Queensa

Queensa
Queensa "106"



...Seperti biasa ya bestie......


...Tinggalkan like, komen, vote dan juga masukkan ke favorit! Jangan lupa🤭😘...


...***** Happy Reading Bestie *****...


Semua murid pun mulai membereskan alat tulis mereka dengan senang hati, dan bergegas untuk pulang. Capek pikiran, capek badan, dan capek hati dirasakan oleh semua murid di kelas itu.


Bagaiman tidak, sepanjang pelajaran para guru terus saja bergantian memarahi Selena, Alana, dan juga Varo karena melihat mereka yang entah melamun, tidur, atau bahkan senyum-senyum sendiri seperti orang kurang waras.


Yang jelas, mereka bertiga tampak tidak fokus pada pelajaran hari ini, dan bukan hanya di satu mapel melainkan di semua mapel yang terjadwal hari ini.


Benar-benar musibah berat yang menimpa kelas Sesat itu.


Namun ketiga biang keladi yang membuat kelas itu berubah menjadi pengajian dadakan dengan adanya berbagai macam khotbah dan tausiyah, justru bersikap biasa saja seolah bukan mereka yang membuat penghuni lain di kelas itu kesal.


*


"Ayok Lan, buruan. Gue nebeng lo boleh kan? Kelamaan kalo gue harus nunggu supir jemput." Panggil Selena pada Alana setelah dia selesai membereskan alat tulis, yang bahkan tidak dia gunakan sebagaimana mestinya seharian ini.


Pasalnya, buku-buku itu hanya dia jadikan sebagai tameng demi menyembunyikan dirinya yang tengah memikirkan Dion. Dia jugalah orang yang sering senyam-senyum sendiri sepanjang kegiatan belajar mengajar berlangsung, karena di otaknya hanya terukir satu kata yaitu Dion.


Tak berbeda nasib dengan buku-buku milik Selena, pensil dan pulpen pun menjadi beralih fungsi.


Bukannya digunakan untuk menulis materi yang guru jelaskan, justru digunakan oleh Selena untuk menuliskan nama Dion di bukunya bahkan sampai satu halaman penuh.


Terkadang juga pulpen itu menjadi korban gigitan gemas dari Selena, saat mengkhayalkan pangeran berkuda putihnya.


"Ya udah yok buruan."


"Ya ampun... pantesan aja lama." Alana langsung menyambar kepala Selena dan mengancingkan helmnya.


Selana hanya bisa tertawa malu-malu, karena dirinya jadi terlihat bodoh dihadapan Alana. Bagaimana bisa seorang Selena mengenakan helm, jika dia saja bahkan tak pernah diijinkan untuk menaiki kendaraan beroda dua itu oleh sang ayah.


Tidak mungkin juga bagi Selena untuk mengenakan helm saat menaiki mobilnya, itu gila namanya.


"Berangkat!" Selena menepuk pundak Alana, sesaat setalah kendaraan itu melaju.


"Enak aja main tepuk-tepuk, lo kira gue nyamuk?" ketus Alana kesal, namun hanya dibalas dengan kekehan tawa dari Selana.


Dia sama sekali tidak memiliki mood untuk marah-marah hari ini, karena khusus untuk hari ini, hanya ada kata bahagia dalam kamus Selena.


Berbanding terbalik dengan suasana hati Alana yang sangat buruk, karena ketidak hadiran Queensa dan juga pikiran-pikiran buruknya tentang keadaan Queensa saat ini.


Tadi saat jam istirahat tiba dan dia sedang berada di rooftop bersama trio sengklek, dia sempat mencoba menelepon Queen beberapa kali.


...*******...


...Jangan lupa like, komen, vote dan sumbangkan sedikit poin kalian ya guys.🙈...


...Dukungan kalian adalah hal terindah yang selalu membuatku bahagia.🤣...


...Novel yang satu ini novel ringan ya guys, jadi maklumin aja kalau alurnya memang agak lambat....


...Kalau kalian nyari yang konfliknya berat seberat beban hidup author, kalian salah tempat.🙊...