
...Seperti biasa ya bestie......
...Tinggalkan like, komen, vote dan juga masukkan ke favorit! Jangan lupaðŸ¤ðŸ˜˜...
...***** Happy Reading Bestie *****...
"Aw, sakit!" seru Queen sesaat setelah Selena duduk, yang langsung membuat Alana dan Selena panik seketika.
"Queen, lo kenapa? Ada yang sakit? Lo pusing? Sakit perut, atau apa?" tanya Alana bertubi-tubi, sambil mendekat ke arah Queensa dan menopang tubuh gadis itu dengan lengannya.
Terpancar jelas dari raut wajahnya, jika dia benar-benar mengkhawatirkan Queensa. Apalagi setelah mendengar teriakan kesakitan Queensa.
Tak jauh beda dengan Alana yang begitu panik, Selena juga nampak panik dibuatnya. Dia menolehkan kepalanya dan menatap Queen yang meringis kesakitan. "Kaki gue lo gencet pake pantat, ege!"
Mendengar hal itu, sontak saja Selena langsung bangkit berdiri dan menatap bekas tempat yang tadi dia duduki. Dan benar saja, di sana ada kaki Queensa yang ternyata menjadi alas duduknya.
Pantas saja gadis itu berteriak tadi, karena pergelangan kakinya yang tergencet ke arah yang salah akibat ulah pantat nyasar Selena.
"Dasar lo ya, bener-bener. Mentang-mentang gue nggak sakit, lo mau bikin gue sakit beneran gitu?" ujar Queen dengan bibir mengerucut, menatap pada Selena yang malah nyengir kuda dibuatnya.
"Hehe, ya maaf. Habisnya kaki lo nyamanable banget sih, buat di dudukin."
"Benar-benar bestie minus akhlak lo ya."
Mereka pun tertawa lepas dengan kesengklekan receh mereka, yang justru mengundang tawa yang haqiqi.
Alana senang melihat wajah Queen yang ceria dan berseri, dengan kekonyolan Selena itu meskipun dia harus rela kupingnya pegal mendengar betapa berisiknya suara kaleng rombeng Selena itu.
*
Di sisi lain, tampak sepasang muda-mudi yang tengah menikmati makanan mereka sambil bercerita.
Seolah hanya raganya yang berada di tempat itu, namun jiwanya tidak. Dia bahkan tidak mendengar sama sekali, apa yang lawan bicaranya katakan panjang lebar sejak tadi.
Makanan dihadapannya juga tidak ia makan sama sekali, dan malah hanya menjadi sasaran tusukan garpu saja.
"Iih, Varo! Kamu tuh dari tadi dengerin aku nggak sih?!" kesal gadis yang tidak lain adalah Mila, pacar Varo.
"Maaf maaf, tadi kamu ngomong apa?" Varo yang baru kembali sadar dari lamunannya pun, segera meminta maaf pada sang kekasih.
"Tau ah, kesel!" Tanpa menjawab pertanyaan Varo, dia pun segera berdiri dari duduknya dan melenggang meninggalkan Varo sendirian di cafe itu.
"Mila, tunggu!" Baru saja Varo ingin berlari menyusul Mila, seorang pelayan sudah lebih dulu menahannya.
"Maaf mas, makanannya belum dibayar." Varo segera mengeluarkan beberapa lembar uang dan memberikannya pada sang pelayan, kemudian mengejar Mila yang sudah sampai di luar cafe. "Ambil aja kembaliannya."
Pelayan itu pun menatap bingung ke arah Varo, pasalnya nominal yang Varo berikan padanya memang sesuai dengan total bill milik Varo.
Yang Varo berikan tadi adalah dua lembar lima puluh ribuan, bukan seratus ribuan seperti yang Varo kira. Karena Varo memang tak memperhatikan uang yang dia ambil, fokusnya hanya tertuju pada sosok Mila yang semakin menjauh dari pandangannya.
...*******...
...Jangan lupa like, komen, vote dan sumbangkan sedikit poin kalian ya guys.🙈...
...Dukungan kalian adalah hal terindah yang selalu membuatku bahagia.🤣...
...Novel yang satu ini novel ringan ya guys, jadi maklumin aja kalau alurnya memang agak lambat....
...Kalau kalian nyari yang konfliknya berat seberat beban hidup author, kalian salah tempat.🙊...