
...Seperti biasa ya bestie......
...Tinggalkan like, komen, vote dan juga masukkan ke favorit! Jangan lupaðŸ¤ðŸ˜˜...
...***** Happy Reading Bestie *****...
Tak terasa, mereka kini sudah sampai di mall yang mereka tuju. Sebuah bangunan megah yang menjulang tinggi, dengan ratusan bahkan ribuan manusia berjejal di dalam sana dengan tujuan masing-masing.
Queen turun dari atas motor dan segera melepas helmnya, tapi belum sempat dia melakukan hal itu Alana sudah lebih dulu menyambar tangan Queen dan menggantikan tugas milik tangan sang pujaan hati untuk melepaskan helm di kepalanya.
"Jangan sering-sering bersikap manis ke gue, Lan. Gue takut jatuh cinta sama lo." Queen bergumam dengan begitu lirih.
Alana menggandeng tangan Queen dan membawanya memasuki kawasan mall itu, dan Queen juga hanya mengekor saja di belakang Alana dan pasrah melihat tangannya di tarik oleh Alana.
Mereka berdua berjalan menuju eskalator, untuk naik ke lantai lima atau lantai dimana bioskop yang mereka tuju berada. Sepanjang jalan, Alana terus menggandeng tangan Queensa seolah dia sangat takut kehilangan sosok gadis cantik itu.
Sesampainya di sana, Alana pun meminta Queen untuk duduk dan menunggu dirinya akan antri membeli tiket lebih dulu.
"Lo tunggu dulu di sini, gue mau beli tiketnya dulu." Kata Alana sebelum dirinya meninggalkan Queensa dan ikut mengantri di tempat pembelian tiket.
Queen pun hanya mengangguk mengiyakan. Dia menatap punggung Alana yang tengah berjalan menuju tempat pembelian tiket, senyum manis hambar tersungging di wajah cantiknya. "Gue takut Lan, gue masih takut buat buka hati gue lagi. Masih sulit buat gue bisa percaya lagi sama cowok."
Queen bukanlah gadis polos yang bodoh, yang tidak menyadari gelagat Alana dan sikap manis serta perhatian yang selalu berusaha pria itu curahkan padanya.
Dia tau, tapi entah kenapa dia lebih memilih untuk pura-pura bodoh dan tidak tau.
Dia lebih memilih untuk menerima dan menikmati setiap perhatian besar dan kecil yang Alana berikan padanya, tanpa adanya ikatan dan komitmen.
Setidaknya mungkin itu bisa mengurangi rasa sakit, jika saja semua berjalan tak sesuai ekspektasi dan harapan karena memang tak ada janji manis dan komitmen yang mereka bangun sebelumnya.
Entahlah darimana Queen bisa memiliki pemikiran seperti itu. Tapi mungkin saja pemikiran gila yang terdengar aneh itu, muncul karena sudah terlalu banyak luka yang dia dapatkan dari kata-kata manis berkedok janji dan komitmen itu.
Terlalu banyak luka, duka dan lara membuat hati mati rasa. Mungkin ungkapan itulah yang cocok untuk Queensa, meskipun sebenarnya hatinya tidak benar-benar mati rasa.
Dia hanya berusaha untuk tidak membawa setiap hal yang dialaminya dengan perasaan, agar tidak kembali menggores luka di hatinya atau menaburkan garam pada lukanya yang sudah menganga.
Tiba-tiba saja Queen dikejutkan dengan sebuah tepukan dibahunya, yang seketika itu juga langsung membuyarkan semua lamunanya dan menarik paksa jiwa dan pikirannya kembali ke alam nyata.
...*******...
...Jangan lupa like, komen, vote dan sumbangkan sedikit poin kalian ya guys.🙈...
...Dukungan kalian adalah hal terindah yang selalu membuatku bahagia.🤣...
...Novel yang satu ini novel ringan ya guys, jadi maklumin aja kalau alurnya memang agak lambat....
...Kalau kalian nyari yang konfliknya berat seberat beban hidup author, kalian salah tempat.🙊...