
...Seperti biasa ya bestie......
...Tinggalkan like, komen, vote dan juga masukkan ke favorit! Jangan lupaðŸ¤ðŸ˜˜...
...***** Happy Reading Bestie *****...
"Ini sudah bagus. Tadi sudah kamu bersihkan lukanya dengan alkohol?" Alana pun menganggukkan sebagai jawaban, "Sudah di beri obat merah?" Lagi-lagi Alana mengangguk.
Setelah itu bu Rita pun berjalan menuju meja kerjanya, membungkuk untuk membuka laci dan mencari obat yang dia butuhkan kemudian kembali menghampiri Queensa.
"Kamu sudah makan belum? Kalau belum makan dulu, kalau sudah ini obatnya diminum." Bu Rita memberikan obat antibiotik dan satu obat lain pada Queen.
"Lo udah makan belum?" tanya Alana sambil berbisik pada Queen dan mendapat gelengan kepala dan senyum kaku sebagai jawabannya.
Alana pun geleng-geleng kepala dengan kelakuan Queensa. Bagaimana bisa dia marah sampai melukai dirinya sendiri dengan perut kosong, padahal marah kan juga butuh tenaga.
"Ya sudah, sana kamu belikan makanan dan minuman untuk teman kamu dulu." Alana pun mengiyakan dan segera berlari menuju kantin sekolah, yang untungsaja dalam keadaan sepi sehingga dia tak perlu mengantri.
Ya jelas saja sepi, wong yang lainnya masih pada di kelas dengerin pelajaran yang bikin otak jadi panas, kepala jadi pusing dan ubun-ubun pun juga jadi ngebul alias berasap.
Alana pun membeli dua bungkus roti dan dua botol air mineral. Setelah membayarnya, Alana pun bergegas kembali ke UKS sambil terus mengumpat dalam hati.
Merutuki kebodohannya yang tadi sempat khilaf dan ingin mencium Queensa jika saja bu Rita tak segera datang dan menyadarkannya.
"Untung aja tadi ada bu Rita, kalau enggak lo bakal nyesel Lan. Queen bisa aja marah banget sama lo atau bahkan benci sama lo!" Alana berperang dengan hatinya sendiri.
"Nih makan dulu, abis itu lo minum obatnya."
"Kok dua? Nih satunya buat lo aja." Queen memberikan roti yang satunya pada Alana, karena dia tak mungkin menghabiskan dua roti itu sendirian. Bukannya tidak kuat masalah space alias kekenyangan, tapi lebih karena makan terlalu banyak roti isi cream seperti ini akan terasa eneg.
"Ya udah siniin." Alana pun membuka bungkus roti itu dan memberikannya pada Queen, lalu menyambar roti yang ada di tangan Queen lalu membuka dan menggigitnya.
"Dih ngapain sih kamu pake bukain punya aku segala, aku itu masih bisa buka sendiri tau. Tanganku itu cuma kegores dikit doang, bukannya lumpuh!" Queen mencebikkan bibinya, meskipun dalam hati dia merasa sangat senang karena diperlakukan dengan begitu istimewa oleh Alana.
Bu Rita yang melihat kelakuan dua muridnya itu hanya bisa geleng-geleng kepala. Bukan hanya kali ini, tapi sudah sering dia melihat ada murid yang berpacaran dan saling menebar kasih sayang saat salah satunya tengah sakit.
Tapi dua manusia dihadapannya saat ini begitu istimewa dan menunjukkan kasih sayang dengan cara yang berbeda. Memang benar, menyampaikan kasih sayang itu tidak harus dengan kata-kata yang lebay dan berlebihan.
...*******...
...Jangan lupa like, komen, vote dan sumbangkan sedikit poin kalian ya guys.🙈...
...Dukungan kalian adalah hal terindah yang selalu membuatku bahagia.🤣...
...Novel yang satu ini novel ringan ya guys, jadi maklumin aja kalau alurnya memang agak lambat....
...Kalau kalian nyari yang konfliknya berat seberat beban hidup author, kalian salah tempat.🙊...