
Di keramaian malam, keluarga dokter fandy sudah membooking sebuah restoran mahal, memang pertemuan kali ini berbeda, biasanya mereka langsung datang ke rumah dokter Adnan namun setelah mendengar alasan dari Rangga ketika ia tidak ingin pergi ke sidney, dokter Fandy merasa tersentuh, ia sadar karena ia pernah merasakan hal yang sama. Dokter Fandy tidak ingin memaksa Rangga, apalagi memisahkan Rangga dengan Elea. Meski terkesan konyol tapi, dokter Fandy ingin keluarga dokter Adnan mengetahui akan hal ini.
" Apa sebaik nya kita satukan saja Rangga dan Elea dalam ikatan pernikahan?" Ucap Dokter Fandy yang sedang menunggu Reyna berdandan.
" Aku tidak setuju! Mengapa terlalu cepat, lagi pula mereka masih sekolah!" Bentak Reyna, memang permintaan dokter Fandy terkadang sedikit aneh.
" Memang kenapa kalau mereka sekolah? Sekarang banyak di kalangan luar, meski mereka masih sekolah akan tetapi mereka sudah berkeluarga!" Ucap Fandy
" lagi pula aku yakin aleyna maupun dokter Adnan tidak akan setuju kalau mereka menikah di usia muda...." Tegas Reyna
" Hahaha, kalau aku yakin Adnan pasti akan setuju!" Ucap fandy sambil tertawa
Reyna semakin kesal dengan ulah dokter Fandy yang selalu ingin menikahkan Rangga, padahal baru saja kemarin rasanya Reyna melahirkan dan membesarkan Rangga, ia masih ingin menghabiskan waktu bersama anak semata wayang nya.
Reyna pergi ke kamar Rangga, ia melihat Rangga yang sedang berdiri didepan cermin sambil menyisir Rambut, memang anak nya sekarang sudah beranjak remaja, Reyna menghela nafas sambil tersenyum dan menghampiri Rangga.
" Anak mama ganteng banget!" Ucap Reyna sambil berdiri di belakang Rangga.
Rangga tersenyum dan hatinya berasa senang, ia akan bertemu dengan wanita yang sudah seminggu ini mendiamkan nya. Rindu itu sudah terkumpul dalam hati.
" Ma, bagaimana penampilanku?" Ucap Rangga yang kini memakai kemeja dengan rambut yang di tata rapih, Rangga semakin mirip dengan Dokter Fandy ketika muda.
" Kamu semakin mirip Papa kamu, sewaktu dia mengajak Mama kencan!" Ucap Reyna sambil tersenyum.
" Aku tidak egois seperti Papa!" Ucap Rangga
" Sama saja, tidak ada beda nya!" Ucap Reyna sambil tersenyum.
" ma..."
Reyna berhenti tertawa karena Rangga terus memanggil nya. Tak lama dokter Fandy datang dan mengajak mereka untuk segera berangkat.
" Apa kalian sudah siap?" Ucap dokter Fandy yang berdiri di ambang pintu, Reyna pun mengajak Rangga untuk keluar dari kamar dan berjalan menuju area perkarangan rumah. Dokter Fandy mungkin akan menyuruh penjaga ruma untuk berjaga ketat karena mungkin malam ini mereka akan pergi sangat lama sekali.
Pertemuan makan malam ini bukan hanya sekedar makan malam biasa, Dokter Fandy juga mengundang keluarga dokter Daniel untuk ikut makan malam karena momen seperti ini akan dirindukan oleh dokter Fandy ketika ia sudah pindah ke negeri kangguru tersebut.
Dokter Fandy ingin berkumpul dengan teman-teman nya yang sudah lama sibuk dengan pekerjaan masing-masing, meski mereka tidak muda lagi tapi jiwa mereka masih tetap muda.
Mobil sport berwarna hitam metalik pun keluar dari gerbang rumah dokter Fandy, mereka menuju restoran mahal yang sudah di pesan oleh dokter Fandy. Rangga mengira ia akan bertemu dengan elea namun , Fandy malah merahasiakan nya.
" Kita sebenarnya mau pergi kemana?" Ucap Rangga karena setahu Rangga mereka akan pergi ke rumah Elea.
" Memang nya kenapa Rangga?" Ucap Dokter Fandy
" Jangan membohongiku Pa, kemarin Papa bilang kita akan bertemu dengan Elea?" Ucap Rangga
" Ikuti saja, jangan banyak bicara..." Ucap dokter Fandy.
" Mama yakin kamu sudah tidak sabar bertemu dengan Elea..." Ucap Reyna sambil tersenyum melirik ke arah Rangga yang duduk di kursi belakang. Rangga tersipu malu seharusnya ia tidak menanyakan hal itu, tapi kerinduan yang amat dalam mampu membuat Rangga melupakan segala nya.
***
Dengan rasa malas, Elea beranjak dari kamar tidur, Aleyna terus memaksa Elea untuk bangun dan ia sudah memilihkan dress berwarna pink yang cocok untuk kulit Elea yang putih.
" Ayo bangun sayang!" Ucap Aleyna yang terus memaksa Elea untuk bangun, padahal baru jam delapan malam tapi elea sudah tertidur, mungkin karena ia bosan seharian di kurung di kamar oleh dokter Adnan.
Elea juga tidak mengetahui ia akan pergi kemana, ntah apa yang akan di lakukan oleh kedua orang tua nya, Elea bak boneka yang sedang didandani oleh Momy nya, Elea hanya bisa diam setelah ia melihat rasa bahagia di hati momy nya.
" Sebenarnya kita mau kemana sih Mom?" Ucap Elea yang merasa penasaran.
" kenapa tidak makan malam di rumah saja, lagi pula kenapa Momy harus merias wajah ku seperti ini!" Ucap Elea yang protes
" Momy boleh bertanya?" Ucap Aleyna kepada Elea sambil memegangi kedua bahu Elea.
" Iya silahkan Mom!" Ucap Elea
" Akhir-akhir ini, kamu sering sekali mengurung diri di kamar, kadang bibi juga mengatakan kamu sering sekali menangis sambil menatap layar handphone!" Ucap Aleyna, meski ia jarang di rumah akan tetapi, Bibi selalu mengatakan apa yang dilakukan oleh kedua anak kembar nya tersebut.
" Hah, mungkin el sedang menonton drama korea, jadi sedikit terbawa perasaan mom!" Celoteh Elea sambil berbohong, ia menggigit bibir bawah nya.
" Momy kira patah tulang eh pata hati...." Ucap Aleyna sambil tertawa.
Elea nampak malu, ternyata selama ini bibi selalu mengutarakan apapun yang di lakukan elea di rumah ini.
" Awas saja, aku tidak akan tinggal diam bi..."
Elea bergumam dalam hati, ia merasa malu kalau saja ketahuan menangisi seorang Rangga.
Karena sebelumnya tidak ada hal yang membuat elea bisa menangis kecuali Ayah nya dan juga Rangga.
Setelah selesai, el dan juga Momy turun ke lantai bawah untuk menemui Dokter adnan juga Alvin yang sudah hampir dua puluh menit menunggu kedatangan Elea.
" Jadi ini putri nya yang di tungguin dari tadi..." Ledek Alvin
" Apaan sih kak Alvin, nama nya juga cewek, wajar kan Mom?" Tanya Elea dengan wajah cemberut.
" jangan berantem gitu, ayo kita berangkat!" Ucap Momy
" Iya kasihan yang lain sudah menunggu..." Ucap dokter adnan.
Mereka pergi dengan menggunakan mobil keluarga yang biasa di pakai untuk pergi kemanapun.
Di dalam perjalanan, Elea baik alvin terus bertanya tentang tujuan nya. Mereka sama sekali tidak di beritahu mengenai acara makan malam ini.
" Jangan-jangan makan malam untuk acara perjodohan?" Celoteh Alvin
" Paling daddy mau menjodohkan kak alvin sama anak rekan kerja daddy, hehehe....." Ledek Elea sambil tertawa.
" Enak saja. Yang ngebet nikah kan kamu? Bukan kak alvin..." Ledek Alvin juga.
" daddy maupun Momy tidak ada niat untuk menjodohkan kalian, karena momy juga berawal dari perjodohan..." Ucap Momy sambil tertawa.
" Hah, kok bisa sih momy dan daddy di jodohkan. Kalau aku sih, pasti menolak perjodohan!" tegas Elea.
" Iya elea benar mom, bagaimana pun aku maupun Elea ingin mencari pasangan sendiri..." Ujar Alvin.
" Iya setuju sama kak alvin!"
" Kalian ini masih sekolah, sudah memikirkan jodoh!" Ucap dokter Adnan.
" Tapi, Daddy juga menikahi momy pas momy masih sekolah. " Ledek Aleyna dan membuat dokter adnan tersipu malu.
" Kenapa romantis banget sih mom, andaikan ada cowok yang seperti daddy...." Ucap Elea sambil membayangkan wajah Rangga.
" Tuhkan, el memang kebelet nikah...." Ujar alvin
Sepanjang perjalanan, Alvin maupun elea terus meledek satu sama lain, sampai mereka melupakan kemana mereka akan pergi, perjalanan menuju restoran pun tidak terasa lama karena mereka meramaikan suasana. Aleyna bahkan berpikiran untuk memiliki anak lagi, karena sudah lama ia menahan nya, setelah ia takut akan keguguran sewaktu dulu.