
...Seperti biasa ya bestie......
...Tinggalkan like, komen, vote dan juga masukkan ke favorit! Jangan lupaðŸ¤ðŸ˜˜...
...***** Happy Reading Bestie *****...
Alana dan Queensa saling senggol melihat Selena justru cengar-cengir sendiri seperti orang kerasukan.
"Kamar lo ini nggak ada setannya kan? Kok dia kayak kerasukan gitu sih, merinding gue."
Queen auto menggeplak lengan Alana dengan keras sampai menimbulkan suara, yang membuyarkan lamunan indah Selena.
Alana hanya bisa memonyongkan bibirnya sambil mengusap-usap lengannya yang terasa panas akibat geplakan maut dari Queensa.
"Kenapa lo ngeliatin gue kayak gitu, ada yang aneh?" tanya Selena yang sudah sadar dari lamunannya.
"Aneh sih enggak, tapi kalo ngeri iya." Celetuk Alana yang auto mendapatkan geplakan kedua.
Tapi kali ini bukan dari Queensa, melainkan dari Selena yang langsung menatapnya dengan tajam, setajam lidah netizen plus enam dua.
Alana pun kembali menggerutu dengan bibir manyun, yang justru membuat dua gadis itu tertawa melihat ekspresi Alana yang terlihat lucu di mata mereka.
Akhirnya ketiga orang itu pun duduk dan mulai menyantap makanan yang Mbok Ijah siapkan untuk mereka.
*
Di sisi lain, Varo kini sedang berada di bawah guyuran shower kamar mandinya.
Sudah hampir dua jam Varo berada di kamar mandinya, namun dia masih belum juga usai dengan ritual bersih-bersihnya itu.
"Arrrgghh, sial! Kenapa gue jadi sial gini sih?!" Varo kembali menggosok tubuhnya dengan sabun untuk kesekian kalinya, bahkan kulitnya sudah keriput karena terlalu lama mandi.
Tapi bau sampah itu seolah sudah menutupi hidungnya, sehingga tubuhnya yang sebenarnya sudah tidak bau itu masih saja bau sampah menurutnya.
Mungkin karena dia terlalu lama berada di dalam bak sampah, dan mencium betapa wanginya tumpukan benda-benda terbuang itu sehingga hidungnya seolah sudah mati rasa.
Membuat hanya bau sampah saja yang masih terus tercium di indera penciumannya, membuat Varo benar-benar kesal bahkan dia sampai lupa jika ada seseorang yang menunggu kabar darinya.
Dan orang itu kini tengah mengamuk di kamarnya, bantal dan guling yang tidak bersalah pun menjadi sasaran pelampiasan amarahnya.
Sudah sejak tadi dia menunggu Varo mengejarnya dan menyusul dirinya ke rumah, atau setidaknya dia akan menelepon dan meminta maaf.
Namun nihil. Tak hanya Varo tidak menyusul dirinya, bahkan sebatas telepon atau pesan teks pun tak kunjung dia kirimkan. Dan hal itu membuat Mila semakin kesal dengan pacar barunya itu.
"Dasar cowok ngeselin! Masa telepon buat minta maaf aja enggak, cowok macem apa sih dia?!" Mila menghentak-hentakkan kakinya ke lantai karena kesal, namun sejurus kemudian teleponnya pun berdering dan dengan cepat Mila mengangkatnya dengan senyum mengembang di wajah cantiknya itu.
Namun setelah mendengar suara orang dari seberang sana, Mila pun menatap layar ponselnya dan mendengus kesal melihat nama yang tertera di sana bukanlah nama Varo melainkan nama yang sedang tak ingin ia dengar.
...*******...
...Jangan lupa like, komen, vote dan sumbangkan sedikit poin kalian ya guys.🙈...
...Dukungan kalian adalah hal terindah yang selalu membuatku bahagia.🤣...
...Novel yang satu ini novel ringan ya guys, jadi maklumin aja kalau alurnya memang agak lambat....
...Kalau kalian nyari yang konfliknya berat seberat beban hidup author, kalian salah tempat.🙊...