
Alvin masuk menuju kelas Fisika, kebetulan ia sedikit terlambat, dengan langkah pelan Alvin mulai mengetuk pintu kelas, semua mata tertuju dengan kedatangan Alvin.
hampir semua penghuni kelas X Ipa 1 merasa kagum dengan Alvin, tak sedikit siswa perempuan yang mendambakan Alvin untuk dijadikan sebagai kekasih.
Karena kepintarannya, Bu Riri pun menyuruh Alvin untuk masuk ke dalam kelas.
" Maaf bu, saya terlambat!" ucap Alvin ,lalu Bu Riri mempersilahkan Alvin untuk duduk.
Alvin menghampiri kursi yang berdekatan dengan Dylan, kebetulan Dylan sudah menunggu kedatangan Alvin dari tadi.
Untung saja, Alvin masih bisa masuk ke kelas dibandingkan Elea yang harus kena hukuman.
Bu Riri pun menjelaskan soal soal fisika, mengenai rumus dan pengerjaan nya, namun di dalam bayangan Alvin, seperti nya Alvin sudah menguasai pelajaran yang Bu Riri ajarkan, bahkan otak Alvin bekerja begitu keras, seolah soal - soal yang ada di papan tulis, mudah sekali di kerjakan hanya dengan satu kedipan saja.
" Ada pertanyaan?" ucap Bu Riri setelah selesai menjelaskan soal-soal yang sudah tertulis di papan.
" Bu, apa tidak ada pelajaran yang lain, bukan kah ibu sudah menjelaskan soal ini?" ucap Alvin
" Alvin, kita baru memulai! memang nya kamu sudah paham? saya sendiri baru menjelaskan materi ini" ucap Bu Riri merasa heran, karena baru kali ini ada murid seperti Alvin.
" Tapi, saya sudah pernah belajar mengenai materi ini bu, !" ucap Alvin dan membuat semua teman satu kelas nya begitu heran.
Bu Riri menyuruh Alvin untuk maju ke depan, karena ucapan Alvin begitu keterlaluan! Bu Riri merasa Alvin sangat merendahkannya. Bu Riri yang terkenal galak dan juga kejam terhadap murid, begitu marah ketika Alvin mulai menantang nya.
Sementara anak-anak yang lain mengerjakan satu soal yang sama dengan yang sudah di jelaskan oleh bu Riri mengenai besaran dan satuan begitu pun rumus- rumus nya.
" Alvin, maju ke depan!" ucap Bu Riri yang nampak kesal.
" Saya bu?" ucap Alvin merasa heran
" Maka nya vin, jangan cari masalah sama bu Riri, katanya sih dia galak!" ucap Dylan yang begitu takut dengan tatapan bu Riri.
" Kalau kita tidak salah, untuk apa takut!" ujar Alvin dan langsung berdiri dan berjalan ke arah depan
Alvin duduk di depan meja bu Riri, sementara suasana seolah menjadi hening karena semua murid fokus mengerjakan soal latihan yang diberikan oleh bu Riri.
" Apa maksud kamu? mengatakan kalau pelajaran yang saja ajarkan itu sudah kamu pahami, padahal saya belum menjelaskan sama sekali! " ucap Bu Riri
" Maaf bu, aku juga tidak tahu. semua itu tiba-tiba muncul di dalam pikiran ku." ucap Alvin yang merasa heran.
" Kamu sengaja ingin mempermalukan saya sebagai guru!" ucap Bu Riri merasa marah.
" Jangan tersinggung bu, saya hanya mengatakan yang sebenarnya." ucap Alvin yang merasa aneh dengan otak nya.
" ikut saya ke ruang Bimbingan konseling" ucap Bu Riri.
Akhirnya, Alvin pun mengikuti langkah Bu Riri menuju ruang bimbingan konseling, padahal Alvin tidak pernah membuat kesalahan fatal, hanya saja kinerja otak nya terlalu cepat untuk bekerja atau mengingat hal yang sebelum nya tidak pernah terjadi, bahkan itu muncul begitu saja tanpa Alvin sadari.
Alvin memang tergolong murid baru di sekolah ini, bahkan ia baru saja masuk ke kelas X, semua guru di sekolah ini belum mengetahui kemampuan Alvin, dibandingkan guru nya ketika masih di Sekolah menengah pertama.
Banyak guru di bidang mata pelajaran lain, yang juga ikut heran dengan Alvin, bahkan kepintaran nya dalam menghitung atau mengingat suatu hal begitu cepat, tak heran kalau ia menguasai seluruh bidang mata pelajaran di sekolah.
Bu Riri pun menyuruh Alvin untuk duduk di ruangan bimbingan konseling, ia menemui Pak Angga selaku guru bimbingan konseling, Bu Riri mencurahkan semua tentang Alvin.
" Pak, bagaimana mungkin ada siswa yang kepintaran nya melebihi saya sebagai guru! saya baru tiga kali mengajar di kelas Ipa 1 , dan ada satu murid yang bahkan telah menguasai pelajaran yang saya baru berikan kepada murid lain, apa jangan-jangan dia murid yang jenius?" ucap Bu Riri merasa heran dengan sikap Alvin.
Pak Angga pun tersenyum ke arah bu Riri.
" Kali ini, saya sudah mendapati guru-guru yang komplen dengan kepintaran Alvin! seharus nya kita sebagai guru bangga melihat anak murid kita pintar bahkan melebihi gurunya sendiri" ucap Pak Angga sambil tersenyum.
" Tapi pak, bagaimana dengan murid lain? yang justru belum satu pemikiran dengan Alvin!" ucap Bu Riri.
" Tidak usah heran Bu, kepintaran Alvin menurun dari Ayah nya. Karena Ayah nya sendiri begitu pintar, bahkan beliau telah menjadi seorang dokter di usia muda, kalau saya sih tidak heran kalau Alvin seperti itu!" ucap nya sambil menyeruput kopi yang sudah tersedia di atas meja.
Kemudian bu Riri memanggil Alvin, untuk berbicara dengan Pak Angga.
" Alvin, masuk lah!" ucap Bu Riri
" Iya bu..."
" Alvin, bagaimana kabar mu?" ucap Pak Angga begitu ramah.
" Baik Pak... "
" Alvin, saya bangga dengan kepintaran yang kamu miliki, bahkan saya bangga dengan kamu. " ucap nya.
" Maafkan ibu, karena ibu belum terlalu mengenal kamu Alvin, justru ibu juga bangga dengan kepintaran kamu. " ucap Bu Riri sambil mengelus pucuk rambut Alvin.
" Terimakasih Pak, atau Ibu tapi saya tidak pintar seperti bapak dan ibu guru." ucap Alvin sambil tersenyum
Pak Angga pun memberikan selembar surat yang sudah di masukkan ke dalam amplop besar berwarna coklat, Pak Angga memberikan surat pemberitahuan kepada kedua orang tua Alvin, untuk menyetujui Alvin pindah ke kelas 11, karena ia sudah menguasai seluruh pelajaran di kelas 10, Pak Angga dan juga kepala sekolah Emily's Internasional High school, sudah memutuskan untuk memberikan Alvin, belajar di kelas 10 hanya dalam kurun waktu 3 bulan saja.
" Saya titip amplop ini untuk kedua orang tua kamu, jangan pernah sesekali untuk membuka nya. " ucap Pak Angga.
Alvin merasa bingung, ia takut kalau surat itu berisi perintah untuk mengeluarkan Alvin dari sekolah ini, tapi Alvin sendiri tidak pernah melakukan kesalahan.
Elea mendengar kabar kalau Alvin masuk ruangan bimbingan konseling, ia langsung menunggu Alvin di depan ruang tunggu tepat nya di depan pintu ruangan bimbingan konseling, di sana sudah ada Dylan yang menunggu, Elea pun datang bersama kedua sahabat nya.
" Dylan, sebenarnya ada apa sih sama Kak Alvin? kenapa bisa masuk ruang Bk? padahal kak Alvin dari dulu anti sama yang namanya ruang BK!" cerocos Elea yang baru saja datang.
" Karena Alvin mendahului guru fisika, bahkan ia mengaku telah menguasai semua pelajaran yang ibu Riri berikan, sampai Bu Riri begitu marah." ucap Dylan sembari menjelaskan kejadian sebenarnya.
" Apa? itu nggak adil dong?" ucap Kiara yang merasa heran.
" Alvin pintar saja masuk ruang BK, nah apalagi kita el?" ucap Karin begitu bingung.
" Ada-ada saja sih!" ucap Elea sambil kebingungan.
Tak lama Alvin pun keluar dari ruang BK, bahkan ia memegang amplop coklat yang berbentuk persegi panjang.
Alvin begitu terkejut ketika suasana di luar begitu ramai.
" Kak Alvin, kenapa kak?" ucap Elea yang tergesa-gesa.
Alvin hanya terdiam, ia tidak menjawab pertanyaan dari Elea.
" kamu tidak di keluarkan dari sekolah ini kan Vin?" ucap Dylan merasa khawatir.
" Hah, gila saja kalau sampai di keluarkan karena terlalu pintar." ucap Elea
Karin dan Kiara pun nampak terdiam, mereka tersipu dengan ketampanan Alvin.
" Tidak ada apa-apa, aku mau ke perpustakaan dulu" ucap Alvin yang bergegas begitu saja, di ikuti oleh Dylan.
" Ah, kembaran kamu ganteng banget, jadi kapan kamu mau mendekatkan aku dengan Alvin?" ucap Karin sambil menyenggol tubuh Elea.
" Haha, kayak nya enggak deh! kak Alvin suka tipe cewek yang kebule-bulean gitu nggak lokal kayak kamu." ucap Elea sambil mencubit pipi tembem Karin, lalu menarik Kiara dan meninggalkan karin sendirian.
" Dasar elea menyebalkan!" ucap Karin begitu kesal.
.
.
.
.
.
.
.
.
.