
...Seperti biasa ya bestie......
...Tinggalkan like, komen, vote dan juga masukkan ke favorit! Jangan lupaðŸ¤ðŸ˜˜...
...***** Happy Reading Bestie *****...
"Jadi kamu tadi pakai ajian pamungkas ya?" tanya Queen dengan gigi yang bergemelatuk menahan tangannya yang sudah tidak tahan lagi untuk menguncir mulut menyebalkan Varo itu, "Terus kenapa tadi kamu harus sok-sokan serius begitu, kalau ternyata cuma pakai ajian pemungkas!?" geram Queen.
"Ya gue kan nyari wangsit dulu, jadi harus serius."
Serasa tertimpa durian runtuh se pohon-pohonnya, Queen merasa kepalanya mendadak pusing dan tangannya mendadak tak ingin dia kendalikan.
Jika saja dia tak ingat identitas apa yang sedang dia gunakan saat ini, maka bisa dipastikan jika Queen akan menghajar Varo hingga terbelah menjadi beberapa bagian.
"Nyari Wangsit ya? Ok, kalau gitu kamu terusin aja nyari wangsitnya. Aku mau pulang, dan siapin kaki tanganku untuk dihukum lagi."
Terang saja ucapan Queensa itu kembali membuat Varo teringat dengan ancaman bu Tia, yang tidak bisa dia lawan.
Hingga akhirnya Varo terpaksa menurunkan egonya, dan meminta Queen tetap tinggal untuk mengajarinya.
Bahkan dia sampai berjanji jika dia akan bersungguh-sungguh, lagipula ujian kali ini dia juga harus lulus jika tak ingin ayahnya lagi-lagi membandingkannya dengan mendiang sang kakak.
"Tapi kamu janji serius ngerjainnya, jangan ngandelin ajian keramat sama wangsit!"
"Iya, bawel!"
Queen mendeesah kasar mendengar jawaban Varo barusan, lagipula dia juga tak ingin terus dihukum begitu lama oleh bu Tia, terlebih lagi dia harus di hukum bersama dengan si biang Sial itu.
Big No! Bisa mati berdiri Queensa jika dia benar-benar harus terus berdiri dengan menjalani hukuman bersama Varo, setiap kali kelas bu Tia di mulai.
Queen menyerahkan lagi kertas soal tadi pada Varo, dan menyuruh Varo untuk mengerjakannya sekali lagi tanpa menggunakan cara ala-ala mbah dukun seperti tadi.
"Lagian wangsit kan di pake buat dapetin nomor togel. Mana bisa di pake buat nyari jawaban, aneh banget nih biang sial!" batin Queen dengan Bimolinya alias bibir monyong lima centinya itu.
Namun sepertinya khotbah dadakan yang Queensa berikan pada Varo, kini membuat Varo benar-benar mengerjakan soalnya dengan serius.
Dia bahkan juga melingkari sendiri bagian mana yang tidak dia pahami, dan tentu saja hal itu membuat pandangan Queensa berubah.
Dia sangat yakin jika Varo sebenarnya tidaklah sebodoh yang selama ini terlihat, mungkin hanya kurang terasah saja.
Jika dilihat dari bagaimana cara Varo mengerjakan soal yang dia berikan, bisa dilihat dengan jelas jika cara yang dia pakai itu adalah cara terbaik dan tercepat.
Sama dengan cara yang Queensa gunakan untuk mengerjakan soal dengan cepat dan tepat tentunya.
Beberapa puluh menit kemudian, Varo kembali menyerahkan lembar soal plus dengan jawabannya itu pada Queensa.
Tapi kali ini tak ada lagi wajah selengean yang dia tampilkan, hanya wajah datar tanpa ekspresi yang justru terkesan aneh bagi Queensa.
...*******...
...Jangan lupa like, komen, vote dan sumbangkan sedikit poin kalian ya guys.🙈...
...Dukungan kalian adalah hal terindah yang selalu membuatku bahagia.🤣...
...Novel yang satu ini novel ringan ya guys, jadi maklumin aja kalau alurnya memang agak lambat....
...Kalau kalian nyari yang konfliknya berat seberat beban hidup author, kalian salah tempat.🙊...