Queensa

Queensa
Queensa "214"



...Seperti biasa ya bestie......


...Tinggalkan like, komen, vote dan juga masukkan ke favorit! Jangan lupa🤭😘...


...***** Happy Reading Bestie *****...


"Hah? Maksud lo?" tanya Varo yang berpura-pura bodoh, "Good, Micin. Emang seharusnya lo lakuin itu, karena lo bukan ban serep. Gue nggak mau lo dijadiin pelarian." batin Varo.


Bukan bermaksud untuk jahat pada temannya sendiri, tapi Varo hanya tak ingin gadia yang sudah mengisi hatinya itu, harus tersakiti oleh teman baiknya sendiri.


Terlebih dia tau seberapa besar cinta Alana pada Putri, yang hanya akan terus menyakiti Queen jika dia tetap bertahan.


"Gue... ketemu sama Putri, Al. Tadi pas gue mau kesini bawain lo makanan, gue liat ada orang kecelakaan di jalan makanya gue penasaran mau liat, tapi ternyata... itu Putri, Al." Alana menghela nafas panjang dengab tatapan sendunya, "Gue nggak bisa buat nggak perduli sama dia Al, meskipun otak gue nolak buat itu, tapi hati kecil gue bilang kalau gue harus nolongin dia Al. Gue anterin dia kesini, tapi dia masih belum sadar. Dan kayaknya, Sasa liat gue pas lagi nungguin Putri."


Dada Alana terasa sesak, terlebih saat mengingat beberapa waktu lalu dia baru saja mengungkapkan perasaannya pada Queensa.


Apalagi jika dia mengingat kalau alasan dia mengidolakan Queen, memang selain karena Alana menyukai balapan, itu juga karena wajah Queen yang sangat mirip dengan Putri, sang mantan terindah.


Dan Alasan kenapa dia mendekati Queensa juga awalanya juga karena itu, tapi setelah beberapa lama bersama Queensa, Alana tau jika Queen adalah Queen dan Putri tetaplah Putri. Meskipun rupa mereka sama, tapi mereka berbeda.


Tapi Alana, bahkan tidak bisa membedakan perasaannya sendiri. Apakah rasa yang dia miliki untuk Queen memang benar-benar rasa cinta pada seorang gadis, atau hanya sekedar harapan pada seorang pengganti.


"Gue tau lo, Lan. Gue kenal lo nggak sehari dua hari. Kalau lo mau mastiin perasaan lo sama Putri masih ada atau enggak, coba lo tanya sama Putri apa alesan dia ninggalin lo waktu itu. Kalau lo masih ngerasain sakit, itu artinya masih nama Putri yang dudukin takhta cinta di hati lo, tapu kalau enggak berarti nama Putri emang bener-bener udah nggak ada lagi dihati lo."


Varo menatap lurus ke depan memandangi dinding kamar rawatnya sambil mengatakan kata-kata bijak itu, membuat Alana, Adam dan Alvin terbengong dengan mulut menganga mendengarnya.


Seolah mereka baru saja mendengarkan hal luar biasa yang baru mereka dengar seumur hidup mereka.


Varo yang tadinya menatap pada dinding pun seketika menoleh, kala dirinya merasa jika tengah menjadi perhatian trio somplak di sampingnya itu.


Dia bahkan tidak menyadari, kapan Adam dan Alvin yang tadinya masih asik duduk di sofa sambil main game, tiba-tiba saja sudsh berada di sebelahnya.


...*******...


...Jangan lupa like, komen, vote dan sumbangkan sedikit poin kalian ya guys.🙈...


...Dukungan kalian adalah hal terindah yang selalu membuatku bahagia.🤣...


...Novel yang satu ini novel ringan ya guys, jadi maklumin aja kalau alurnya memang agak lambat....


...Kalau kalian nyari yang konfliknya berat seberat beban hidup author, kalian salah tempat.🙊...