
...Seperti biasa ya bestie......
...Tinggalkan like, komen, vote dan juga masukkan ke favorit! Jangan lupaðŸ¤ðŸ˜˜...
...***** Happy Reading Bestie *****...
Namun setelah mendengar suara orang dari seberang sana, Mila pun menatap layar ponselnya dan mendengus kesal melihat nama yang tertera di sana bukanlah nama Varo melainkan nama yang sedang tak ingin ia dengar.
"Ngapain kamu telepon aku?!" ketusnya.
Sepanjang perbincangan, Mila tampak kesal dan ingin sekali marah. Namun sepertinya dia tak bisa untuk memarahi seseorang di seberang telepon sana.
Setelah beberapa puluh menit berbicara dengan seseorang di seberang sana, Mila pun menutup teleponnya.
Sedangkan Varo, kini tengah kesal. Pasalnya, setelah dia selesai dengan ritual mandinya yang sampai berkali-kali itu, dia mencoba menghubungi sang kekasih.
Namun nomor telepon Mila terus saja sibuk sejak tadi, dan itu membuat mood Varo yang sudah buruk menjadi semakin buruk karenanya.
"Aaarrggh! Kenapa dari tadi nomornya sibuk terus sih!?" Varo melemparkan ponselnya ke atas ranjang besar miliknya.
Varo pun menghempaskan tubuhnya ke ranjang, mencoba untuk memejamkan matanya dan melupakan masalah yang menghancurkan moodnya walau sejenak saja.
Namun baru saja mata itu terpejam, Varo kembali membuka matanya dan mengubah posisi tubuhnya menjadi telungkup setelah menyambar ponsel yang tadi dia lempar sembarangan ke atas ranjang.
Varo mencari nama kontak yang ingin dia hubungi. Namun saat sudah menemukan apa yang dia cari, hatinya justru terasa bimbang.
Haruskah dia menelepon orang itu, atau tidak. Tapi alasan apa yang akan dia pakai, jika orang itu bertanya kenapa dirinya menelepon.
"Telepon nggak ya? Telepon, enggak. Telepon, enggak. Telepon, enggak. Telepon aja deh, bodo amat!"
Varo pun menekan tombol call itu, dan setelah dering ke-lima telepon pun terhubung dengan seseorang di seberang sana.
"Ya ampun galak banget nih orang, nggak ada basa-basinya sama sekali!" gerutu Varo dalam hati, "Galak banget sih lo, kayaknya lo nggak sakit. Buktinya lo masih bisa ngegas gitu."
Queen terdengar menghela nafas jengah, "Baiklah paduka Raja Alvaro Graham, ada apakah gerangan paduka menghubungi hamba? Apa paduka tidak melihat, ini sudah waktunya hamba untuk istirahat!"
Queen mengucapkan kalimat itu dengan gigi yang merapat sempurna, menahan ledakan amarah yang siap meletus kapan saja.
Sedangkan Varo yang mendengarnya justru tertawa, dia menjauhkan ponselnya agar tawanya tak terdengar di telinga Queensa.
Entah kenapa setelah mendengar suara Micin Luar Angkasa itu, kekesalan Varo tadi hilang seketika.
Seolah amarah yang tadi sempat ingin meledak, justru menguar seketika setelah mendengar suara Queen yang ketus.
"Ekhem! Karena lo nggak sakit, jadi anterin makanan ke rumah gue sekarang." Titahnya pada Queensa yang membuat Queen mematung seketika.
Apa dia lupa? Apa si Biang Sial itu lupa kalau Queen bukan lagi kacung, babu, alias jongosnya? Apa dia melupakan begitu saja perjanjian yang sudah mereka buat sebelumnya?
Wah wah wah benar-benar tidak ada akhlak manusia satu ini. Begitulah isi pikiran Queen saat ini.
...*******...
...Jangan lupa like, komen, vote dan sumbangkan sedikit poin kalian ya guys.🙈...
...Dukungan kalian adalah hal terindah yang selalu membuatku bahagia.🤣...
...Novel yang satu ini novel ringan ya guys, jadi maklumin aja kalau alurnya memang agak lambat....
...Kalau kalian nyari yang konfliknya berat seberat beban hidup author, kalian salah tempat.🙊...