
Mereka berdua berjalan menuju taman dan duduk di salah satu bangku yang tersedia di tempat itu, untuk mengobrol.
Baru saja keduanya duduk, Varo sudah mencecar Dom dengan berbagai pertanyaan, "Siapa lo sebenarnya? Apa benar lo itu calon suaminya Queen? Tapi kalau iya, kenapa berita tentang lo dan Queen nggak pernah muncul?"
Dom menghela nafas panjang, mendengar rentetan pertanyaan yang Varo tujukan untuknya itu.
Dia benar-benar tidak habis pikir, dirinya kalah dari seorang pria seperti Varo. Awalnya dia pikir, Varo adalah sosok yang cool, dingin, pokoknya segala macam sifat seorang pria sejati itu ada padanya.
Dia menilai itu dari seluruh informasi yang dia dapatkan mengenai Varo. Dan itu juga alasan, kenapa dia tau jika Varo tengah mencoba mencari tau tentang dirinya.
Tapi setelah dia bertemu secara langsung dengan Varo, segala pikirannya tentang Varo seolah terpatahkan satu persatu.
Varo ternyata adalah sosok yang bodoh, cerewet dan sangat menyebalkan. Dan dia kalah dari orang seperti ini? Astaga, itu adalah mimpi buruk bagi seorang Dominic, yang merupakan idaman para wanita.
"Bisakah anda mendengarkan saya bicara lebih dulu? Saya pusing mendengar pertanyaan anda yang tadi, jadi saya akan mengatakan sesuatu yang saya pikir bisa menjawab semua pertanyaan anda."
Varo mengangguk dan bersiap mendengar dengan seksama, hal apa yang ingin Dominic katakan padanya.
Dominic mulai bercerita jika dia adalah teman masa kecil Queen, awal mula dia bertemu dengan Queen bahkan sampai akhirnya mereka harus berpisah dengan ikatan janji yang masih Dominic pegang erat sampai saat ini.
"Tapi sayangnya, saat aku kembali aku sudah terlambat."
Varo mengerutkan keningnya. Terlambat? Apa maksud dari kata terlambat yang Dominic katakan itu? Padahal Queen masih hidup dan juga lajang, karena status Queen dengannya hanyalah semu. Lalu apa maksudnya dengan terlambat?
Dominic yang seolah mengerti arti dari ekspresi wajah Varo pun berkata, "Dia memang belum menjadi milik orang lain, tapi di dalam hatinya sudah terukir nama orang lain." Dom tersenyum miris, "Dia sudah mencintai orang lain. Dan aku baru sadar jika aku yang terlalu bodoh, karena menganggap kata-kata yang keluar dari mulut seorang bocah sebagai sesuatu yang nyata."
"Menyukai orang lain?! Jadi Queen punya orang yang dia sukai? Astaga, siapa lagi orang itu? Kau saja belum selesai ku urus, tapi aku sudah dapat calon saingan baru?!" tanya Varo dengan entengnya, seolah apa yang dia katakan itu tidak ada yang salah.
Dominic menepuk jidatnya, melihat betapa bodohnya Varo. Meskipun dia yakin, jika Varo bersikap seperti itu karena dia menyayangi Queen, dan tak ingin melihat Queen dimiliki oleh orang lain.
Tapi tetap saja, meskipun kata pepatah cinta itu buta dan cinta mampu mengalahkan logika, tapi bukan berarti orang yang sedang jatuh cinta itu harus bodoh bukan? Tapi kenapa Varo ini sangat bodoh?
"Apa kau masih belum mengerti juga? Queen menyukaimu. Orang yang dia sukai itu adalah kau, kau Alvaro Garaham." Dominic memegang kedua bahu Varo, "Kejar dia. Bahagiakan dia, dan jangan buat dia terluka. Karena sekali saja kau mengecawakannya, maka aku akan merebutnya dan membawanya pergi jauh darimu."
Tanpa menunggu jawaban dari Varo, Dominic berdiri dari duduknya dan berjalan meninggalkan Varo yang masih mematung dia tempatnya.
Dia terdiam tanpa kata. Ucapan yang baru saja keluar dari mulut Dominic, membuat Varo terkejut namun juga sangat senang.
"Jadi bener kata Adam kalau Queen ngomong gitu cuma buat ngejauh dari gue? Tapi kenapa? Apa karena gue yang udah nuduh dia sembarangan, tanpa dengerin penjelasan dia dulu?" batin Varo yang kembali mengingat saat pertemuan terakhirnya dengan Queen, dimana saat itu Queen berniat menjelaskan padanya, namun dia sudah lebih dulu menyela dan bahkan menghina Queensa.
Tak ingin berlama-lama dan membuang waktu, Varo segera bangkit dari duduknya. Dia berlari dengan semangat empat lima, hanya untuk lebih cepat sampai di mansionnya.
Dia ingin pergi mencari Queen, meluruskan semua kesalahpahaman yang terjadi di antara mereka, dan memulai kembali kisah cinta mereka dengan ikatan yang tidak terjalin akibat sebuah paksaan atau pun jebakan.
Sesampainya di mansion, Varo langsung berlari menuji garasi dan mengendarai motornya dengan kecepatan tinggi.
Dia hanya ingin agar segera sampai di rumah Queen dan menemui gadis pujaan hatinya itu.
*
"Maaf mas, tapi non Queen beneran sedang tidak ada di rumah saat ini. Non Queen sedang berada di kantor papanya, untuk menggantikan pak Mario yang sedang sakit."
Satpam itu mencoba menjelaskan hal yang sebenarnya, sekali lagi.
Itu karena sudah sejak tadi, Varo terus menanyakan hal yang sama seolah tak percaya dengan apa yang dia katakan.
Varo meraup kasar wajahnya, "Kalau gitu dimana alamat kantor Queen? Saya mau kesana sekarang."
Akhirnya mau tak mau, satpam itu pun memberikan alamat perusahaan Queen pada Varo, sebelum pria itu membuat keributan di kediaman Abraham.
Dengan kecepatan tinggi, Varo memacu motornya menuju Abraham Group, dengan harapan jika dirinya bisa bertemu dengan Queensa.
"Apapun yang terjadi, gue harus ketemu sama lo, Queen." Varo menambah laju kendaraannya, agar lebih cepar sampai ke tujuan.
Dan tak butuh waktu lama, Varo pun sampai di perusahaan. Namun dia harus kembali kecewa, karena dia tak di izinkan masuk tanpa membuat janji.
Terlebih saat ini, Queen sedang menghadiri rapat penting. Tapi Varo tidak menyerah begitu saja, dia memilih untuk menunggu Queen.
Varo duduk di atas jok motornya, "Gue bakalan tunggu lo sampe lo keluar, Queen."
*
"Maaf bu Queen," sapa salah seorang security di perusahaannya, saat Queen baru saja melangkah keluar.
Queen menghentikan langkahnya dan berbalik menatap security itu, "Ada apa pak?"
"Tadi ada orang yang nyari bu Queen. Cowok, tingginya segini." Security itu memperkirakan tinggi badan Varo, "Orangnya ganteng, putih, kayak artis muda gitu bu."
Queen mengerutkan keningnya dan berpikir, siapa orang yang security itu maksudkan
"Terus orangnya kemana, pak?" tanya Queen yang yakin jika orang yang dimaksud adalah Varo.
Security itu menunjuk ke area taman kecil, dimana ada seorang pria yang tengah tertidur di kursi kayu panjang.
Queen mengikuti arah telunjuk security itu, dan dia pun menghela napas panjang saat mendapati Varo yang sepertinya kelelahan, saat menunggunya.
Dia pun bertanya pada security itu, "Sejak kapan dia di sini, pak?"
"Sudah sejak pagi tadi, bu. Sejak bu Queen sedang meeting tadi."