Queensa

Queensa
Episode 68



...Seperti biasa ya bestie......


...Tinggalkan like, komen, vote dan juga masukkan ke favorit! Jangan lupa🤭😘...


...***** Happy Reading Bestie *****...


Aku ingin mencintaimu dengan sederhana


Dengan kesetiaan yang tak sempat tanah tunjukkan


Pada langit yang menjadikannya rendah


Dikutip dari : mbah Google yang di mix sama puisi bikinan author sendiri.


(Yang penasaran mana yang dari google mana yang bikinan author sendiri, spil di komen)


Kali ini tak ada tawa sama sekali dari semua orang, yang ada semua orang justru memandang Varo dengan wajah kebingungan yang haqiqi.


"Kenapa lo semua liatin gue kayak gitu?" tanya Varo pada akhirnya, "Ada yang aneh ya bu Tia?" Varo beralih menatap bu Tia yang juga terdiam.


Namun tak ada yang bersuara sama sekali dan hanya gelengan kepala dari semua penghuni kelas itu, kecuali Bima tentu yang menjawab sudah pertanyaan Varo.


Tapi tentu saja hal itu tak berlaku bagi Queensa, "Sial! Firasat buruk!" batin Queensa yang semakin yakin jika setelah ini akan ada hal buruk yang terjadi.


Rasanya Queen ingin menggali lubang sedalam-dalamnya dengan sendok, dan mengubur dirinya sendiri di dalam sana.


Daripada harus melihat raut wajah makhluk-makhluk penghuni kelas sesat itu.


Terlebih lagi wajah Varo yang sepertinya belum menyadari kesialan yang sebentar lagi akan menimpanya.


Varo hanya menolehkan kepalanya ke kana dan kiri, menunggu setidaknya satu penjelasan saja kenapa semua orang justru terdiam seolah sedang berperan sebagai patung Pancoran.


"Jadi tadi kamu bukan sedang ingin mencontek ulangan Sasa, tapi untuk menyatakan cinta padanya?"


Menyatakan cinta? Pada Sasa, si micin luar angkasa? Big No!


"Hah? Bu Tia ngomong apa sih? Ibu tadi nggak habis minum congyang kan bu? Kok nanyanya aneh kayak orang mabok." Kesal mendengar pertanyaan gila itu dari mulut bu Tia.


Varo pun kelepasan mengatakan hal-hal yang tidak seharusnya dia katakan di depan bu Tia.


"Astaga, tamat riwayat si Al hari ini."


"Semoga lo diterima di sisi tuhan ya, Al. Gue bakalan kirim karangan bunga ke makam lo tiap tahun kok."


Adam dan Alvin tengah disibukkan dengan pemikiran mereka masing-masing.


Namun saat Varo yang bingung mulai menghubungkan semua hal menjadi satu dan menemukan kesimpulannya, dia pun auto terkejut bukan main.


"Puisi romantis, menyatakan cinta, Micin luar angkasa?" batinnya, "What!? Bu Tia salah paham! Varo nggak lagi nembak si Micin kok bu. Ini bukan punya Varo, kertas ini punya si Ndut!"


Varo auto menunjuk pada Bima, yang lagi-lagi berpura-pura tak melihat kearahnya dan justru memalingkan wajah ke arah lain.


Sontak saja semua orang di kelas itu tertawa terpingkal-pingkal melihat ekspresi wajah Varo yang tak pernah mereka lihat sebelumnya, ekspresi yang benar-benar sangat sulit dijelaskan.


...*******...


...Jangan lupa like, komen, vote dan sumbangkan sedikit poin kalian ya guys.🙈...


...Dukungan kalian adalah hal terindah yang selalu membuatku bahagia.🤣...


...Novel yang satu ini novel ringan ya guys, jadi maklumin aja kalau alurnya memang agak lambat....


...Kalau kalian nyari yang konfliknya berat seberat beban hidup author, kalian salah tempat.🙊...