Queensa

Queensa
Queensa "157"



...Seperti biasa ya bestie......


...Tinggalkan like, komen, vote dan juga masukkan ke favorit! Jangan lupa🤭😘...


...***** Happy Reading Bestie *****...


Lagi lagi Adam hanya mengangguk mengerti, begitu juga Alvin yang ikut mengangguk. Sedangkan Alana justru tengah berkelana dengan lamunannya sendiri.


"Kenapa lo sampai sepanik itu cuma denger Varo kecelakaan, Queen. Bukannya lo bilang, lo benci banget ya sama Varo karena dia ngeselin?"


Alana bertengkar dengan pemikirannya sendiri, otak warasnya mengatakan jika dia tak seharusnya merasa cemburu karena kepanikan Queensa.


Bagaimana pun mendengar seseorang yang kita kenal mengalami kecelakaan, tentu saja merasa panik itu wajar.


Tapi nyatanya hati memang lebih jujur daripada otak, dia tak bisa berbohong bahwasannya dia tak suka melihat Queen yang panik karena pria lain, meskipun itu sahabatnya sendiri.


Entahlah, tapi bukankah seharusnya cinta tak seperti itu. Cinta bukan berarti memiliki orang itu untuk diri kita sendiri, tapi apa mau dikata.


Cinta memanglah sumber munculnya kekhawatiran, cinta jugalah yang seringkali menumbuhkan obsesi dan dendam, tapi jika cinta kita jatuh pada orang yang tepat maka semua itu tak akan terjadi.


"Woy, Lan. Ngapain lo ngelamun? Lo udah kasih tau nyokap sama bokapnya si Varo belum?"


Alana pun tersadar dari lamunannya dan segera mengangguk sebagai jawaban, "Tadi gue udah telepon mereka, tapi ya kayak biasanya."


Adam dan Alvin pun menghela nafas panjang, lalu menatap Varo dengan perasaan iba yang terlihat jelas di wajah mereka.


Dan tentu saja hal itu membuat Queen merasa bingung dan penasaran, ada apa dengan trio somplak itu.


"Kalian kenapa? Emang bapak sama ibuknya si Varo kemana, kok belum sampe juga kali udah di kasih tau anaknya kecelakaan?"


Jika mereka memberitahu Queensa tentang hal itu, berarti mereka sama saja sudah mengkhianati kepercayaan Varo.


Karena Varo sudah meminta mereka untuk tak pernah memberitahukan betapa rumitnya, kehidupan keluarga Varo yang terlihat bahagia di mata publik itu.


Di saat keadaan di dalam ruang perawatan itu sedang tegang, tiba-tiba saja suara lenguhan terdengar dan membuat mereka semua serempak mengalihkan pandangan mereka pada sosok Varo yang baru saja terbangun.


"Eh, si Varo udah sadar!" Alana langsung menekan tombol untuk memanggil dokter agar memeriksa keadaan Varo.


Tak berapa lama kemudian, seorang dokter dan perawat tiba di kamar itu. Keempat orang yang ada di sana pun segera memberikan jalan untuk sang dokter, agar beliau bisa memeriksa keadaan Varo saat ini.


"Kondisi pasien sudah membaik."


Semua orang bernafas lega mendengarnya. Dokter itu pun segera pergi dari ruangan itu, sedangkan sang perawat memberikan obat yang harus Varo minum.


"Air." Varo mengulurkan tangannya, untuk menggapai gelas yang ada di atas nakas.


Alana dan Queen yang berada paling dekat dengan nakas pun, segera mengambil gelas itu hingga terjadilah adegan ala-ala slow motion di film-film romance.


...*******...


...Jangan lupa like, komen, vote dan sumbangkan sedikit poin kalian ya guys.🙈...


...Dukungan kalian adalah hal terindah yang selalu membuatku bahagia.🤣...


...Novel yang satu ini novel ringan ya guys, jadi maklumin aja kalau alurnya memang agak lambat....


...Kalau kalian nyari yang konfliknya berat seberat beban hidup author, kalian salah tempat.🙊...