My Doctor Is My Husband

My Doctor Is My Husband
Kebersamaan.



Rangga masih terus memegang lengan Elea dengan sangat erat, bahkan kedua sahabatnya rela menjadi nyamuk untuk kemesraan mereka. Rangga seolah ingin melindungi Elea dari apapun, karena Elea sudah menjadi tanggung jawab nya.


Tanpa Elea sadari, kakinya tersandung oleh ranting kayu yang menghalangi jalannya, Elea terjatuh dan menjerit kesakitan, ia tidak fokus berjalan melainkan fokus dengan Rangga, Sampai ia sendiri tidak memperhatikan jalanan yang di tutupi ranting kayu, sehingga elea terjatuh dan terkilir kaki sebelah kanannya.


" aw, sakit...." Dengus Elea , lalu Rangga menengok ke arah Elea dan terkejut.


" el kenapa?" Ucap Kiara yang berdiri di samping Elea.


Elea kesakitan, ia terus memegangi jempol kaki sebelah kanan nya, padahal ia sudah berniat ingin memakai sepatu tapi, akhirnya ia memilih sendal sampai jempol kaki nya berdarah, akibat terkena benturan ranting kayu yang lumayan tajam sampai menusuk di kuku elea.


" kaki kamu?" Ucap Rangga yang melihat darah yang keluar dari jempol kaki elea.


" Elea keluar darah!" Ucap Karin nampak terkejut , karna ia takut dengan darah.


Rangga menyuruh Elea untuk duduk sejenak, di bawah pohon, Rangga menundukan tubuh nya, dan mengangkat kedua kaki Elea untuk diangkat keatas paha Rangga, Rangga meniup luka di jempol kaki Elea.


" Pasti sakit yah?" Ucap Rangga yang merasa khawatir


" Sakit banget, aku nggak kuat!" Ucap Elea sambil merengek


" aku akan mencabut duri ranting ini di jempol kaki kamu, tapi kalau kamu merasa sakit. Jambak saja rambut ku!" Ucap Rangga sambil membersihkan luka elea.


Rangga sudah berjanji akan menjaga Elea, bahkan Rangga termasuk cowok over protective terhadap Elea, elea pernah mengatakan kalau Rangga adalah dokter untuknya, karena semenjak berpacaran dengan Rangga, seolah dunia kenakalan Elea berubah, Elea menjadi lebih baik dari sebelumnya, bahkan Rangga yang menjadi orang pertama yang mengobati Elea sampai ia benar-benar luluh.


Rangga membersihkan luka di jempol kaki Elea, kemudian ia menarik ranting kayu yang lumayan tajam menusuk kuku Elea, sampai terlalu dalam, Elea menjerit karena kesakitan, ia benar saja menjenggut rambut Rangga namun, bukannya marah, Rangga malah tersenyum.


" maaf.... " Ucap Elea yang seolah malu.


Karena Rangga meninggalkan tas nya di tenda, ia tidak membawa apapun, kotak obat maupun penutup luka, Rangga mempunyai ide yang begitu berlian, ia merobek baju nya sendiri dibagian bawah, lalu robekan baju itu ia pakai untuk membungkus luka di jempol kaki Elea agar tidak terkena debu.


" Selesai, semoga kamu tidak kesakitan lagi!" Ucap Rangga


" Kamu itu paket lengkap banget sih, jadi pacar bisa,jadi dokter bisa, jadi guru bisa! bagaimana aku tidak semakin sayang.." Rayu Elea sambil tersenyum menatap ke arah Rangga, Rangga tidak membalas rayuan dari Elea karena ia malu, ada dua sahabat Elea yang sedang berdiri di samping elea, Rangga hanya menarik hidung Elea dengan gemes nya.


" aaaa, mau punya pacar!" Ucap Karin yang iri melihat kemesraan antara Elea dan Rangga


" ternyata bukan cuma dingin, Rangga super hero dan romantic" ucap Kiara yang begitu terpesona dengan Rangga, yang ia tahu Rangga adalah cowok dingin.


" Kayak nya aku nggak kuat, kalau terus berlama-lama dengan kalian..." Dengus Karin karena ia merasa menjadi penganggu saja untuk pasangan kekasih ini.


" Makanya punya pacar!" Ucap Elea sambil meledek


Kiara dan Elea pun tertawa, meledek Karin yang begitu sedih, karena ia ingin sekali memiliki kekasih, tapi sampai saat ini belum ada yang sesuai dengan keinginannya, meski banyak antrian diluar sana.


" Sini!" Ucap rangga yang menawarkan punggungnya untuk Elea.


" maksudnya, kamu mau menggendongku?" Ucap Elea yang nampak heran.


Rangga tidak banyak bicara, ia hanya menganggukkan kepalanya saja.


Kedua sahabatnya, tersenyum melihat tingkah Rangga dan Elea.


" Nggak ada tawaran untuk kedua kali nya!" Jawab Rangga yang membungkuk, Elea menatap ke arah sahabatnya,ia sedikit malu tapi Elea juga tidak ingin memaksakan diri untuk berjalan, karena masih berasa sakit.


elea melompat, dan menempel di punggung Rangga, semuanya kembali ke tujuan awal, yaitu menuju tenda perkemahan


Elea juga merasa bahagia tapi sekaligus merasa bersalah, di satu sisi ia sudah membuat Rangga dan kakak alvin begitu khawatir tapi disisi lain, Elea mengetahui kalau Rangga cowok yang bertanggung jawab bahkan rela pergi dan kembali ke termpat ini hanya untuk menjemput Elea.


" Kamu makan apa sih?" ucap Rangga sambil mengusap peluh,padahal cuaca sore hari lumayan sejuk


" Aku pemakan segalanya, apa saja aku makan asal jangan makan teman!" ucap Elea sambil bercanda.


" Pantes berat banget!" ucap Rangga.


Elea menepuk punggung rangga dengan sangat keras, bahkan pukulan nya terdengar begitu jelas, rangga merintih kesakitan.


" Aku pacar kamu atau bukan sih!" ucap Rangga yang mengeluh karena kesakitan.


" Habis kamu nyebelin sih, aku kan nggak gendut, nggak mungkin aku berat." ucap Elea yang membela diri


" Walaupun gendut, aku kuat kok. " ucap Rangga sambil tertawa.


" Apaan sih Ga... " ucap Elea yang tersipu malu, karena Rangga terus meledek nya namun Elea sama sekali tidak tersinggung bahkan ia senang bisa berbincang dengan Rangga.


" Kapan sih sampai nya! aku capek...." dengus Karin yang terus mengeluh


" Sebenatar lagi sampai, apa perlu aku panggil Dylan untuk menggendong kamu?" ucap Elea sambil tertawa dan melirik ke arah Kiara


" Panggil dylan saja, biar karin bisa diam!" ucap Kiara


" Amit-amit deh! Aku maunya sama kak Alvin!Jadi aku tidak menerima Dylan!" ucap Karin sangat keras kepala.


***


Alvin dan Pak Krisna diikuti Dylan dan juga anggota osis lain berencana untuk pergi,merek sudah membawa senter untuk menerangi perjalanan mereka, kebetulan Pak Krisna juga membawa alat lain, takutnya terjadi apa-apa.


Semuanya terlihat kompak, sementara anggota osis lain menyuruh semua anggota perkemahan untuk istirahat sejenak sebelum acara api unggun di mulai.


Baru melangkah satu dua hingga tiga langkah, tiba-tiba saja Rangga datang dengan membawa Elea dan kedua sahabatnya.Alvin begitu terkejut, namun dugaannya benar, Rangga pasti akan baik-baik saja. Rangga segera membawa Elea ke tenda nya, kebetulan teman-teman yang lain sudah tidur dan membatalkan acara api unggun karena cuaca yang tidak mendukung.


" el, apa yang terjadi?" ucap Alvin yang nampak khawatir, Elea masih terkulai lemas. sementara kedua sahabatnya langsung mendapat penanganan dari anggota osis


" el tersesat di hutan, untung saja ada rangga yang menolong el.... " ucap nya.


" Maaf, kak alvin lalai menjaga kamu..." tukas Alvin.


" tidak apa-apa kak, el juga salah kok!" ucap Elea, kemudian Alvin meminta Rangga untuk bicara empat mata, karena ada hal penting yang ingin Alvin sampaikan kepada Rangga, Elea nampak penasaran, apa yang akan Alvin bicarakan, namun apalah daya tubuhnya sudah terasa ngilu, dan pegal-pegal. Ia segera menyusul kedua temannya untuk istirahat setelah luka di jempol kaki nya sudah terobati oleh tim palang merah.


" Ga, aku sangat berterimakasih kepada kamu, mungkin Elea banyak merepotkan kamu!" ucap Alvin merasa tidak enak hati.


" mungkin ini yang dinamakan, mencintai. aku terbawa suasana, bagaimana bisa aku melihat elea menderita sendirian, dan aku baru menyadari ternyata, beginilah caraku mencintai Elea, aku tidak bisa mengungkapkan dengan sebuah kata-kata melainkan hanya sebuah tindakan saja!" ucap Rangga yang begitu tenang.


" Aku tahu akan hal itu, bukan nya aku tidak percaya dengan kata mencintai, hanya karena aku belum merasakannya" ucap Alvin, karena Alvin belum pernah merasa jatuh cinta atau menyukai seseorang.


" Dulu, aku terlalu egois untuk mengakui perasaan aku, perasaan yang selama ini tidak pernah aku bayangkan akan jatuh kepada siapa, tapi semenjak bertemu Elea, dia yang selalu menganggu pikiranku, di saat malam, apalagi menjelang tidur!" tukas Rangga lagi, ia menjelaskan curahan hati nya kepada Alvin, toh Rangga sudah biasa mempercayai Alvin sebagai pendengar yang baik.


" aku bangga kepada kamu, elea jatuh ditangan yang tepat! aku percaya, kamu akan menjaga elea ... " ucap Alvin sambil menepuk bahu Rangga, ia merasa sangat berterimakasih kepada Rangga.


Sampai tengah malam, Alvin dan Rangga tidak tidur melainkan berjaga didepan tenda Elea, mereka ditemani oleh Dylan juga sambil minum teh hangat dan bertukar pikiran, mereka memang orang-orang yang belum berpengalaman mengenai percintaan, tapi mereka orang yang begitu tulus. Sama seperti orang tua mereka. Saling mendukung, dan selalu bersama dalam menggapai sesuatu.