
...Seperti biasa ya bestie......
...Tinggalkan like, komen, vote dan juga masukkan ke favorit! Jangan lupaðŸ¤ðŸ˜˜...
...***** Happy Reading Bestie *****...
"Awas aja lo Bima Sakti! Abis ini bakal gue bejek-bejek lo terus gue jadiin bakso, biar tambah bulet tuh badan" umpat Varo dalam hati, sebelum kembali melanjutkan membaca satu persatu tulisan tangan Bima di kertas itu.
4.Cabe ijo ¼ kilogram
5.Cabe keriting ¼ kilogram
6.Cabe setan ¼ kilogram
7.Cabe-cabean yang suka naik motor bonceng tiga.
Varo yang muak dengan berbagai nama cabe yang tertulis itupun, akhirnya menambah satu jenis cabe paling banyak populasinya saat ini dan tidak akan pernah kehabisan stok tentunya.
"Alvaro...!" geram bu Tia yang langsung merebut kertas itu dari tangan Varo, untuk memastikan jika apa yang tertulis didalam sana benar-benar sama seperti apa yang Varo baca tadi.
Dan ternyata memang benar adanya, semua yang Varo baca memang tertulis di secarik kertas itu, kecuali daftar nomor tujuh yang tadi Varo baca.
"Karena itu daftar belanjaan ibu kamu, jadi ibu kembalikan." Bu Tia menyodorkan kembali kertas itu pada Varo, namun sedetik kemudian dia kembali bersuara, "Alvaro, balik kertasnya dan baca!" titahnya yang tak bisa Varo tentang.
Meskipun firasat buruk kembali menghantuinya mendengar jika di sebalik kertas itu masih ada catatan lain yang bu Tia curigai adalah contekan yang sebenarnya.
"Kalau sampai isinya aneh-aneh lagi, si Bima bakalan gue jadiin bola bekel!" geramnya yang tentu saja hanya dalam hati.
Dengan wajah tegang plus kesal, Alvaro membalikkan kertas itu dan kembali di buat menganga melihat catatan yang tertulis di sana.
Kembali dia layangkan tatapan membunuh pada Bima, pria bertubuh gempal kenyal-kenyal itu.
Dan seperti yang tadi dia lakukan, Bima kembali menolehkan wajahnya kearah lain karena tidak mau menatap wajah kesal pangkat tiga milik Varo, karena secarik kertas miliknya.
"Maaf Varo, jangan salahin gue. Lo sendiri yang main robek catatan gue, jadi itu salah lo sendiri." Bima bergumam pelan sembari menahan tawanya.
Dia menunggu Varo kembali membaca tulisan tangan miliknya yang baru tadi dia torehkan di sana.
Bima tentu saja tau apa yang tertulis di kertas itu, namun dia tetap menantikan bagaimana cara Varo akan membacanya di depan semua orang.
"Buntelan kentut!" geram Varo tanpa suara, sambil menatap tajam pada Bima.
Ingin rasanya dia segera menghampiri Bima sakti itu, dan menggunakan perut bulatnya untuk bermain bola bekel.
Varo menghela nafas panjang sebelum akhirnya membacakan tulisan tangan itu, dengan sangat-sangat terpaksa tentunya.
Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
Dengan kata yang tak sempat di ucapkan kayu
Pada api yang menjadikannya abu
Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
Dengan isyarat yang tak sempat disampaikan awan
Pada hujan yang menjadikannya tiada
Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
Dengan rasa yang tak sempat mentari curahkan
Pada Bulan yang menjadikannya semu
Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
Dengan ketulusan yang tak sempat Malam ungkapkan
Pada siang yang menjadikannya kenangan
Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
Dengan kesetiaan yang tak sempat tanah tunjukkan
Pada langit yang menjadikannya rendah
...*******...
...Jangan lupa like, komen, vote dan sumbangkan sedikit poin kalian ya guys.🙈...
...Dukungan kalian adalah hal terindah yang selalu membuatku bahagia.🤣...
...Novel yang satu ini novel ringan ya guys, jadi maklumin aja kalau alurnya memang agak lambat....
...Kalau kalian nyari yang konfliknya berat seberat beban hidup author, kalian salah tempat.🙊...