Queensa

Queensa
Queensa "69"



...Seperti biasa ya bestie......


...Tinggalkan like, komen, vote dan juga masukkan ke favorit! Jangan lupa🤭😘...


...***** Happy Reading Bestie *****...


Sontak saja semua orang di kelas itu tertawa terpingkal-pingkal melihat ekspresi wajah Varo yang tak pernah mereka lihat sebelumnya, ekspresi yang benar-benar sangat sulit dijelaskan.


Sedangkan Queensa hanya bisa merutuki kebodohan pria minus akhlak, minus otak dan masih banyak minus-minus lainnya itu karena malah mengatakan hal bodoh itu.


"Alvaro Graham, hukuman kamu Ibu tambah. Tidak hanya berdiri di depan kelas sampai pelajaran ibu selesai tapi sampai bel istirahat!" Bu Tia tersenyum penuh arti menatap Varo.


Ingin sekali dia marah, namun kemarahan yang berupa bentakan, kata kasar atau tindakan kekerasan tak mungkin ia lakukan.


Dan cara inilah yang menurutnya menjadi cara paling efektif untuk memberikan Varo hukuman.


Kemarahan bu Tia bukan lagi karena mengira Varo menyontek, melainkan karena Varo berani mengatainya mabuk congyang.


Benar-benar kesalahan yang tidak bisa diterima, oleh seorang guru.


Kenapa juga Varo tidak sekalian mengatainya mabok kecubung atau mabuk duda saja? Sama-sama mabok tapi lebih epic.


Varo yang mendapat tambahan hukuman lagi pun, memohon pada bu Tia dan mencoba membujuk sang guru.


"Bu Tia yang cantik, baik hati dan tidak sombong... tolong jangan tambahin hukuman saya dong bu..." pinta Varo dengan wajah penuh harap.


"Oke, hukuman kamu ibu ganti. Di ujian semester bulan depan, kamu harus dapat nilai kkm. Jika tidak, maka selama pelajaran ibu, kamu akan terus berdiri di depan kelas dengan posisi seperti itu, sampai kenaikan kelas."


Dan menyuruh Varo untuk mendapatkan nilai bagus, seperti menyuruhnya untuk mengangkat gunung dan membelah sungai, sangat mustahil.


Dia saja tak pernah serius belajar, bagaimana bisa dia mendapatkan nilai yang bagus? Tidak mendapatkan nilai telur naga saja sudah untung.


Belum usai keterkejutan Varo dengan hukuman bu Tia untuknya, yang layaknya vonis mati dari algojo itu, bu Tia sudah kembali mengatakan sesuatu yang membuat Varo lebih melongo lagi.


"Dan untukmu, Sasa. Kamu juga ibu hukum, dan hukuman kamu adalah membantu Varo untuk memperbaiki nilainya. Jika Varo gagal, maka kalian berdua akan mendapatkan hukuman yang sama."


Mata Queen membelalak lebar, seolah tengah mendengar sesuatu yang begitu mengerikan, bahkan lebih mengerikan daripada kematian.


"Tapi bu, saya kan nggak salah apa-apa. Varo juga tadi emang nggak lagi nyontek kan bu, terus kenapa saya juga di hukum?"


"Karena kamu menanggapi panggilan Varo. Seharusnya cukup kamu abaikan saja, mau dia itu melemparmu dengan kertas puisi, kertas daftar belanja, bahkan kertas bon hutang author sekalipun. Tapi kamu malah menanggapinya, padahal kalian sedang ulangan itu juga sebuah kesalahan."


Bagai tertimpa lonceng kuil yang besarnya segede gaban, Queensa langsung merasa kepalanya pusing, badannya lemas dan semangat hidupnya seolah menguap bersama separuh jiwanya.


...*******...


...Jangan lupa like, komen, vote dan sumbangkan sedikit poin kalian ya guys.🙈...


...Dukungan kalian adalah hal terindah yang selalu membuatku bahagia.🤣...


...Novel yang satu ini novel ringan ya guys, jadi maklumin aja kalau alurnya memang agak lambat....


...Kalau kalian nyari yang konfliknya berat seberat beban hidup author, kalian salah tempat.🙊...