My Doctor Is My Husband

My Doctor Is My Husband
gubuk tua



Rangga kembali menelusuri perjalanan yang sangat terjal, bahkan ia tidak memperdulikan ucapan Nadine yang terus meneriakinya. Pikiran Rangga hanya tertuju kepada Elea, apalagi sampai sekarang Elea belum juga sampai.


Rangga bahkan ingat, kalau Elea sangat ceroboh bahkan ia sangat tidak menyukai perjalanan jauh, cuaca sudah gelap, Rangga masih terus menelusuri jalan bahkan jalan setapak yang hanya bisa di lewati oleh satu orang saja, Rangga seperti sudah hafal dengan jalan ini, bahkan ia berlari dengan sangat kencang, hati dan pikirannya tak karuan.


" Semoga kamu baik-baik saja, Elea ku!"


Rangga menatap ke arah jam yang melingkar ditangannya, jam sudah menunjukkan pukul 05.00 sore, apa yang harus Rangga katakan kepada Alvin, di saat Alvin menyerahkan semua tugas nya untuk menjaga Elea kepada Rangga, Tapi sekarang Rangga benar-benar kehilangan Elea. Mengapa Rangga membiarkan Elea pergi tanpa dirinya, sungguh kesalahan yang amat fatal.


Apalagi di tempat perkemahan ini, banyak terdapat hutan bahkan area berbahaya. Rangga takut Elea akan pergi ke sana karena hati nya merasakan hal itu.


Percuma saja Rangga membawa telepone genggam nya, karena tidak berguna, tidak ada signal sedikitpun disana.


Rangga berhenti sejenak, ia tidak bisa berpikir disaat pikirannya sedang kacau.


Ia tidak bisa mendapatkan ide untuk mencari Elea.


" Elea, kamu dimana!" Teriak Rangga dengan suara yang amat kencang, bahkan angin di sana pun berhembus dengan sangat kencang.


" Eleanor!"


Rangga berteriak, sambil meminta petunjuk kepada tuhan, agar ia bisa menemukan Elea, kalau saja Elea benar-benar hilang, Rangga sudah kehilangan separuh hatinya.


Rangga tidak bisa membayangkan akan hal itu, ia tidak akan bisa kehilangan elea, matanya yang cantik, dan senyum nya yang indah selalu terbayang di wajah Rangga.


" aku yakin, bisa menemukanmu Elea, karena tiba-tiba saja, aku merasa tidak karuan, aku benar-benar kehilangan separuh hati ku, yaitu kamu Eleanor!"


Setelah Rangga ingin melanjutkan kembali perjalanan nya, Hujan turun dengan sangat deras, Rangga berlari ke arah hutan, ia melihat gubuk tua yang begitu kumuh, hanya tempat itu yang akan menjadi tempat meneduh untuk Rangga, ia tidak ingin memaksakan diri untuk pergi disaat hujan, karena bisa membahayakan dirinya, Rangga tidak ingin hal buruk terjadi dengannya, karena ia takut tidak bisa bertemu Elea.


Rangga berlari menerobos rintik hujan yang datang kian membasahi dirinya, Rambutnya sudah lepek akibat terkena rintikan hujan dan membentuk manik-manik kristal di rambutnya.


Rangga bisa bernafas dengan lega,karena ia bisa meneduh di gubuk tua tersebut, namun tiba-tiba saja perasaanya tidak enak, karena di gubuk tua tersebut terdengar suara jeritan bahkan suara orang mendengkur, Rangga tidak takut dengan hal gaib bahkan ia lebih takut kalau ada laba-laba didekatnya.


Aaaaa.....Aaaaaa.....


Kruk....Kruk......


Dua suara yang begitu berbeda, tapi Rangga begitu penasaran ia ingin sekali masuk ke dalam gubuk tua itu, dan memastikan kalau di gubuk ini tidak ada orang lain selain dirinya, mungkin Rangga terlalu berhalusinasi karena pikiran nya sedang kacau.


Tiba-tiba saja suara petir menggelegar, dan suara teriakan itu semakin kencang, bahkan terdengar suara bersin terus menerus.


" biarkan saja, aku tidak perduli! Sekarang fokus mencari Elea...."


Rangga mengurungkan niatnya untuk memastikan suara jeritan wanita dan suara bersin tersebut, ia berpikir itu hanya halusinasi nya saja karena terlalu berat memikirkan elea.


Setelah hujan reda, Rangga kembali dengan tujuan awalnya yaitu mencari elea, namun disaat kedua kakinya hendak melangkah, ia mendengar suara wanita yang memanggil namanya.


" Rangga, tolong aku!" Pekik wanita itu.


Rangga memgurungkan niatnya untuk melanjutkan perjalanannya, mungkin saja ada orang yang sedang terjebak di dalam gubuk kumuh tersebut, dan meminta bantuan dirinya.


Suara teriakan itu memang terlalu samar terdengar ditelinga Rangga.


" Elea?"


Rangga langsung mengingat satu nama, ia langsung menerobos gubuk tua tersebut, dan Rangga begitu terkejut ketika ia melihat tiga orang wanita berada di dalamnya, orang itu adalah Elea.


" Elea....." Rangga begitu terkejut.


" Aku takut Ga... aku takut!" Ucap Elea sambil memeluk rangga dengan sangat erat, kedua sahabatnya malah tertidur dengan sangat lelap karena cuaca yang begitu dingin, tapi tidak untuk Elea, Elea tidak menyukai cuaca dingin, ia juga sangat takut dengan petir dan hujan. wajah Elea begitu pucat, dan bibirnya sedikit membiru karena menahan dingin.


Rangga memeluk Elea dengan sangat erat, sambil memakaikan jaket untuk Elea. Rangga rela melepaskan jaket nya untuk di pakai oleh Elea, agar Elea tidak kedinginan.


Rangga mengajak Elea untuk menjauh dari kedua sahabatnya yang sedang tertidur.


" mengapa kamu bisa ada disini?" Ucap Rangga sambil merangkul Elea.


" aku....aku....."


Elea tidak bisa bicara, Tubuhnya menggigil dan bergemetar karena kedinginan.


Rangga langsung memeluk Elea kembali, dan memberikan kehangatan untuk Elea, hanya sebuah pelukan hangat yang bisa rangga berikan untuk elea sekarang, ia tidak ingin memaksa elea untuk berbicara karena ia masih menggigil kedinginan.


" Tidak usah dijelaskan sayang, aku begitu mengkhawatirkan kamu! Untung saja aku bisa menemukanmu Elea!" Ucap Rangga sambil mengelus rambut Elea yang tergerai.


" aku takut...." Ucap Elea lagi


" Tidak perlu, takut! ada aku disini, aku salah karena membiarkanmu pergi tanpa aku!" Ucap Rangga seolah menyesal dengan sikap nya sendiri.


" aku mau pulang!" Ucap Elea sambil merengek, karena Elea tidak betah terlalu lama berada di tempat dingin.


" Kita akan segera keluar dari sini!" Ucap Rangga setelah melihat ke arah luar,hujan sudah mulai reda.


" Karin dan Kiara bagaimana?" Ucap Elea yang mengingat kedua sahabatnya ada di dalam gubuk sedang tertidur.


" Biarkan saja, toh kita bisa berduaan!" Ucap Rangga sambil tersenyum


Elea memukul bahu rangga, sambil tersenyum malu.


" Bagaimanapun mereka sahabatku, masa aku tega sih!" Ucap Elea sambil tersipu malu.


" Iya iya, lebih baik bangunkan sana, aku takut hari semakin malam!" Jawab Rangga, Elea pun tersenyum ke arah Rangga, tubuhnya kini sudah lumayan hangat karena pelukan rangga , maksudnya karena jaket Rangga.


Elea pergi ke dalam gubuk, untuk membangunkan kedua sahabatnya yang tertidur, Karin dan Kiara bangun dan terkejut ketika mereka berada di sebuah gubuk kumuh.


" ini tempat apa sih, bau menjijikan!" Ucap Karin yang melihat ke arah Kiri dan kanan, tempat yang kumuh bahkan tubuhnya bintik-bintik kemerahan akibat terkena gigitan serangga.


" Kenapa kita ada disini, kotor banget!" Ucap Kiara sambil menggaruk tubuhnya.


" jangan banyak tanya, lebih baik kita pergi dari tempat ini, daripada menunggu malam nanti yang ada malah kita jadi santapan hewan buas!" Celoteh elea, dan membuat kedua sahabatnya bergidik ngeri


" Kalau hewan nya buaya, bilang saja Karin sudah punya gebetan! jangan minta nomor handphone!" Celoteh Karin


" Rin, jangan bercanda deh! Benar kata elea, ayo kita pergi!" Timpal Kiara yang sudah merasa ketakutan.


Mereka pun pergi keluar dan Nampak terkejut ketika ada Rangga yang menunggu di depan gubuk dengan tangan yang melipat di atas perut.


" jangan menunggu lama, ayo kita pergi " ucap Rangga yang menarik lengan Elea, bahkan kedua sahabat elea nampak tercengang melihat tingkah Rangga


" Ra, sedih! Nasib jomblo begini amat sih..." Ucap Karin sambil merengek


" kenapa lagi sih Karin!" Ucap Kiara yang mengomel


" Bagaimana tidak sedih, soalnya tidak ada yang menggandeng tanganku!" Ucap Karin sambil sesegukan, dan membuat Kiara sedikit kesal, ia menarik lengan karin dan berjalan mengikuti Rangga dan Elea.