah cinta, kalau memang keduanya disatukan pasti akan ada kebahagiaan. Begitu juga Elea yang sudah terlanjur mencintai Rangga.


Akhirnya Rangga masuk ke dalam mobil, ntah tubuhnya begitu menggigil, panas dan dingin menjadi satu.


Pak Antoni, sebagai supir pribadi Rangga, bahkan ia sudah menjadi supir pribadi keluarga dokter Affandy semenjak di Sidney, Pak Anton sudah menjadi pengasuh bagi Rangga, ia sudah tahu bagaimana sikap dan karakter serta apapun yang di rasakan oleh Rangga.


" Tuan, apa lebih baik kita ke klinik terdekat saja?" ucap Pak Anton, yang khawatir melihat Rangga yang kedinginan, akan tetapi suhu tubuhnya begitu panas, ia terpaksa mematikan Ac didalam mobilnya.


" Tidak, aku ingin pulang saja!" ucap Rangga sambil gemetaran.


Sebenarnya, semenjak kepulangan dari Eagle hills, Rangga memang sudah tidak enak badan, mungkin karena tubuhnya kurang istirahat, tapi ia menahan rasa sakit tersebut dihadapan Elea, ntah rasa sakit, yang ada di tubuhnya mampu terobati dan hilang sekejap ketika sedang bersama Elea.


Tapi, di saat Elea pergi, Tubuh Rangga terkulai lemas, bahkan Pak Anton tidak pernah melihat Rangga seperti ini.


" Tuan, jangan membuat saya khawatir! lebih baik kita pergi ke klinik atau rumah sakit saja?" ucap Pak Anton, tapi Rangga keras kepala menolak keinginan Pak Anton.


Dengan terpaksa, Pak Anton membawa Rangga pulang ke rumah dan langsung menggandeng tubuhnya untuk masuk ke dalam rumah. Meski Rangga terus menolak, tapi Pak Anton tidak ingin Rangga kenapa-napa.


" Saya tidak apa-apa Pak Anton!" ucap Rangga.


wajah nya begitu pucat, bahkan bibirnya membiru karena menahan rasa sakit.


" Saya tidak pernah melihat tuan Rangga seperti ini, saya khawatir..." ucap Pak Anton.


Reyna selaku ibu dari Rangga nampak sibuk dengan telepon genggam nya, karena ia sibuk membicarakan tentang pekerjaan dokter Fandy.


Dokter Fandy sendiri diangkat menjadi manager di salah satu perusahaan rumah sakit swasta di Sidney, dan ia memiliki kerja sama antar ikatan dokter di sidney untuk membangun rumag sakit baru khusus , karena butuh waktu yang begitu lama, Dokter Fandy tidak bisa pulang pergi dari jakarta ke Australia, ia terpaksa harus tinggal di Sidney beberapa bulan atau beberapa tahun.


Karena pembangunan Rumah Sakit tidak lah memakan waktu sedikit, melainkan lama.


Reyna sendiri harus bisa mendukung pekerjaan apapun yang di lakukan oleh suaminya, karena bagaimanapun pekerjaan dokter Fandy untuk keluarga kecilnya.


Ia sendiri bingung, dengan Rangga.


Meskipun Rangga sudah betah berada di sini, tapi kemungkinan besar Rangga senang bisa kembali ke Sidney dan bertemu teman lama nya di sana.


Memang, pekerjaan itu sangat mendadak, padahal keputusan Reyna maupun dokter Fandy sudah bulat untuk tinggal disini, tapi dokter Fandy juga tidak bisa lari dari pekerjaan nya begitu saja, ia masih mempunyai tanggung jawab. Tapi, kali ini hanya sebatas pekerjaan karena ia tidak akan menetap di Sydney kecuali Rangga yang memintanya untuk pindah kembali.


Rangga mendengar sedikit pembicaraan antara Mama dan Papa nya, ia begitu terkejut ketika mendengar kalau Mama dan Papa nya akan pergi dan kembali ke Sidney untuk beberapa bulan atau beberapa tahun, sementara Rangga baru saja betah tinggal disini.


" Ma, apa benar kita mau pindah ke Sidney lagi?" ucap Rangga, dan berjalan ke arah Mama nya, meski tubuhnya sedikit lemas.


" Sayang, kamu sudah pulang?" ucap Mama Reyna sambil mencium Rangga. Tapi, Reyna begitu terkejut ketika mencium kening Rangga, karena tubuh nya begitu panas.


" Sayang, kamu kenapa? Pak Anton apa yang terjadi dengan Rangga?" ucap Reyna nampak khawatir, mungkin ini bukan saat yang tepat untuk membicarakan kepindahannya, karena Rangga tidak mampu menahan rasa sakit, apalagi tubuhnya sudah terkulai lemas di atas sofa besar miliknya.


Reyna langsung membawa Rangga ke kamar, ia bahkan langsung menelpon dokter Fandy untuk segera pulang dari rumah sakit, karena Reyna begitu khawatir dengan keadaan Rangga.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Duh gawat!!!!!


Gawat kalau kalian nggak Like, komen, dan Vote hehehe