My Doctor Is My Husband

My Doctor Is My Husband
Salah masuk kamar



Aleyna menghampiri Alvin dan juga Rangga, kebetulan Reyna juga memberikan amanah kepada Aleyna untuk menjaga Rangga malam ini, karena Reyna dan Fandy pergi ke Bandung untuk dua hari.


Dengan senyum ramah, Aleyna menghampiri Rangga yang sedang berbincang dengan Alvin.


" Alvin, kok rangga tidak di suruh masuk?" ucap Aleyna


Rangga pun mencium tangan Aleyna, ia tersenyum begitu ramah, sampai Aleyna begitu heran mengapa Elea mengatakan kalau Rangga itu jutek padahal Rangga begitu sopan.


" Tidak apa-apa Tante, sebentar lagi Rangga pulang kok!" ucap nya.


" Loh, Mama Reyna sudah menitipkan kamu untuk malam ini menginap saja, soalnya Mama dan Papa kamu sedang ada urusan di Bandung"


" Oh gitu... Mereka bahkan tidak mengabariku!"


Alvin tersenyum dengan senang menyambut Rangga.


" Lebih baik menginap saja Ga, jadi kita bisa main game semaleman!"


Aleyna melirik ke arah Alvin.


" Tidak untuk main game! kalian besok sekolah kan?"


" Besok libur Mom, jadi boleh dong?"


" Tapi jangan terlalu malam tidurnya, nanti kena ocehan Daddy...."


" Siap Mom... "


Alvin pun mengajak Rangga untuk masuk ke dalam kamarnya, sementara Rangga mengambil peralatan game di kamar tamu. Rangga kebingungan karena ia begitu lupa arah kamar Alvin, semuanya telah di rombak tidak seperti dulu.


Ada dua pintu kamar yang tersedia di lantai atas, Rangga bingung pintu mana yang harus ia buka untuk menuju kamar Alvin.


" Kiri atau kanan pintu nya?"


dengan penuh keyakinan, Rangga membuka pintu di sebelah kanan, karena dulu letak kamar Alvin ada di sebelah kiri.


Dengan perlahan, Rangga membuka pintu kamar yang ada di sebelah kiri.


Rangga masuk ke dalam kamar tersebut, dan merebahkan tubuhnya yang di rasa ngilu dan pegal-pegal, kebetulan kasurlah tempat ternyaman saat ini.


" Sejak kapan Alvin menyukai warna pink?"


Rangga menatap ke arah tirai dan juga sprei yang terpasang yaitu warna pink dan juga baby blue, Rangga mulai menyadari ia salah masuk kamar.


" Jangan-jangan ini kamar Elea?"


Elea keluar dari arah kamar mandi yang terletak di dalam kamarnya, ia menggunakan handuk kecil yang dililitkan di atas kepala untuk menutupi rambutnya yang basah, dan memakai handuk piyama berwarna merah muda, sambil bernyanyi Elea menuju lemari untuk mencari pakaian, namun kedua bola matanya membulat ketika melihat Rangga berada di kamarnya.


" Aaaaaaaaaaa......... Pergi kamu dari kamarku!"


Elea mengambil bantal untuk memukul Rangga , karena ia lancang memasuki kamarnya.


" Aw sakit.... "


" Kamu sengaja kan mau mengintip aku!"


" Dasar cowok ********!"


Rangga meronta-ronta, ia tidak sempat berlari kearah luar karena elea terus memukul nya dengan bantal.


" Enak saja, siapa juga yang mau mengintip kamu! lagi pula aku sudah melihatnya...."


Rangga tertawa cekikikan, ia sengaja membuat Elea kesal. Karena menurut Rangga, elea begitu cantik ketika sedang marah-marah.


" Sialan! keluar kamu dari kamarku..."


" Kalau aku tidak mau gimana?"


Rangga mengedipkan mata sebelah kanannya, dan menampilkan wajah nakal nya.


" Pergi..... "


Elea terus mendorong tubuh Rangga untuk keluar dari kamar nya, sampai tubuh Rangga terpental ke arah luar, Elea langsung membanting pintu dengan kerasnya.


" Bruk......."


Rangga senyum sendiri melihat Elea yang begitu jutek terhadapnya, mungkin ini yang dirasakan Elea ketika Rangga mulai bersikap acuh kepadanya, tapi tidak untuk sekarang, karena Elea mampu membuat hati Rangga yang kokoh menjadi luluh.


Tak lama Alvin datang dengan membawa satu buah game dan stick game nya, ia begitu terkejut ketika melihat Rangga yang masih berdiri di depan pintu.


" Loh, bukankah aku menyuruhmu menunggu di kamarku?" ucap Alvin


" Aku salah masuk kamar!" dengus Rangga


Alvin menertawakan Rangga, ia sudah mengira kalau elea pasti memukulnya habis-habisan. Alvin langsung mengajak Rangga untuk masuk ke dalam kamarnya dan bermain game sampai larut malam.


***


Sementara pagi sekali Karin dan juga Kiara sudah rapi, mereka berencana akan main ke rumah Elea, sudah beberapa hari ini Karin maupun Kiara tidak bertemu dengan sahabat pecicilan nya itu, mereka sudah rindu kepada Elea.


Karin membawa mobil dengan di temani oleh Kiara kebetulan rumah Kiara dan Karin tidak terlalu jauh. Niatan mereka ingin mengajak Elea lari pagi mengitari komplek perumahannya atau di alun-alun olahraga yang biasanya ramai di minggu pagi ini.


Tak di sangka, di penghujung jalan Kiara dan Karin bertemu dengan Dylan.


Dylan sengaja membawa sepeda untuk bersantai di pagi hari, sekalian ia ingin pergi ke rumah Alvin.


Karin menekan tombol klakson, dan membuat Dylan berdecih kesal.


" Hai dylan..... " sapa Karin lalu menyetir secara perlahan beriringan dengan Dylan yang mengayuh sepeda.


" Mimpi apa yah, pagi-pagi di sapa cewek cantik" ucap Dylan sambil mengedipkan mata sebelah kirinya.


" Haha, jangan kepedean deh, lagi pula aku cuma bercanda... "


" Serius juga tidak apa-apa Rin... " ucap nya


" Ih, amit-amit deh... "


Karin langsung mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi, meninggalkan Dylan. Karin benar-benar tidak menyukai Dylan yang terus menggoda nya, tidak di sekolah tidak juga disini, Dylan terus menggoda Karin.


" Kenapa sih Rin?" ucap Kiara sambil tertawa cekikikan.


" Saudara kamu itu menyebalkan! Kenapa sih jadi orang kepedean banget... "


" Hati-hati deh, benci jadi cinta nanti yang ada..."


" Nggak! Cinta aku cuma untuk Alvin seorang. Lagi pula Alvin itu sudah cukup sempurna dibandingkan Dylan..."


" Tidak ada yang sempurna didunia ini Rin, Lagi pula nggak salah kan kalau Dylan menyukai kamu?"


" Ya, tapi aku nggak suka sama dylan..."


" Belum suka, nggak tau kalau nanti?"


" Kok kamu lama-lama ngeselin yah Ra?"


" Cieeh, emosi mulu. Lagi datang bulan apa?"


" Kalau iya kenapa?"


" Ih jadi takut... "


Tak lama Dylan terus mengejar mobil Karin, bahkan Karin bisa melihat Dylan yang berada di belakang mobil nya lewat spion.


" Ih ngapain coba Dylan mengikuti aku?" dengus Karin sambil terus memperhatikan Kaca spion


" Itu nama nya, Pantang menyerah Rin.."


" Ra, kamu bisa diam nggak?"


" Hehehe, iya aku diam... "


Karin menekan gas mobil dengan sangat kencang, agar Dylan tidak bisa mengejarnya. Karin juga ingin cepat sampai ke rumah Elea agar Dylan kehilangan jejak nya.


Akhirnya Karin sudah sampai di depan gerbang, kebetulan perumahan elit ini di jaga ketat oleh seorang security, Karin dan Kiara harus meminta ijin kepada security untuk masuk ke dalam perumahan elit ini, dan Security yang jaga pun langsung menelpon ke rumah Dokter Adnan, kebetulan Aleyna yang mengangkat dan mengijinkan Karin beserta Kiara untuk masuk ke dalam perumahan.


" Terimakasih Pak... " ucap Karin dan Kiara lalu masuk ke dalam mobil, namun kedua bola mata Karin nampak terbelakak ketika melihat Dylan yang dengan santai nya melajukan sepeda menuju perumahan Elea, tanpa meminta ijin security.


" Pak, kok orang yang naik sepeda tadi nyelenong begitu saja?" ucap Karin


" Dia itu sudah terbiasa bermain ke perumahan ini, bahkan semenjak dia kecil jadi saya tidak bisa terus menerus menanyakan dia hendak kemana, soalnya saya sudah tahu."


" Oh begitu, baik Pak... "


Karin menggaruk kepalanya yang tidak gatal, dan menatap kepergian Dylan


" Ciee, jangan di tatap terus nanti yang ada malah kangen... " Ucap Kiara sambil menepuk Bahu Karin sampai, ia begitu terkejut.


" Apaan sih Ra... " ucap Karin dan langsung memasuki mobil dan menancap gas menuju arah kompleks rumah elea. Karin juga merasa penasaran, kemana Dylan akan pergi. Ia takut, bertemu Dylan lagi di rumah Elea.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Kira-kira mereka mau kemana aja yah ?


So, dont forget to Like, komen, and Vote :)