
...Seperti biasa ya bestie......
...Tinggalkan like, komen, vote dan juga masukkan ke favorit! Jangan lupaðŸ¤ðŸ˜˜...
...***** Happy Reading Bestie *****...
Meski begitu, dia tetap selalu mengabarkan bagaimana kondisi Varo, pada Queensa, setiap saat. Meski gadis itu, tak menanyakan keadaan Varo, dia tetap akan memberitahunya.
Seperti saat ini. Dia tengah mengirim pesan teks pada Queensa, dan memberitahukan pada gadis itu tentang Varo yang semakin menggila.
"Queen, kalo urusan lo udah kelar, cepetan balik. Kasian si Al, dia udah mau stress tuh."
Begitulah isi pesan Alana pada Queensa, yang sama sekali tak mendapat balasan, sama seperti biasanya. Hanya tanda dua centang biru, yang menjadi saksi bisu.
Benar, sama seperti biasanya. Karena sejak Queen memutuskan menjauh darinya, dia tak pernah lagi menghubunginya.
Bahkan jika ingin keadaan Putri, bukan Queen yang meneleponnya, melainkan menyurus kakaknya, Dion untuk menelepon Alana menggunakan ponselnya.
Sangat jelas terlihat, betapa Queen sangat ingin menjauh darinya. Dan entah kenapa, itu membuat hati Alana terasa tersentil.
Ada rasa sakit yang entah kenapa datang secara tiba-tiba, seolah ingin memporak-porandakan hatinya.
"Woy Lan! Ngelamun aja lo. Bantuin kek ini, temen lo. Bawa ke psikiater sono! Kayaknya udah mulai gila nih anak," ujar Adam dengan lirikan sinis ke arah Varo.
Dugh!
"****** lo! Sakit, anjir!" seru Adam sambil mengelus tulang kakinya yang terasa ngilu, karena tendangan Varo yang tepat mengenai tulang keringnya.
"Udah berani lo marahin gue, setan?" Varo pun langsung memiting kepala Adam, dan melayangkan jitakan-jitakan manja di kepala sahabatnya itu.
Pemandangan itu membuat Alana dan Alvin hanya bisa terkekh geli. Ya... setidaknya Varo tidak lagi mondar-mandir seperti setrikaan rusak, seperti tadi.
Sedangkan Queen yang baru saja membaca pesan teks dari Alana, tampak menghembuskan nafas panjang.
Tapi Alana justru mengatakan jika Varo kelimpungan mencarinya karena merindukan dirinya dan juga khawatir padanya.
Tentu saja itu sesuatu yang impossible, alias tidak mungkin terjadi. Itulah yang Queen pikirkan, meski dia juga tak memungkiri jika dirinya juga sedikit merindukan Varo.
Bukan orangnya, maksudnya Queen merindukan segala tingkah konyol dan menyebalkan seorang Alvaro Graham. Karena dengan tidak adanya makhluk tampan minus akhlak itu, hari-harinya terasa sedikit sepi dan hampa.
"No, Queen. Sekarang yang harus lo pikirin cuma rencana lo, bukan cowok. Cowok itu racun dunia, Queen! Stop buat mikirin cowok. Lagian tanpa cowok lo juga bisa bahagia."
Queen kembali fokus untuk menjalankan rencana yanh sudah fia susun matang, bersama Dion dan juga Alex tentunya.
Di tempat lain...
Tok...
Tok...
Tok...
"Masuk," sahut seseorang yang tengah duduk di kursi kerjanya, dengan tangan yang memijat pelan pelipisnya.
"Permisi, bu Kirana. Para pemegang saham dan juga direktur lain sudah menunggu bu Kirana di ruang meeting," ujar Alex, begitu Kirana mempersilahkannya untuk masuk.
...*******...
...Jangan lupa like, komen, vote dan sumbangkan sedikit poin kalian ya guys.🙈...
...Dukungan kalian adalah hal terindah yang selalu membuatku bahagia.🤣...
...Novel yang satu ini novel ringan ya guys, jadi maklumin aja kalau alurnya memang agak lambat....
...Kalau kalian nyari yang konfliknya berat seberat beban hidup author, kalian salah tempat.🙊...