
Rangga dan Meghan pergi ke sebuah Cafe yang terletak di dekat danau kota, ntah Meghan ingin melepas rasa rindu yang amat dalam kepada Rangga, sementara Rangga dalam keadaan bimbang, pikirannya hanya tertuju kepada Elea.
Meghan memesan makanan dan juga minuman, berulang kali Meghan mengajak Rangga untuk berbincang tapi Rangga malah terdiam, seolah memikirkan banyak hal.
sampai meghan begitu penasaran, tentang seseorang yang kini ada di pikiran Rangga.
" Rangga?" ucap Meghan begitu mengejutkan Rangga.
Rangga menyahut namun dengan tatapan yang amat kosong.
" Apa kamu tidak bahagia dengan pertemuan kita? atau memang ada hal yang kamu sembunyikan dari aku?" tanya Meghan dengan rasa penasaran .
Rangga terdiam, ia menatap jarum jam detik demi detik sampai waktu nya sudah menjelang malam.
" Makan saja, setelah itu aku akan mengantarmu pulang!" ucap Rangga sembari menelan makanan.
meghan merasakan adanya perubahan dari diri Rangga, dia bahkan tidak semanis dulu, sikap nya sekarang lebih dingin atau memang sedang ada hati yang Rangga jaga.
Padahal hari ini, Meghan begitu senang karena bisa bertemu dengan Rangga serta berharap Rangga dan juga dirinya bisa menghabiskan waktu bersama.
" Aku sudah lama mengenal mu Rangga, aku juga tahu kamu sedang menyimpan sesuatu apa kamu tidak mau menganggap ku sebagai teman dekatmu?" ucap Meghan sambil menatap wajah Rangga.
" Aku memang sedang memikirkan sesuatu, ntah sampai kapan aku akan bertahan!" ucap Rangga
" Bertahan untuk apa?" tanya Meghan lagi, namun Rangga tidak menjawab nya.
" Lupakan saja, lebih baik kita pulang saja, sudah semakin malam, masih banyak yang harus aku kerjakan..." ucap Rangga.
" Yasudah nanti kapan-kapan ajak aku keliling kota dan aku pastikan kita akan selalu bersama seperti dulu!" ucap Meghan sambil memeluk Rangga, namun kali ini Rangga menghindar dari pelukan Meghan.
" Kenapa, aku sangat merindukan kamu!" Tanya meghan , namun ia enggan untuk memeluk Rangga, karena Rangga sendiri menolak nya.
Sampai pukul 19.35 wib, mereka pun pulang, Rangga mengantarkan Meghan ke rumahnya , jarak antara rumah Meghan dan Rangga sangatlah jauh hampir satu jam lama nya perjalanan.
Rangga memang bahagia bisa bertemu lagi dengan Meghan, begitu pun juga yang di rasakan Meghan.
Mereka melampiaskan waktu bersama, dan menceritakan hal hal menarik, sehingga canda tawa mengiringi kebersamaan mereka.
Sementara Elea duduk di teras rumah, sambil menatap gemerlap bintang, dan juga bulan yang menyinari jagat raya.
Elea bahkan tidak menyangka, pertemuan yang indah akan berakhir dengan perpisahan.
Rasa rindu itu muncul, ketika Elea sendiri. Tak bisa di pungkiri Elea memang merindukan Rangga, akhirnya Elea memutukan untuk mengaktifkan kembali ponsel nya. Setelah dua hari ia tidak memegang ponsel nya rasanya jari jari Elea mulai gatal untuk menggenggam ponsel nya tersebut.
" Bagaimana kau sudah bertemu Rangga?" ucap Alvin yang baru saja selesai mandi.
Elea menatap dalam wajah Alvin, Elea berharap Rangga akan menemuinya.
" kalau memang dia ingin bertemu denganku, pasti dia datang menemui ku, tapi sampai sekarang, dia tidak pernah menemui ku!" ucap Elea sambil bergegas pergi meninggalkan Alvin, namun Alvin berteriak sangat kencang.
" Jangan membuatnya kebingungan, justru dengan sikap kamu seperti itu, kamu yang akan kehilangan Rangga!" teriak Alvin dari kejauhan, elea hanya melotot ke arah Alvin.
Elea mengurungkan niatnya untuk duduk di teras rumah, padahal bibi sudah menyiapkan cemilan dan juga minuman hangat namun pikiran Elea kalang kabut, ia memikirkan ucapan Alvin barusan.
Elea kembali menaiki anak tangga, ia ingin memgurungkan diri di kamar sembari menatap dari arah balkon, berharap Rangga akan datang menemui nya.
" Apa benar, rangga akan meninggalkan aku?"
Elea duduk menatap ke arah langit-langit kamar nya, ia melihat banyak sekali pesan dari Rangga, ada sedikit kesedihan di hati Elea.
Alvin memang benar, Elea tidak mungkin bersikap egois memikirkan perasaannya sendiri, Elea mulai membuka hati lagi untuk Rangga, ia juga tidak bisa terus menerus mengacuhkan Rangga, Rasa sayang nya teramat dalam.
Rasa sayang dan rasa rindu bisa mengalahkaj segala nya, hati yang begitu keras akan kalah dengan rasa rindu yang amat dalam.
Yah, Elea merindukan Rangga, ia sudah sangat keterlaluan mengacuhkan Rangga.
" ternyata aku yang kalah tuan beruang , aku merindukan kamu, apakah kamu merasakan hal yang sama?"
Elea ingin menelpon Karin ataupun Kiara untuk menanyakan sikap Rangga seharian ini, karena Elea tidak bisa memantau Rangga. Apalagi ia harus menjalani skorsing selama beberapa minggu, hal ini kesulitan untuk Elea bertemu Rangga.
Kalaupun ingin, Elea bisa saja nekat pergi ke rumah Rangga lagi, tapi Elea malu kalau harus menghampiri Rangga, ia ingin Rangga yang menghampirinya.
Elea menekan nomor Karin, lalu memanggil lewat sambungan telepon.
" Halo?"
Karin pun menjawab telepon dari Elea.
" Kemana saja sih, kamu sudah bangkit dari hibernasi?"
Sudah beberapa hari ini memang Elea menghilang dari kedua sahabatnya.
" Bangkit dari keterpurukan lebih tepatnya!"
" Sumpah, dunia berasa sepi tanpa kehadiran seorang elea , apalagi ditambah Kiara yang juga menghilang tanpa kabar!"
Elea terkejut, ia tidak tahu apa-apa tentang Kiara yang ikut menghilang.
" Kiara kenapa? apa yang terjadi dengan kiara?"
" Sudah dua hari ini, Kiara tidak masuk sekolah bahkan rumah nya sepi, aku sudah mencarinya tapi, dia tidak ada kabar. rencana besok aku akan mencari ke rumah Dylan!"
" Aku akan bantu mencari Kiara besok, jangan lupa mengabariku!"
" Kamu tahu bagaimana hancurnya seorang Rangga?"
Elea terkejut ketika mendengar nama Rangga.
" Haha, aku bahkan ingin menanyakan tentang dirinya!"
" Dia bahkan tidak betah berada di dalam kelas, dan waktu pulang sekolah aku melihat dia sedang sibuk mengotak atik handphone nya!"
" Biarkan saja, aku tidak mau menghubunginya duluan. lagi pula aku masih punya harga diri!"
" kalau kepepet, telepone saja el, soalnya Rindu itu berat hehehe...."
" Ah, dasar!"
Mereka sibuk berbincang hingga tengah malam, Karin dan elea juga merencanakan tentang pencarian Kiara yang sudah menghilang. Ntah, apa yang terjadi dengan Kiara, dia tidak pernah bercerita apapun tentang dirinya. Kiara begitu tertutup dengan apapun yang ia rasakan, jarang sekali ia bisa bercerita. mungkin diantara ketiga cewek nakal, hanya Kiara yang tidak banyak bicara.
Dua beban berada di dalam kepala Elea, ia benar-benar pusing, satu hal masalah yang belum kelar dengan Rangga muncul lagi masalah baru yaitu Kiara yang sampai saat ini belum memiliki kabar.
Elea membaringkan tubuhnya, ia menatap jarum jam yang sudah menunjukan pukul tengah malam, ia mencoba menghubungi Rangga dengan membuang rasa malu nya.
" bagaimana kalau rangga besar kepala?"
Ah rasanya, Elea begitu takut jantung nya tidak bisa berhenti berdetak, telepone itu tersambung, Elea semakin tidak karuan.
terdengar suara Rangga yang amat merdu, ia mengangkat telepon itu, namun Elea menjauhkan ponsel nya dari telinganya sendiri, Elea belum siap mendengar suara Rangga.
" Halo?"
Meski sebatas sapaan, Tapi suara itu mampu mengobati rasa rindu elea, Elea tersenyum mendengar suara Rangga, tapi ia tidak berani berbicara.
" Sayang...."
" Apa benar kamu yang menelponku?"
" Sayang...."
" Bicaralah, aku ingin mendengar suaramu! "
Elea mengambil ponselnya, lalu mematikan teleponnya, ia merasa malu dan juga bingung ingin mengatakan apa.
" Yatuhan, mengapa aku begitu takut, jantungku rasanya mau copot!"
Elea menghela nafas, ia tidak bisa melanjutkan pembicaraan lewat telepon, cukup mendengar suara Rangga lewat telepon saja Elea sudah bahagia......
****
Rangga terkejut ketika mendengar suara telepon yang berbunyi, ia menatap layar telepone dengan mata yang masih sembab, siapa yang berani menelpon nya tengah malam?
Namun kedua bola mata Rangga terbuka setelah melihat nama Elea yang menelponnya.
Rangga tidak langsung mengangkat, namun ia melompat lompat dari kasurnya. Rangga bahagia bisa mendapatkan telepon dari Elea. Namun baru saja ia mengucapkan kata kata sejenak, telepon itu mati sekejap.
Rangga nampak kecewa, tapi Rangga bahagia karena mendapat telepon dari Elea.
" aku tahu, kamu begitu merindukan aku!"
Rangga tersenyum, lalu menatap ke arah foto Elea yang kini sedang di jadikan walpaper.
Sampai panggilan lewat video itu tersambung. namun Elea menolak nya.
" kali ini kamu menolak nya, tapi pastikan besok aku akan membuatmu bahagia elea!"
Akhirnya Rangga sudah pasrah, ia memutuskan untuk mengirimkan pesan dan mengajak elea untuk bertemu dengan nya besok, ada hal yang ingin Rangga sampaikan mengenai kelanjutan hubungan mereka.
Rangga bahkan sudah mengirimkan tempat yang akan mereka temui. Tempat yang biasa mereka pergi yaitu di danau biru, tempat yang nyaman untuk berduaan. Rangga harap Elea akan datang menemuinya.
Rangga kembali tertidur, ia ingin esok segera tiba karena ia ingin bertemu dengan Elea. rasa rindu sudah teramat dalam.
***
Seperti biasa, setiap pagi Bi Ratmi selalu membangunkan Rangga, ia sudah menyiapkan sarapan dan juga minuman untuk Rangga.
Namun, Bi Ratmi nampak terkejut karena Rangga sudah bangun lebih awal, bahkan ia sudah siap dengan seragam nya.
Sampai bi Ratmi menggelengkan kepala, ia merasa heran padahal dua hari belakangan ini Rangga terlihat sangat suntuk, tapi untuk hari ini Rangga begitu bersemangat.
" Keberangkatan kita akan dipercepat besok !" ucap Papa Fandy yang sudah selesai menyantap sarapan.
Rangga yang baru saja turun dari kamarnya begitu terkejut ketika mendengar ucapan Papa nya.
" Papa bilang, besok kita akan berangkat ke Sidney?" ucap Rangga
" Iya Rangga, lebih baik kamu siap-siap hari ini, tidak usah pergi ke sekolah, papa sudah mengurus semua surat kepindahan kamu!"
" Pa, aku bukan anak kecil lagi. Jangan seenaknya pindah begitu saja!" tegas Rangga.
" Memang nya kamu bisa hidup tanpa kami, kamu masih membutuhkan banyak biaya untuk hidup sendiri..."
" Rangga bisa hidup mandiri tanpa uang dari Papa!"
Tiba-tiba saja Reyna datang melerai keduanya.
" Ada apa sih Pa, Rangga?"
" Kalau memang Papa sama Mama mau pergi, silahkan pergi tapi Rangga tidak akan ikut!" bantah Rangga.
" Kamu harus ikut sayang, Mama tidak akan bisa tenang kalau kamu sendiri disini!"
" Rangga sudah besar, Rangga bisa mengurus diri Rangga sendiri..."
" Tidak ada alasan, lebih baik kamu siap-siap Rangga!"
" Pah, aku memiliki alasan untuk tinggal disini!"
" Apa yang membuat kamu tetap ingin disini Rangga, padahal dulu kamu tidak ingin meninggalkan sidney!"
Rangga diam sejenak, ia tidak bisa terus menerus menuruti kedua orangtuanya, Rangga tidak ingin berpisah dari Elea.
Reyna menghampiri Rangga, dan membujuk Rangga, sementara dokter Fandy masih tetap dengan pendiriannya.
" Katakan, apa yang membuatmu berat meninggalkan kota ini?" ucap Reyna
" Harusnya kamu mengerti, bagaimana pekerjaan Papa. ini semua Papa lakukan untuk kamu Rangga!"
Rangga menatap keduanya, mungkin saat ini adalah waktu yang tepat untuk mengatakan yang sebenarnya, Rangga ingin mengatakan tentang hubungannya bersama anak dari Dokter Adnan.
Hal terberat bagi hidup Rangga saat ini adalah meninggalkan Elea dan juga semua kenangan tentang dirinya.
Rangga tidak mau kehilangan Elea, karena Rangga sudah menjatuhkan hati nya kepada Elea.
Rangga berbalik arah, sambil menatap kedua orangtuanya yang sedang di landa amarah. Ia menatap papa dan juga Mama nya.
" Ma...."
" Pa..."
" Bukannya Rangga tidak ingin pindah, tapi Rangga sungguh berat meninggalkan kota ini" ucap Rangga sambil menatap keduanya.
" Apa yang membuatmu berat meninggalkan kota ini Rangga!" ucap Reyna yang terus berulang menanyakan hal ini.
" Aku mencintai seseorang, aku tidak bisa meninggalkan dia...." ucap Rangga dengan penuh kejujuran, sampai membuat Reyna dan dokter Fandy saling menatap.
Baik Reyna maupun Dokter Fandy tidak menyangka, apalagi di usia remaja seperti Rangga.
" Jadi itu alasan kamu menolak keinginan Papa?" ucap Dokter Fandy.
" Siapa cewek yang berani mendekati kamu, katakan Rangga!" ucap Reyna yang penasaran.
" Pa, Ma.. Aku mencintai Elea. putri dari Dokter Adnan, aku sudah berjanji tidak akan meninggalkan Elea, bagaimana mungkin aku pergi sedangkan kepergian ku membuat Elea terluka...." ucap Rangga dengan segala pengakuannya, dan membuat dokter Fandy terkejut mendengar pengakuan dari Rangga.
" Jadi kamu mencintai Elea?" ucap Reyna yang terkejut.
Rangga mengangguk, karena memang ia mencintai Elea.
Fandy dan Reyna saling menatap, mereka membisikkan sesuatu.
" Pa, bagaimana?" ucap Reyna sambil berbisik.
Dokter Fandy menghampiri Rangga yang tengah berdiri.
" Papa minta maaf karena terlalu mengekang kamu, tapi apapun itu perjuangkan lah. Papa merestui...." ucap Fandy sambil menepuk bahu Rangga.
" Aku masih tidak percaya, padahal aku dan Aleyna tidak pernah menjodohkan Rangga maupun Elea, karena mereka tidak pernah akur, sejak kapan kamu menyukai Elea?" ucap Reyna yang semakin bingung.
" Aku sudah melamarnya!" ucap Rangga dengan penuh kejujuran.
" Yatuhan, mengapa secepat itu, mengapa kamu tidak memberi tahu Mama...."
" Yasudah, besok Papa dan Mama akan datang ke rumah Dokter Adnan!" ucap Fandy sembari duduk disamping Rangga.
" Untuk apa?" tanya Rangga yang mulai khawatir.
" Mereka harus mengetahui, kalau anak mereka sudah membuat anak seorang dokter Fandy jatuh cinta!" ucap Fandy sembari tertawa.
" Jangan mempermalukan aku, cukup Mama dan Papa tahu saja, aku tidak ingin Mama sama Papa memaksa ku untuk pergi ke Sidney!" ucap Rangga.
" Kalau gitu, aku berangkat dulu!" ucap Rangga sambil mencium punggung tangan kedua orang tua nya.
Setelah menatap kepergian Rangga, Dokter Fandy pun hendak menelpon Adnan. Ada hal yang ingin mereka bicarakan.
" Pa, bagaimana mungkin Rangga bisa jatuh cinta sama anak sahabat kita sendiri?" ucap Reyna seolah tidak percaya.
" Cinta itu datang tanpa di duga, padahal aku hanya bercanda menjodohkan elea dan Rangga tapi nyatanya, anak ku sudah terlanjur mencintai nya...." ucap Fandy yang seolah senang, rasa amarah berubah menjadi perasaan bahagia.
" Besok, aku akan membatalkan kepergianku, dan besok kita akan pergi ke rumah Adnan!" sambung Fandy lagi.
" Kau mau apa?" tanya Reyna begitu penasaran.
" Meresmikan hubungan mereka!" ucap Dokter Fandy sambil tertawa.
" Tapi, Rangga masih sekolah! jangan keterlaluan deh Pa...." Ucap Reyna.
Mereka bahkan sudah menghubungi Dokter Adnan dan membicarakan semuanya.
.
.
.
.
.
.
Cieeee Rangga jujur amat yak hehehe.
Btw, satu persatu ceritanya akan terungkap kok, sabar yahhhhh....
ini udah crazy update loh, lebih dari dua ribu kata dan udah panjang banget guys nya..
Di VOTE VOTE VOTE VOTE!
KOMEN JUGA....