
...Seperti biasa ya bestie......
...Tinggalkan like, komen, vote dan juga masukkan ke favorit! Jangan lupaðŸ¤ðŸ˜˜...
...***** Happy Reading Bestie *****...
Queen pun menghela nafas kasar dan menatap ke arah luar kaca jendela mobil kakaknya itu, "Ya gue masih pengen aja jadi Sasa, bukan Queensa. Jujur aja gue lelah sama kehidupan kita yang jadi berantakan gini gara-gara duo lampir itu bang, tapi kan lo juga tau kalau ayah nggak pernah mau dengerin omongan kita soal kebusukan lampir itu."
Dion pun ikut menghela nafas panjang, mendengar penjelasan Queen.
Tapi dia sendiri juga tidak tau apa yang harus dia lakukan, kecuali...
"Ah iya dek, gue ada ide." Sontak saja Queensa langsung menoleh pada Dion dengan wajah penuh harap, "Gue bisa masuk ke perusahaan ayah buat cari bukti, karena gue yakin dia itu cuma mau harta dan semua surat-surat berharga kan ada di kantor ayah. Gimana?"
Queen tampak menimbang-nimbang ucapan Dion tentang idenya yang akan memasuki perusahaan ayahnya, namun sepertinya memang itulah cara yang paling aman untuk mereka pilih saat ini.
Mereka tau jika musuh mereka bukanlah orang sembarangan melainkan seorang iblis berwujud manusia, karena Queen pernah tanpa sengaja mendengar percakapan ibu tirinya dengan seseorang di seberang telepon.
Dan ibu tirinya itu meminta orang suruhannya untuk menghabisi nyawa seseorang, dengan menjanjikan imbalan yang besar.
Mempunyai hubungan dengan seorang pembunuh yang sepertinya sudah berpengalaman atau mungkin memang itulah pekerjaannya, tentu saja membuat Queen dan Dion harus lebih berhati-hati lagi dalam menghadapi ibu tiri mereka.
Itulah kenapa keduanya selalu bertindak seenaknya di rumah, membuat ibu tiri mereka berpikir jika mereka hanyalah anak berandalan yang pembangkang dan tidak bisa apa-apa.
Membuat lawan melonggarkan kewaspadaannya dan menghabisi mereka dalam satu serangan, pastinya adalah cara yang paling baik dan cantik pastinya.
"Tapi gimana sama kuliah lo kalau lo harus masuk ke kantor ayah?" tanya Queen yang baru ingat dengan pendidikan sang kakak yang sudah hampir selesai, tinggal beberapa bulan lagi tepatnya.
"Gampang itu mah, gue kan anak bos." Don menaikturunkan alisnya sambil melirik sekilas pada Queensa, namun matanya kembali fokus lagi pada jalanan yang mereka lalui, "Gue kan nggak harus masuk tiap hari, ayah pasti ngerti kok. Lagian kan dia sendiri yang sempet maksa gue buat masuk ke perusahaan?"
Queen sempat berpikir sejenak, dan dia pun ingat kalau memang ayah mereka pernah memaksa Dion untuk belajar manajemen bisnis dan masuk ke perusahaan ayahnya untuk belajar secara langsung.
Namun Dion yang kala itu masih menjalani masa-masa pubertas, tentu saja dia tidak menginginkannya. Dia lebih memilih untuk menjalani kuliahnya dengan tenang, tanpa harus dipusingkan dengan urusan pekerjaan.
Lagipula dia memang tidak terlalu berminat pada dunia bisnis dan lebih menyukai dunia seni, seperti seni musik, melukis dan lain sebagainya.
...*******...
...Jangan lupa like, komen, vote dan sumbangkan sedikit poin kalian ya guys.🙈...
...Dukungan kalian adalah hal terindah yang selalu membuatku bahagia.🤣...
...Novel yang satu ini novel ringan ya guys, jadi maklumin aja kalau alurnya memang agak lambat....
...Kalau kalian nyari yang konfliknya berat seberat beban hidup author, kalian salah tempat.🙊...