Queensa

Queensa
Queensa "88"



...Seperti biasa ya bestie......


...Tinggalkan like, komen, vote dan juga masukkan ke favorit! Jangan lupa🤭😘...


...***** Happy Reading Bestie *****...


"Apa kalian tidak pernah memikirkan perjuangan orang tua kalian yang bekerja keras, demi bisa menyekolahkan kalian!? Apa kalian tidak bisa menghargai perjuangan mereka!? Apa ini balasan yang mereka dapatkan dari kalian semua!? Kalian benar-benar mengecewakan, tidak bisa di atur, memang tepat kalian memberi nama kelas ini! Kelas ini benar-benar SESAT!"


Semua siswa sontak saja serentak menjawab dalam hati dengan sangat kompak, seolah mereka memiliki telepati.


"Ya emang kelas ini kan Sesat, sebelas sosial satu."


*


Akhirnya dua jam mata pelajaran yang terasa bagai dua tahun bagi para murid kelas sesat itu pun berakhir, dan membuat semuanya auto bersorak lega setelah bapak Jaim yang terhormat itu keluar dari kelas mereka.


"Finally..." Beberapa di antara para siswa ada yang merenggangkan otot-otot mereka yang terasa kaku, ada juga yang tak henti-hentinya mengumpati kesialan mereka.


Namun yang paling banyak adalah mereka menyalahkan Queensa yang menurut mereka adalah penyebab utama mereka harus mendengarkan ceramah pagi itu.


"Semua ini gara-gara si cupu tuh! Gara-gara lo kita semua jadi kena ceramah, gendang telinga gue sampe hampir ancur tau nggak sih!"


Setelah celetukan itu, kembali terdengar beberapa umpatan yang tujuannya sama, yaitu menyalahkan Queensa.


Sedangkan Queen hanya bisa menarik nafas dan membuangnya perlahan, menetralkan rasa sesak di hatinya karena menahan amarah yang tak dapat dia salurkan.


Namun seketika itu mereka bungkam, kala Alana menggebrak mejanya dengan kuat dan berdiri dari kursinya.


Alana menghampiri siswa yang mengeluarkan celetukan pertama kali tadi, kemudian memegang kerah seragamnya dan melayangkan cacian dengan wajah yang seperti siap menelan orang itu hidup-hidup.


Merasa di hina dan dipermalukan, siswa itu pun membalas dengan memberanikan diri, "Ngapain lo belain dia? Lo suka sama si cupu?" tanyanya dengan senyum sinis di wajahnya.


Siswa itu bernama Vino, dia juga merupakan seorang siswa badung, meskipun tidak separah Varo dan gengnya. Tapi tetap saja dia tidak terima di hina dan dipermalukan oleh Alana, yang notabene hanyalah bawahan Varo dimatanya.


"Kalo iya kenapa, masalah buat lo!?"


Jawaban Alana sontak saja membuat seluruh murid di kelas itu terkejut bukan main, tak terkecuali ketiga sahabatnya dan juga Queensa yang menjadi topik pembicaraan keduanya.


Berbagai bisikan mulai riuh terdengar dan membuat Queensa muak, hingga dia berdiri dan menghampiri Alana untuk menenangkannya.


"Ikut aku." Queen membawa Alana yang masih terbakar amarah ke rooftop, tempat dimana dia biasa meluapkan segala unek-unek dan beban pikirannya di sekolah lama dan kini akan ia lakukan juga di sekolah barunya ini.


*


Sesampainya di rooftop, Alana dan Queensa berdiri di tepi pembatas dan menghadap ke arah pemandangan hirup pikuk kota. Semua yang terlihat dari atas sana, terasa begitu kecil bagi keduanya.


...*******...


...Jangan lupa like, komen, vote dan sumbangkan sedikit poin kalian ya guys.🙈...


...Dukungan kalian adalah hal terindah yang selalu membuatku bahagia.🤣...


...Novel yang satu ini novel ringan ya guys, jadi maklumin aja kalau alurnya memang agak lambat....


...Kalau kalian nyari yang konfliknya berat seberat beban hidup author, kalian salah tempat.🙊...