Queensa

Queensa
Queensa "113"



...Seperti biasa ya bestie......


...Tinggalkan like, komen, vote dan juga masukkan ke favorit! Jangan lupa🤭😘...


...***** Happy Reading Bestie *****...


Varo sampai muntah-muntah dan mengeluarkan semua isi perutnya. Dia terduduk lemas di pinggir jalan, dengan kepala yang masih pusing.


"Shitt! Gue sampe lupa kalo tadi gue bawa motor!" rutuknya pada diri sendiri, "Harusnya kan gue tadi bisa kabur pake motor, bukannya malah berendam di bak sampah!" serunya.


Dengan langkah gontai, lelah, dan pusing, Varo pun kembali ke cafe dimana dia memarkirkan motornya.


Namun sepanjang jalan, dia mendapati tatapan aneh dari setiap orang yang melihatnya. Mungkin karena pakaian yang di kenakan begitu kotor, juga bau badannya yang sudah seperti tikus got.


"Ya ampun kasian banget, cakep-cakep kok jadi gelandangan gitu." Bisik-bisik dari beberapa pejalan kaki, masih bisa Varo dengar.


Namun apalah daya? Bahkan dia sudah tidak punya tenaga, meskipun hanya untuk menyangkal dan memarahi orang-orang yang menuduhnya sebagai gelandang.


Terlebih lagi jika dia marah-marah pada orang yang menggunjingnya dalam kondisi seperti itu, dia justru benar-benar akan dianggap sebagai gelandangan gila.


Bahkan bisa lebih parah jika dia dilaporkan sebagai ODGJ yang meresahkan, bisa-bisa dia malah di kirim ke rumah sakit jiwa.


Big No!


Varo pun mempercepat langkahnya menuju tempat motornya terparkir. Dia ingin segera pulang, dan mandi untuk membersihkan diri dari bau menyengat di tubuhnya itu.


Bahkan jika perlu dia akan mandi kembang tujuh rupa dengan air dari tujuh sumber mata air, asalkan bau sampah di tubuhnya bisa lenyap dan tidak berbekas.


*


Hingga ketukan di pintu kembali terdengar dan menampilkan sosok Mbok Ijah, asisten rumah tangga Queensa.


"Non, mbok udah siapin makanan di bawah. Non makan dulu ya, dari tadi kan non Queen belum makan." Mbok Ijah terlihat khawatir, karena mengira jika Queensa sedang sakit.


Dia juga tadi sempat bertanya pada Queen, apakah dia sakit. Namun Queen hanya menggelengkan kepalanya, kemudian malah melanjutkan lagi tidur cantiknya.


Melihat raut cemas di wajah asisten rumah tangga yang sudah dia anggap sebagai pengganti almarhumah ibunya itu, Queen pun mengangguk pasti.


"Iya mbok, Queen juga laper pengen makan. Tapi boleh nggak mbok kalo makanannya dibawa ke sini aja, Queen males keluar mbok."


Mbok Ijah pun menghela nafas panjang mendengar ucapan Queensa itu. Bukan karena dia harus kembali direpotkan dengan permintaan Queen, yang menyuruhnya membawa semua makanan yang sudah dia tata rapi di atas meja makan di kamarnya.


Namun lebih karena dia tau dengan jelas, alasan apa yang membuat Queensa tak ingin turun dan menyantap makanannya di meja makan.


"Iya, non. Bentar ya, mbok siapin dulu makanannya." Mbok Ijah pun berlalu turun ke lantai bawah setelah mendapatkan anggukan dari Queensa.


Selana dan Alana pun menatap Queensa dengan wajah bingung. Kenapa pula gadis cantik itu tak mau makan di meja makan, padahal sudah jelas-jelas dia tidak sedang sakit seperti yang sempat mereka pikirkan.


...*******...


...Jangan lupa like, komen, vote dan sumbangkan sedikit poin kalian ya guys.🙈...


...Dukungan kalian adalah hal terindah yang selalu membuatku bahagia.🤣...


...Novel yang satu ini novel ringan ya guys, jadi maklumin aja kalau alurnya memang agak lambat....


...Kalau kalian nyari yang konfliknya berat seberat beban hidup author, kalian salah tempat.🙊...