
...Seperti biasa ya bestie......
...Tinggalkan like, komen, vote dan juga masukkan ke favorit! Jangan lupaðŸ¤ðŸ˜˜...
...***** Happy Reading Bestie *****...
Sesampainya di rooftop, Alana dan Queensa berdiri di tepi pembatas dan menghadap ke arah pemandangan hirup pikuk kota. Semua yang terlihat dari atas sana, terasa begitu kecil bagi keduanya.
Untuk beberapa menit lamanya, tak ada perbincangan apapun di antara keduanya. Hanya kesunyian yang menyapa, dan helaan nafas keduanya yang saling bersahutan.
Queen dan Alana masih sama-sama berusaha meredam emosi masing-masing, Alana dengan emosinya yang tadi dia tumpahkan pada Vino dan Queensa dengan amarahnya yang dia simpan dan kunci rapat di dalam hatinya.
Hingga akhirnya Queen membuka suara, setelah menghela nafas panjang.
"Seharusnya tadi lo nggak perlu belain gue sampe segitunya, Lan. Gue bukannya nggak bisa bales mereka atau gue takut sama mereka. Cuma gue nggak mau kalau penyamaran gue ini kebongkar, cuma gara-gara gue kebawa emosi. Lo juga tau alaesan gue, Lan."
Alana menghela nafas panjang, dan merasa sudah melewati batas dengan mencampuri urusan Queensa yang notabene bukanlah siapa-siapa untuknya.
"Iya gue tau, maafin gue. Tadi gue kebawa emosi aja sama—"
Tak sempat Alana meneruskan ucapannya, suara benda jatuh terdengar dari arah belakang mereka yang sontak saja membuat keduanya panik dan menolehkan kepala.
Seketika itu juga, mata Queen dan Alana membulat sempurna saat menyadari ada seseorang di belakang mereka dan sepertinya dia mendengar semua pembicaraan keduanya tadi.
Wajah Queensa bahkan sudah memucat, karena dia takut jika penyamarannya akan terbongkar secepat itu. Terlebih saat orang itu mulai berjalan perlahan ke arahnya, dengan tatapan menyelidik yang dia arahkan pada dirinya.
Hawa yang terasa begitu mencekik itu, semakin terasa saat sebuah kalimat tanya terlontar mulus dari bibir orang itu. "Penyamaran apa? Alasan lo nyamar apa?"
Queen hanya bisa terdiam, kalimat yang sudah susah payah dia susun secara dadakan pun tak dapat ia lontarkan dan seolah tercekat di ujung lidahnya.
Begitu pula Alan yang hanya bisa terdiam sambil sesekali melirik ke arah Queensa yang terlihat sudah sangat panik, dan tak mampu menjawab pertanyaan orang di depan mereka itu.
"Kenapa kalian diem? Gue udah denger semuanya, jadi nggak ada gunanya juga kalian bohong karena gue bakal cari tau kebenarannya meskipun tanpa kalian kasih tau."
Seketika itu juga Queen harus kembali tercengang, namun dia juga sadar bahwa akan sangat mudah baginya untuk menyelidiki kebenaran yang dia inginkan dengan kekuasaan yang dia atau lebih tepatnya keluarganya miliki.
Tak ada hal yang tidak mungkin baginya, meskipun kekuatan keluarganya tetap tak mampu menyaingi keluarga Queen. Tapi jika hanya untuk hal sepele semacam itu, cepat atau lambat dia akan mengetahui segalanya.
Queen menghela nafas dengan berat, seolah sebuah gunung di timpakan di atas punggungnya dan membuat dirinya sangat tersiksa.
...*******...
...Jangan lupa like, komen, vote dan sumbangkan sedikit poin kalian ya guys.🙈...
...Dukungan kalian adalah hal terindah yang selalu membuatku bahagia.🤣...
...Novel yang satu ini novel ringan ya guys, jadi maklumin aja kalau alurnya memang agak lambat....
...Kalau kalian nyari yang konfliknya berat seberat beban hidup author, kalian salah tempat.🙊...