Queensa

Queensa
Queensa "86"



...Seperti biasa ya bestie......


...Tinggalkan like, komen, vote dan juga masukkan ke favorit! Jangan lupa๐Ÿคญ๐Ÿ˜˜...


...***** Happy Reading Bestie *****...


Tak lama setelah itu, Selena pun datang menghampirinya dan duduk begitu saja di samping Queen.


"Sasa." Queen pun menoleh dan mengerutkan keningnya, saat mendapati wajah aneh sahabat barunya itu.


Selena tampak tengah bahagia hari ini, seperti orang yang baru saja mendapatkan undian berhadiah.


Queen menghentikan acara makannya, kemudian menangkup kedua pipi Selena, menatapnya dengan lekat.


"Kamu baik-baik aja kan? Kamu nggak lagi kesambet jin tomang kan?"


Selena menghela nafas kasar sambil melepaskan tangan Queensa dari pipinya, dengan bibir yang mengerucut lucu.


"Iish... apa-apaan sih Sa, gue tuh nggak lagi kesambet jin tomang, jin botol atau jin dan jun! Tapi lagi kesambet cinta malaikat penolong gue."


Selena mengatupkan kedua tangannya dan meletakkan di bawah dagu, sambil menggoyangkannya kiri-kanan, lengkap dengan senyumnya persis seperti anak kecil yang senang karena dibelikan hadiah.


Sontak saja Queensa langsung mengerutkan dahinya, dan mencoba menerka siapakah gerangan malaikat penolong yang tengah dimaksud oleh Selena.


"Malaikat penolong? Siapa?"


Mendengar pertanyaan Queensa, wajah bahagia yang tadi terlihat sangat berseri-seri itu tiba-tiba saja berubah murung, bak mendung yang tiba-tiba datang setelah hari yang cerah.


Selena menatap Queen dengan mata puppynya yang terlihat memelas, kemudian menggelengkan kepalanya pelan sebagai jawaban jika dia juga tak tau siapa orang itu.


Tentu saja Queen bingung apa maksudnya, hingga kemudian Selena menghela nafas panjang.


"Dia nolongin gue pas kejambretan, tapi pas gue ajakin kenalan..."


Tapi bukannya melanjutkan ucapannya, Selena malah hanya terus mendesah sambil melamun, seolah hanya raganya saja yang berada di samping Queensa sedangkan jiwanya seperti sedang traveling sendiri ke ujung pelangi.


"Dia kenapa?" tanya Queen yang semakin penasaran, karena cerita Selena yang hanya setengah jalan dan malah mogok itu.


"Diaโ€”"


Belum sempat Selena melanjutkan ucapannya, bel tanda masuk jam pelajaran pertama pun berbunyi dan membuat Queensa segera berdiri dari bangkunya.


"Udah lanjut nanti aja, udah bel masuk tuh." Ajaknya pada Selena.


Namun Selena sepertinya sedang malas, dan bukannya cepat-cepat berdiri untuk masuk ke kelas mereka, dia justru masih betah untuk duduk sambil merenungi pangeran berkuda putihnya itu.


Queen menghela nafas panjang, melihat sahabatnya itu murung dengan bibir cemberut yang sudah seperti tebing longsor itu.


Dia pun berjalan beberapa langkah kemudian menoleh dan berkata, "Jam pelajaran pertama, jamnya pak Jaim loh dia guru killer."


Setelah mengatakan itu, Queen kembali melanjutkan langkahnya sambil menunggu Selena yang pasti akan segera menyusulnya.


Mendengar julukan guru killer yang Queen sematkan, tentu saja Selena auto ngibrit dan menyusul langkah Queensa yang sudah berjalan lebih dulu di depannya.


"Emang ada guru killer juga di sini? Tapi kenapa nama gurunya aneh gitu, masa namanya Jaim. Emang tuh guru suka jaga images gitu depan muridnya, padahal aslinya minus?" tanya Selena yang mulai penasaran mendengar nama Jaim itu.


...*******...


...Jangan lupa like, komen, vote dan sumbangkan sedikit poin kalian ya guys.๐Ÿ™ˆ...


...Dukungan kalian adalah hal terindah yang selalu membuatku bahagia.๐Ÿคฃ...


...Novel yang satu ini novel ringan ya guys, jadi maklumin aja kalau alurnya memang agak lambat....


...Kalau kalian nyari yang konfliknya berat seberat beban hidup author, kalian salah tempat.๐Ÿ™Š...