
sudah hampir tengah malam Adnan pun belum bisa tidur nyenyak seperti biasanya,ntah pikiran nya masih tertuju kepada Aleyna dan kedua anak nya yang sedang sakit, ia beranjak dari kamar hotel khusus milik nya.
apa aku terlalu egois, atau kamu yang tidak mengerti pekerjaan aku.
dokter Adnan bergegas keluar hotel, untuk mencari ketenangan dalam hidup nya, karena percuma saja kalau di paksakan tidur tapi semua beban masalah ada di hidupnya.
ia berjalan menuju taman yang ada di depan hotel, dan di sana ada perwakilan dari Banjarmasin yaitu dr. Edwin yang memang bertugas memantau berjalan nya proyek pembangunan rumah sakit di Banjarmasin.
dan ia juga membawa anak nya yang tinggal di Banjarmasin karena ia sedang melaksanakan koas di salah satu Rumah sakit di sana.
Adnan pun menghampiri Aida anak dari dr. Edwin yang sedang duduk bersama satu alat peraga menikin atau alat peraga untuk menjahit luka dengan wajah serius ia belajar menjahit menggunakan alat peraga sampai larut malam.
Aida sendiri anak pertama dari dr. Edwin ia memang tinggal di banjarmasin dan ia baru saja lulus dari Universitas kedokteran , dan ia memang tinggal di Banjarmasin dan sedang menjalani Koas , sedangkan dr. Edwin ayah nya sendiri di percaya Adnan untuk mewakili nya di Banjaramasin karena besok Adnan harus kembali ke Jakarta. dan dr. Edwin pernah mengatakan kalau Aida memang ingin menjadi dokter bedah seperti Adnan, dan bahkan ia sangat kagum dengan kepintaran Adnan.
" kau belum tidur?" ucap Adnan yang menghampiri Aida
" dokter Adnan? kau membuat ku terkejut" ucap Aida sambil melemparkan senyuman
" bukan begitu cara menjahit nya, itu salah " ucap Adnan yang langsung memegang tangan Aida untuk mengarahkan nya agar bisa menjahit luka dengan benar
Aida menatap penuh wajah Adnan, bahkan ia hampir saja berhenti bernafas. karena ia sangat menyukai kecerdasan seorang Adnan.
mengapa dia begitu mempesona.
Aida tidak sedang memperhatikan gerak tangan Adnan melainkan memperhatikan wajah tampan Adnan. ia memang sangat terpesona akan ketampanan dr. Adnan
" jadi apa kau mengerti?" ucap Adnan .
sambil melepaskan arahan tangan nya
" Aku... mmmm.. aku sudah mengerti" dusta Aida padahal ia sama sekali tidak memperhatikan.
Adnan mulai duduk di bangku sebelah menatap langit malam sambil kedua tangan nya memegang pelipis yang di rasa sedikit pusing karena terlalu banyak pikiran.
" dokter kenapa kau tidak tidur? bukan kah Ayah ku mengatakan kau besok akan kembali ke jakarta?" ucap Aida
" tidak apa-apa, hanya ingin mencari angin malam saja!" ucap Adnan sambil berbohong
" kau pasti berbohong? aku sudah mendengar kalau kau sedang ada masalah dengan istri mu?" ucap Aida , ia baru tahu kabar tersebut ketika mendengar pembicaran nya dengan dr. Edwin waktu siang tadi
" aku dan istriku sedang tidak ada masalah, kami baik-baik saja " ucap Adnan
padahal, sebenarnya kami sedang tidak baik-baik saja !
" kau pasti berbohongkan! maka nya dok, kalau mencari istri mending dari tim medis saja biar sama-sama mengerti pekerjaan dokter, apalagi dokter Adnan kan seorang dokter bedah terkenal pasti jadwal nya sangat sibuk " celoteh Aida tanpa rasa canggung
" Istri ku sangat mengerti kesibukan aku, aku pulang karena aku merindukan istri dam anak-anak ku" jawab Adnan dengan dusta nya lagi
" masih saja membela istri nya, padahal kalau dokter Adnan benar-benar berpisah aku mau kok, menikah dengan nya" batin Aida, ia memang menyukai Adnan
" kalau begitu aku masuk duluan" ucap Adnan yang mulai pusing mendengarkan ocehan Aida .
" Tapi dok, kau tidak ingin mengajariku lagi?" ucap Aida seolah tidak ingin di tinggalkan oleh Adnan.
"Lain kali saja!" ucap Adnan yang mulai bergegas pergi
Adnan memang sedang ingin sendiri, ia tidak ingin mendengarkan ocehan orang lain, seperti yang di lakukan Aida tadi, ia sangat risih. pikiran nya masih tertuju kepada Aleyna dan anak-anak nya.
***
hari sudah semakin pagi, Adnan sudah siap berangkat menuju bandara, ia sudah menitip beberapa berkas untuk di serahkan kepada dr. Edwin selaku dokter yang mewakili Adnan, karena Adnan harus kembali ke jakarta, dengan di dampingi Rio Adnan pun pergi ke Bandara, ia menggunakan mobil khusus yang sudah di sediakan dengan di dampingi seorang supir .
" tidak ada yang ketinggalan kan?" ucap Adnan kepada Rio
" ada pak" ucap Rio dengan serius nya
" katakan apa yang ketinggalan ?" ucap Adnan dengan serius juga
" Seberkas rindu yang tertinggal di dalam hati yang menggebu" ucap Rio sambil tertawa
" maaf pak, saya hanya bercanda saja. agar pak Adnan tidak tegang" ucap nya lagi
Adnan hanya terdiam ia bahkan tidak menggubris ocehan Rio sama sekali.
***
Sementara Aleyna tetap keras kepala ingin pergi ke Bandung untuk sekedar menenangkan pikiran nya, sebenarnya mamah Venna sudah melarang Aleyna tapi tetap saja ia ingin pergi, dengan membawa Anak-anak nya yang baru saja sembuh.
dengan di dampingi oleh bi nani, akhirnya Aleyna dan kedua anak nya pergi ke bandung. padahal masih sangat pagi bahkan matahari saja belum menampakkan sinarnya.
" hati-hati nak, kabari mamah kalau sudah sampai " ucap mamah venna
" Aleyna tidak membawa handphone karena tertinggal di rumah " ucap Aleyna
" yasudah mamah ambilkan ponsel mamah yang lain" ucap mamah venna namun langkah nya terhenti ketika Aleyna memanggil nya
" tidak usah mah, biarkan saja" ucap Aleyna
" yasudah jangan lama-lama sayang pergi nya, mamah akan merindukan kamu dan cucu mamah " ucap mamah venna
Aleyna tidak membawa banyak barang-barang, ia hanya membawa dua atau tiga baju saja, sisa nya hanya keperluan kedua anak nya saja.
sebelum berangkat berangkat ke Bandung, Aleyna pun berhenti di Klinik drg Widya karena obat untuk kedua anak nya tertinggal di ruangan dan ia memang harus membawa nya agar ia mempunyai obat untuk kedua anak nya jika panas nya naik kembali.
Aleyna pun turun dari mobil dan berjalan menuju ke dalam ruangan, tanpa sengaja ia mendengarkan pembicaraan antara dr. Tina dengan dr. Desi yang memang sedang berbincang di dekat ruangan khusus, mereka nampak serius membicarakan suatu hal yang Aleyna juga mengalami nya.
" kalau aku sudah biasa di tinggal sama suamiku, secara kami sama-sama dari medis jadi sudah saling mengerti kalau saja suami sedang bekerja bahkan di hari libur saja suami ku kerja loh dok" ucap dr. Tina kepada dr. Desi ia menceritakan bagaimana kesibukan suami mereka masing-masing
" apalagi seorang dokter terkenal kaya dr. Adnan yah ? pasti dia sangat sibuk" celetuk dr. Desi
" kalau itu jangan di tanya dok, dr. Adnan jarang sekali di rumah aku yakin deh istri nya tidak akan kuat karena bu Aleyna kan bukan dari kalangan medis jadi dia tidak mengerti bagaimana kesibukan seorang dokter " ucap dr. Tina
" padahal di luar sana ,banyak sekali perempuan yang ingin menjadi istri nya dr. Adnan " ucap dr. Desi
hati Aleyna nampak tersentuh mendengar ucapan demi ucapan yang di lontarkan oleh kedua dokter yang tengah mengobrol di balik ruangan, tanpa mereka ketahui kalau Aleyna mendengarkan nya.
Aleyna memang sadar, dia bukan dari kalangan medis tapi apa salah ? jika Aleyna menginginkan kehadiran Adnan hanya satu hari saja untuk mengajak nya pergi berlibur? melepas semua kegundahan dalam hidup.
Aleyna pun meneteskan air mata, ia memang merasa tidak sempurna untuk dr. Adnan yang nyaris sempurna dengan segala kemampuan nya.
Dan benar apa yang di bilang dokter tadi, banyak yang menginginkan Adnan, dan disinilah Aleyna merasa beruntung bisa memiliki Adnan.
ya tuhan, beri aku waktu untuk menerima ini semua, aku tidak bisa terus menerus seperti ini.
Siapa sih yang tidak menginginkan kebahagiaan di dalam rumah tangga mereka, Aleyna juga menginginkan kebahagiaan bersama Adnan tapi , bukan saat ini mungkin saja tuhan sedang menguji kesabaran kedua nya, dan tuhan mempunyai rencana lain untuk mempertahankan sebuah hubungan yang telah di bina selama hampir dua tahun.
Aleyna pun segera menghapus air mata nya,ia melewati ruangan dokter tina dan desy, mereka nampak terkejut bahkan tidak bisa berkata apa-apa karena ketahuan oleh Aleyna, mereka berharap Aleyna tidak mendengarkan omongan mereka akan tetapi, nyata nya Aleyna sudah mendengarkan semua nya.
" bu Aleyna ?" ucap dokter tina yang terkejut
akan tetapi, Aleyna hanya terdiam segera ia mengambil obat yang tertinggal di ruangan sebelah dan langsung keluar menuju mobil untuk melanjutkan perjalanan nya ke Bandung.
" gawat, kalau saja bu Aleyna mendengarnya kita pasti akan di pecat!" ucap dr. Tina
" tidak mungkin, aku rasa dia tidak mendengarnya" ucap dr. Desy
" Yasudah ayo kita kembali bekerja saja, sudah banyak pasien " ucap dr. Tina
***
apa aku harus menjadi bagian dari tim medis agar aku bisa mengerti kesibukan kamu?
Guys, akhir-akhir ini memang banyak konflik tapi author sudah siapkan kejutan di episode berikutnya .
so jangan lupa VOTE YANG BANYAK!!!
LIKE DAN KOMEN YANG BANYAK!!!