Queensa

Queensa
Queensa "74"



...Seperti biasa ya bestie......


...Tinggalkan like, komen, vote dan juga masukkan ke favorit! Jangan lupa🤭😘...


...***** Happy Reading Bestie *****...


Alana menghela nafas panjang dengan senyum manis yang terbit di bibirnya. Dia melepaskan helm yang dia pakai, dan hendak turun untuk membangunkan Queensa.


Namun tiba-tiba saja, seseorang menghampirinya dan tanpa sepatah katapun langsung menggendong tubuh Queensa dan membawanya masuk, membuat Alana hanya bisa bingung menatapnya.


Alana turun dan mengikuti Queen yang sudah dibawa masuk oleh Varo. Benar, Varo lah yang menggendong Queensa masuk ke markas mereka, entah apa alasannya.


"Kenapa tuh anak?" tanya Alana tanpa suara, pada kedua sahabatnya yang lain saat Varo melewati ruang tengah dan membawa Queensa ke lantai atas.


Kedua manusia yang masih sibuk dengan ponsel mereka itu hanya menggeleng dan mengangkat bahunya, karena mereka memang tak mengetahui apa yang terjadi pada Varo.


"Aneh banget, bukannya dia nggak suka banget ya sama Queen kalo dia lagi pakai identitas Sasa?" batin Alana bingung.


Tak berapa lama, Varo sudah turun kembali dengan tangan yang bersembunyi di dalam saku celananya.


Dia berjalan dengan tampang coolnya yang seolah tak ada hal aneh yang terjadi, sedangkan ketiga temannya itu hanya bisa menatapnya dengan tanda tanya besar di dahi mereka.


"Kenapa?" tanya Varo pada ketiga temannya, saat melihat tatapan aneh mereka.


Tak berani bertanya, ketiganya pun hanya bisa menggelengkan kepala mereka pelan secara serempak.


"Dasar aneh!" gumam Varo sambil menyambar minuman kaleng dingin yang berada di atas meja.


Adam mengulurkan tangan untuk mengambil balik minuman miliknya, namun dia urung kala melihat Varo melotot kearahnya. "Dia yang aneh, tapi ngatain orang lain aneh! Dasar biangnya aneh!" umpat Adam yang tentu saja hanya dalam hati.


"Pacar?" lirih Alana sedikit bingung saat Varo menanyakan tentang pacarnya, tapi setelah mengingat-ingat kini dia tau jika yang Varo maksud pastilah Queensa.


Sedangkan Varo yang mendengar gumaman lirih Alana, justru mengartikannya lain. Bagaimana mungkin Alana bisa lupa kalau dirinya punya pacar? Hanya ada satu kemungkinan menurut Varo, yaitu mereka berdua sedang bertengkar.


"Ehm... gue sama dia—"


Belum selesai Alana menjawab pertanyaan Varo, dia sudah lebih dulu menyela ucapannya. "Lo itu kalo ada masalah sama cewek lo, selesaiin yang baik."


"Tapi gue—"


"Lo juga harus cari tau dulu, pacar lo itu orangnya gimana. Jangan sampai lo ketipu sama muka polosnya, atau cuma gara-gara lo ngefans sama dia." Varo menyela lagi ucapan Alana.


"Tapi kan—"


"Dan lo juga nggak boleh jadiin cewek lain pelarian lo, Alana. Jangan sampai lo mainin perasaan cewek, kalau lo nggak mau kena karma." Untuk ketiga kalinya, Varo kembali menyela ucapan Alana, membuat Alana mendesah kesal.


Alana pun akhirnya hanya menganggukkan kepalanya, karena jika dia mendebat Varo di saat ini, sudah bisa dipastikan aka ada debat yang lebih pelik daripada debat pilpres yang entah kapan baru akan selesai.


...*******...


...Jangan lupa like, komen, vote dan sumbangkan sedikit poin kalian ya guys.🙈...


...Dukungan kalian adalah hal terindah yang selalu membuatku bahagia.🤣...


...Novel yang satu ini novel ringan ya guys, jadi maklumin aja kalau alurnya memang agak lambat....


...Kalau kalian nyari yang konfliknya berat seberat beban hidup author, kalian salah tempat.🙊...