
...Seperti biasa ya bestie......
...Tinggalkan like, komen, vote dan juga masukkan ke favorit! Jangan lupaðŸ¤ðŸ˜˜...
...***** Happy Reading Bestie *****...
Tadi saat jam istirahat tiba dan dia sedang berada di rooftop bersama trio sengklek, dia sempat mencoba menelepon Queen beberapa kali.
Namun yang menyahut selalu saja mbak-mbak operator, yang mengatakan jika si pemilik nomor telepon sedang tidak aktif atau berada di luar jangkauan area.
Hal itu membuat mood Alana anjlok seharian ini, dan tentu saja hal itu juga membuat Varo urung menanyakan perihal kebenaran hubungannya dan Queensa.
Sepanjang perjalanan tak ada lagi obrolan antara Selena dan Alana, karena fokus kedua manusia itu tengah berada di masing-masing objek. Alana fokus pada jalanan yang dia lalui dan juga mengendalikan motornya, sedangkan Selena masih setia memfokuskan pikirannya pada Dion.
Hingga beberapa menit kemudian, Alana membelokkan motornya memasuki sebuah rumah dengan pelataran yang begitu luas. Dion diijinkan masuk oleh satpam, setelah dia mengatakan siapa dirinya dan apa tujuannya datang ke rumah itu.
Dion memarkirkan motornya di halaman Rumah Queensa dan melangkahkan kakinya menghampiri pintu megah yang menjulang tinggi di hadapannya, benda yang kini memisahkan dirinya dan Queensa.
Beberapa saat setelah membunyikan bel, pintu besar itupun terbuka dan menampakkan sosok wanita paruh baya.
"Iya, cari siapa ya?" tanyanya.
"Kita nyari Queen, Bi. Queen ada di rumah kan?"
"Ooh... jadi si neng sama aden ini temennya non Queen? Ya udah ayo atuh masuk, bibi anterin ke kamarnya non Queen. Soalnya dari tadi pagi teh, non Queen nggak mau keluar kamar katanya males."
Semakin kalutlah pikiran Alana, karena mengira jika Queensa benar-benar sakit akibat kelelahan saat mempersiapkan acara kencan Varo bersama gadis pujaannya, kemarin.
Bibi asisten rumah tangga itu pun, pembawa langkahnya mengantarkan Alana dan Selena menaiki tangga menuju kamar Queensa.
Tok...
Tok...
Tok...
"Masuk aja, nggak dikunci."
Queen yang masih dalam posisi tengkurap dengan mata terpejam pun menolehkan kepalanya ke arah pintu, dan dia terkejut saat mendapati sosok Alana bersama Selana sudah berada di dalam kamarnya saat ini.
Queen yang menyadari posisi tidurnya yang sangat tidak elegan itu pun, langsung merubah posisinya menjadi duduk menghadap kedua temannya itu.
"Lo kenapa sih, Queen? Lo sakit?" Alana refleks bergerak maju dan menempelkan punggung tangannya di dahi Queensa, dan membuat Selena terkekeh melihat interaksi keduanya.
Mendapatkan perlakuan manis seperti itu dari Alana, membuat Queensa gelagapan dan salah tingkah sendiri karenanya.
Bahkan kini pipinya terasa memanas, dan mungkin saja sudah mimikri alias berubah warna kulit seperti bunglon. Dari yang tadinya berwarna putih menjadi bersemu merah, karena malu-malu meong.
"Ekhem! Ngemeng-ngemeng gue nggak mau jadi kambing congek, jadi boleh nggak gue tau dimana pangeran berkuda putih gue? Calon adik ipar?" Selena menaik turunkan alisnya sambil menatap Queensa.
...*******...
...Jangan lupa like, komen, vote dan sumbangkan sedikit poin kalian ya guys.🙈...
...Dukungan kalian adalah hal terindah yang selalu membuatku bahagia.🤣...
...Novel yang satu ini novel ringan ya guys, jadi maklumin aja kalau alurnya memang agak lambat....
...Kalau kalian nyari yang konfliknya berat seberat beban hidup author, kalian salah tempat.🙊...