
"Hah, mana ada? Aku baru saja memuji ketampananmu, tau!" Lea menyangkal ucapan Dominic, dengan bibir yang mencebik kesal, "Untung saja kamu ganteng, kalau nggak... udah ku sentil balik ginjalmu itu," ujar Lea.
Dominic menggelengkan kepalanya, "Ternyata kau lebih sadis daripada Baby Queen."
Tanpa menunggu jawaban dari Lea, Dominic segera melanjutkan langkahnya meninggalkan sirkuit, karena orang yang menjadi tujuannya untuk datang ke tempat itu juga sudah tidak ada di sana.
"Eh eh eh tunggu dulu!" Lea menahan tahan Dominic, "Boleh minta nomor ponselmu?"
Dominic mengerutkan keningnya dan menatap Lea dengan heran. Menurut Dominic, Lea ini tipe yang terlalu aktif dan sedikit... unik.
Biasanya, para wanita yang mencoba mendekatinya selalu menggunakan cara yang ekstrem. Maklumlah, karena Dominic tinggal di luar negeri jadi di sana sedikit bebas.
Sehingga sudah tak heran lagi jika Dominic menemui wanita yang rela memberikan tubuhnya, hanya untuk bisa dekat dengannya.
"Maaf bocah kecil, aku sudah punya calon istri." Dominic mengedipkan sebelah matanya ke arah Lea.
Lea yang mendengar hal itu pun bingung. Jika memang dia sudah punya calon istri, kenapa dia masih se dekat itu dengan Queen?
"Apa mungkin..." Lea menutup mulutnya, karena dia berpikir jika calon istri yang dimaksud oleh Dominic itu tidak lain adalah Queensa, "Ya ampun... sial banget sih nasib gue. Baru juga mau berjuang, tapi malah udsh di tenggelamin ke dasar laut." Lea memandang punggung Dominic yang sudah pergi menjauh, dengan tatapan kecewa.
Sedangkan Queensa, saat ini tengah memacu motornya dengan kecepatan penuh. Maklumlah, kecepatan penuh si skutik alias skuter antik milik Queen itu, tak lebih dari seperempat kecepatan motor sport miliknya.
"Argh... dasar motor sialan! Liat saja besok, lo bakalan gue bawa ke museum." Queen yang kesal karena motornya pun, terus saja mengumpat sepanjang jalan.
Dia ingin segera sampai ke markas A4, karena dia yakin jika Varo pasti berada di sana. Dia sudah bertekad untuk mendapatkan maaf dari Varo, apapun cara dan resikonya.
Terlebih Queen mengingat jika Varo menyatakan cinta padanya, di saat dia masih dengan status Sasa, si gadis cupu yang jauh dari kata menarik.
Tak seperti Alana yang sudah sejak awal mengetahui jati dirinya, dan bahkan juga menyakitinya dengan kenyataan, jika dia hanya dijadikan sebagai pengganti dari Putri, saudari kembarnya.
Tapi tenang saja, Queen sudah tak ingin memikirkan soal Alana dan Putri lagi. Karena kini dia tau, siapa orang yang benar-benar tulus mencintainya.
Si Biang sial yang selalu sukses membuatnya kesal, tapi juga tanpa ia sadari, Varo lah orang yang ada saat dia membutuhkannya.
*
Tok...
Tok...
Tok...
Queen mengetuk pintu mansion itu dengan kuat, karena sudah sejak tadi dia berdiri di sana, namun si pemilik tak kunjung membuka pintunya.
Bukan karena tak ada di rumah pastinya, karena jelas-jelas motor Varo sudah terparkir di halaman.
"Var... buka pintunya, gue mau ngomong sama lo. Gue mau jelasin semuanya!" Queen terus berteriak memanggil Varo, tanpa menghentikan ketukan tangannya di pintu mansion itu.
Sedangkan Varo, kini tengah mengintip dari jendela kamarnya, yang mengarah ke halaman.
"Ntar juga kalo capek, lo bakal pergi kan?" Begitulah pikir Varo, karena kini dia tau siapa gadis yang sudah sukses merebut hatinya itu.
Dia yakin jika seorang Queensa Abraham, tak akan mau merendahkan dirinya lebih dari ini, hanya untuk mendapatkan maaf darinya.
Tapi tentu saja, pikiran Varo itu salah besar. Karena hingga hari menjelang sore, Queen masih berada di depan mansionnya dengan sesekali memanggil nama Varo dan berkata jika dirinya ingin meminta maaf dan menjelaskan semuanya.
"Gila kali ya tu cewek! Nggak capek apa dari tadi berdiri di situ mulu, sambil teriak," gumam Varo yang lupa, jika dirinya sendiri saja tidak beranjak sedikitpun dari sana hanya untuk melihat Queensa.
Hingga akhirnya, trio somplak yang baru pulang dari sekolah pun datang dan mereka mengerutkan keningnya saat melihat Queen yang berdiri di depan pintu markas mereka.
"Woy Sasa, Queensa atau siapa lah itu! Lo ngapain di sini? Kenapa nggak masuk?" tanya Adam dengan bodohnya.
Alvin yang kesal dengan pertanyaan Adam pada Queen pun, menoyor kepala Adam dengan kuat, membuat Adam mengaduh.
"Anjir, lo ngapain noyor pala gue? Gini-gini nih pala di firahin, ege!"
Alvin menggelengkan kepalanya, "Lo yang bodoh, ngab! Lo kayak nggak tau aja, si Al kalau lagi ngambek kan kayak bocah. Mana mau dia langsung maafin orang gitu aja," ujarnya.
Queen yang sudah kesal karena tak kunjung melihat Varo membuka pintu, kini bertambah kesal karena kedatangan trio somplak.
Yang satu adalah orang yang menempati peringkat pertama, di daftar pria yang paling tak ingin dia temui. Dan yang dua lagi adalah biang berisik, yang membuat kepalanya semakin sakit.
Karena tak tahan dengan hal itu, Queen pun memilih pergi meninggalkan markas A4 tanpa sepatah kata pun terucap dari mulutnya, membuat dua pria tampan itu saling berpandangan dan mengangkat bahu mereka bersamaan.
Sedangkan Alana yang melihat Queen tak sudi menatapnya, hanya bisa berucap dalm hati, "Segitunya lo benci sama gue, Queen? Sampe-sampe ngeliat muka gue aja lo nggak mau."
Plak!
Alana memegang pundaknya yang terasa panas akibat gepalakan tangan Adam, "Lo apa-apaan sih, Dam?"
"Lo yang ngapain ngelamun? Ayo masuk!"
Namun, saat mereka bertiga baru saja masuk ke dalam mansion, wajah kesal seorang Varo sudah menyambut kedatangan mereka.
"Anjim!" seru Adam yang terkejut, sampai dirinya terlonjak kaget.
"Ya ampun, Al... lo ngapain ngagetin kita sih?" tanya Alana.
Namun, Varo tak menjawab pertanyaan itu dan memilih berlalu pergi meninggalkan trio somplak yang tentu saja bingung dengan sikap Varo.
Varo berjalan kembali ke kamarnya dan menutup pintu dengan keras, "Dasar temen lucknut!" batin Varo yang ternyata kesal, karena melihat bagaimana cara Alana menatap Queensa.
Dia berjalan ke arah ranjangnya, sambil mengusap kasar wajahnya. Varo melemparkan tubuhnya ke atas ranjang.
Kemudian dia mencengkeram bantal miliknya sambil berkata, "Lo juga! Buat apa sih lo masih gangguin gue?! Kenapa lo malah joget-joget di otak gue, hah!? Lo seneng karena udah berhasil bikin gue sakit hati!?"
Hingga sesaat kemudian, ponsel Varo pun berdering menandakan adanya telepon masuk, dari seseorang.