
Karena sebuah hubungan yang diawali oleh kebohongan, tak akan pernah berakhir dengan baik. Dan sebuah hubungan tanpa landasan kepercayaan, pasti akan berakhir dengan kehancuran.
"Dia calon suami gue, puas lo!?" seru Queensa balik, karena rasa kecewanya pada Varo.
Bagaimana bisa, Varo semudah itu percaya pada sebuah foto dan menganggapnya sebagai wanita murahan.
Tidak! Queen tidak terima hal itu, dan itulah alasan kenapa dia mengakui Dominic sebagai calon suaminya.
Sedangkan Varo yang mendengar Queen berteriak kearahnya pun, hanya bisa terdiam. Selain terkejut dengan Queen yang mengubah panggilan untuk dirinya, juga dia terkejut dengan jawaban Queensa yang mengakui pria yang bersamanya di dalam foto itu adalah calon suaminya.
"Sekarang lo udah tau kan, alesan kenapa lo nggak bisa maksa gue buat jadi pacar lo!" Tanpa menunggu jawaban dari Varo, Queen memilih keluar dari cafe itu.
Dia tak mau menjadi pusat perhatian para pengunjung lain di sana, lebih lama lagi. Pasalnya, semua mata memang sudah tertuju pada mereka sejak awal perdebatan itu terjadi.
Varo hendak menggapai lengan Queen yang berjalan meninggalkannya, namun akhirnya dia urung dan menarik kembali tangannya.
Queen menaiki skutiknya dan melaju dengan kecepatan penuh.
"Aaaaarrrggghhh!" Queen berteriak sekuat tenaga, tanpa menghentikan laju kendaraannya.
Sesekali ia menengadahkan kepalanya, agar air mata yang sudah menggenang di pelupuk matanya tak mengalir keluar dari peraduannya.
Untungnya, saat ini jalanan sedang lengang, sehingga hanya ada beberapa pengendara saja yang mendengar teriakan Queen dan menoleh sekilas.
*
Queen pun akhirnya sampai di rumahnya.
Dengan langkah gontai, ia menapakkan kaki menuju kamarnya untuk menenangkan diri.
Namun sebuah seruan menghentikan langkah kakinya, dan ternyata suara itu adalah milik Dion.
"Dek, lo kenapa dah? Lemes banget keknya, bukannya harusnya lo seneng ya karena gak perlu nyamar lagi ke sekolah?" tanya Dion dengan entengnya, seolah bukan dia penyebab dari semua kekacauan ini.
Queen menghembuskan nafas pasrah kemudian tersenyum kaku kearah Dion, yang justru membuat Dion bergidik ngeri dengan bulu kuduk yang berdiri.
"Dek dek udah, jangan senyum. Serem banget tau nggak?"
Tanpa repot menjawab ucapan Dion, Queen kembali melangkahkan kakinya. Namun ucapan Dion membuat Queen urung untuk masuk ke kamarnya dan kembali ke lantai bawah, menghampiri sang kakak.
"Tadi om Alex dateng. Dia nanyain soal rencana lo buat bikin para pemegang saham itu, percaya sama lo dan ngedukung lo."
Queen mendudukkan diri di samping Dion, "Bilang aja kalau gue udah atur semuanya. Tinggal tunggu aja tanggal mainnya."
Dion meraup kasar wajahnya, "Masalahnya lo udah ngelupain jadwal meeting hari ini, dek..."
Queen membelalak kaget dan menepuk jidatnya, "Astaga! Iya, gue lupa."
"Tenang dulu. Om Alex udah atur ulang jadwal meetingnya jadi besok pagi, tapi lo haruda dateng. Jangan sampe tuh pak tua pak tua pada kecewa sama kinerja lo."
Queen pun berdiri dari duduknya dan segera berlalu menuju kamarnya, untuk membersihkan diri dan istirahat tentu saja.
Sedangkan Dion hanya menatap punggung sang adik dengan iba, "Andai aja otak gue ini se encer otak lo, dek. Gue yang bakal ambil alih beban lo. Tapi sayangnya otak abang lo ini masih kalah sama otak lo."
Meski memang begitu adanya, tapi Dion juga tidak lantas berdiam diri dan berpangku tangan. Dia juga mempelajari seluk beluk bisnis dan manajemen perusahaan, karena setelah Queen sukses mengambil alih Abraham Group nantinya, dialah yang akan mewakili Queen untuk mengurus perusahaan itu, karena Queen yang masih SMA dan masih harus sekolah.
Beda dengannya yang sudah kuliah, sehingga dia bisa mengatur jadwalnya agar tak saling bertabrakan.
*
Keesokan harinya.
"ini berkas-berkas yang perlu di tinjau. Ada banyak kekacauan yang di tinggalin oleh Kirana."
Queen membolak-balikkan dokumen itu, "Bener-bener tidak tau diri. Sudah mencuri uang perusahaan, masih saja meninggalkan masalah."
"Lebih baik sekarang kita pergi ke ruang rapat."
Queen mengangguk dan berjalan menuju ruang rapat, dengan langkah tegap dan penuh percaya diri.
Dia mengesampingkan masalahnya, dan memilih untuk fokus pada apa yang yang lebih penting untuknya, saat ini.
Queen duduk di kursi utama. Ada sekitar 20 orang yang berada di dalam ruangan itu.
"Saya yakin kalian semua sudah tau apa yang terjadi kemarin. Dan seperti yang kalian tahu juga, berdasarkan hasil rundingan para pemegang saham dan juga dewan direksi, mulai saat ini saya yang akan mengisi posisi CEO di Abraham Grup. Dan saya akan melakukan yang terbaik untuk memenuhi tugas dan kewajiban saya. Tapi sebelum itu, saya juga minta pada kalian untuk bisa bekerja sama dengan baik di bawah komando saya. Kalian pasti banyak yang ragu pada kemampuan saya. Tapi saya hanya butuh satu kesempatan, untuk membuktikan kalau usia tidak bisa menentukan keahlian seseorang."
Orang-orang di ruang rapat hanya bisa mengangguk setuju, karena mereka tidak memiliki hak untuk berbicara, apalagi menentang keputusan Queensa.
"Siapa ketua tim perencanaan?"
Seorang wanita paruh baya mengangkat tangannya, "Saya."
Queen menatap ID karyawan yang tergantung di dadanya, "Nia, segera kirimkan laporan perencanaan terbaru yang kalian susun."
Nia mengangguk, "Iya, bu."
Queen teringat sesuatu, “Siapa manajer personalia di sini?"
Seorang laki-laki berkaca mata mengangkat tangannya, "Saya."
Queen mengangguk, "Posisi beberapa orang yang saya pecat sebelumnya sudah kosong. Saya minta, kamu hubungi orang-orang yang dulu pernah bekerja di bawah papa saya. Dan atur mereka kembali untuk mengisi posisi itu.”
"Baik, bu."
Sejak Kirana masuk ke Abraham Grup, beberapa orang-orang yang setia pada ayah Queensa, mulai di bersihkan karena mereka menolak untuk bekerja sama dengannya. Tapi kali ini roda telah berputar kembali, dan Queem harus mengembalikan situasi seperti sedia kala.