Queensa

Queensa
Queensa "225"



...Seperti biasa ya bestie......


...Tinggalkan like, komen, vote dan juga masukkan ke favorit! Jangan lupa🤭😘...


...***** Happy Reading Bestie *****...


Tapi yang dia yakini, ibunya menikah bukan karena cinta, dan itulah yang membuat Rena tak menyukai perilaku ibunya itu.


"Ayah... ayah lagi apa di sana? Rena kangen sama Ayah. Rena pengen nyusulin Ayah ke surga, Rena bosen hidup kayak gini terus Yah... Rena capek."


Air mata yang sudah menumpuk di pelupuk mata Rena pun, akhirnya jatuh dan meluruh tanpa permisi, membasahi pipi gadis malang yang tengah mendekap erat bingkai foto mendiang Ayahnya itu.


Bersamaan dengan derai air mata yang mengalir membawa kesedihan mendalam bagi Rena, di saat itu pula, Queen yang tadi sengaja mengikuti Rena ke kamarnya dan mendengar segala ucapan Rena juga ikut menitikkan air matanya tanpa dia sadari.


"Apa iya, gue yang udah salah nilai dia selama ini?" batin Queen sambil mengusap air mata di pipinya, dan segera berlalu pergi dari sana untuk kembali ke dapur. "Mbok... mbok Ijah..." panggil Queen sambil celingukan mencari keberadaan mbok Ijah.


Dan dari arah ruang cuci, wanita paruh baya itu tampak berlari menghampiri Queesa.


"Non, ada apa nyariin simbok?" tanyanya dengab nafas yang masih naik turun.


"Mau minta tolong buat dibikinin makanan," ujar Queensa sambil nyengir kuda, karena sudah membuat mbok Ijah harus berlarian menghampirinya. "Tapi tolong di taruh di rantang sekalian ya mbok, soalnya mau Queen kasih buat temen yang lagi sakit."


"Owalah ya ampun, non... kirain teh non butuh sesuatu yang penting, makanya mbok buru-buru dateng sampe lari kayak dikejar jurig."


Queen hanya bisa terkekeh geli mendengar penuturan mbok Ijah, pembantu rumah tangga uang sudah mengabdi pada keluarganya sejak belasan tahun yang lalu, tepatnya sejak Queensa dilahirkan karena memang ibunda Queen mempekerjakan mbok Ijah untuk membantu merawatnya.


Mbok Ijah pun segera menyiapkan makanan yang Queen minta, sedangkan Queen juga bergegas untuk merias dirinya dan berubah menjadi Sasa karena uang akan dia temui adalah Varo yang hanya mengenal Sasa, bukan Queensa.


*


Di sisi lain, Alana baru saja sampai di depan ruangan rawat yang Putri tempati, namun tadi seorang perawat sempat memberitahunya jika Putri sempat mengalami demam tinggi dan mengigau hinhga terus menerus memanggil nama Alana.


Aalana masih terdiam mematung di depan pintu kamar rawat Putri dengan raut wajah sendu, "Kenapa? Kenapa lo manggil nama gue, Put? Apa lo merasa bersalah karena udah nyakitin gue?"


Alana tersenyum miris menertawakan dirinya sendiri, menertawakan nasib tragisnya yang harus ditinggal pergi oleh satu-satunya orang yang dia pikir tak akan pernah meninggalkannya.


Setelah menguatkan hatinya, Alana pun membuka pintu itu dan berjalan perlahan menghampiri ranjang, tempat Putri tengah terbaring lemah dengan wajah cantiknya yang tampak pucat.


...*******...


...Jangan lupa like, komen, vote dan sumbangkan sedikit poin kalian ya guys.🙈...


...Dukungan kalian adalah hal terindah yang selalu membuatku bahagia.🤣...


...Novel yang satu ini novel ringan ya guys, jadi maklumin aja kalau alurnya memang agak lambat....


...Kalau kalian nyari yang konfliknya berat seberat beban hidup author, kalian salah tempat.🙊...